Senin, 07 Maret 2011

Diklat Harian Umum Haluan Dimulai

Padang, Haluan - program pelatihan jurnalistik harian umum Haluan angkatan pertama, yang bertemakan menciptakan jurnalis yang berkwalitas dan proesional untuk pertama kalinya digelar secara resmi di kantor redaksi harian haluan komplek bandara tabing, jl hamka padang senin (21/2). acara ini di hadiri oleh konsultan pengembangan media H. Hasril Chaniago, dan beberapa Dewan Redaksi H. Fachrul Rasyid, Syamsu Rizal. Kegiatan pelatihan ini dimulai tepat jam 9:05 wib dan berakhir jam 12:45 wib dengan dihadiri 30 orang peserta yang berasal dari beberapa kampus yang ada di Sumatra barat.
Pelatihan di sponsori oleh haluan media grup sebagai menagemen baru harian umum haluan, target yang akan dicapai dalam pelatihan ini adalah mencetak tenaga wartawan handal dalam dunia jurnalistik dengan maksud akan lahir para jurnalis-jurnalis yang memiliki kompetensi dalam bidangnya sehingga mampu memberikan pencerahan pada masyarakat, ini sesuai dengan moto haluan sendiri “harian umum haluan mencerdaskan kehidupan masyarakat”.
Syamsu rizal sebagai tim kerja redaksi harian umum haluan merangkap sebagai pembimbing peserta diklat menjadi pemandu acara ini hingga selesai, sebagai pembicara pertama dilakoni oleh dewan redaksi H. Fachrul Rasyid yang telah malang melintang dalam dunia jurnanlis pernah bersama Koran tempo dan gatra di Jakarta. Pelatihan perdana ini berlangsung santai dengan metode sharing. Kejeniusan Fachrur Rasyid tanpak jelas dari uaraian yang ia berikan kepada peserta pelatihan, sebagamana ia begitu gamlangnya mengurai angka-angka penduduk sumtera barat sampai jumlah professor yang ada di daerah tersebut dengan menghubungkannya dengan apa dampak terhadap masyarakat. Ia juga mengulas bagaimana muliannya profesi sebagai seorang wartawan sebagai penghubung antara pemerintah dan masyarakat “ wartawan adalah wakil rakyat tanpa denwan” ungkapnya. Bapak asril chaniago yang datang beberapa saat kemudian menjadi pemateri kedua, dengan pengalamannya yang segudang dalam dunia jurnalistik ia berbagi pengalaman dengan peserta diklat, ia memulai dengan kalimat yang sederhana tapi memiliki sejuta makna “mana yang lebih penting ijazah atau keterampilan” unkapnya. Pertanyaan tersebut membuat 32 orang yang menjadi peserta diklat terdiam, ada yang menjawab ijazah lebih penting karena disatu sisi sebuah formalitas juga menentukan peluang seseorang, sebagain peserta diklat juga berpendapat keterampilan lebih penting karna sebuah ijazah tidak akan berguna tampa adanya kompetensi dalam bidang tersebut, bapak hasril menjawab dengan jawaban yang singkat “coba saudara lihat basrizal koto, sekarang mana yang lebih penting?” jawabnya. Diolog yang terjadi sangat menarik dan hangat.
Menjelang zuhur pemeteri beralih pada bapak Yurnaldi, seorang tokoh pers nasional yang yang kenyang manis pahitnya menjadi wartawan di majalah kompas, dibawah managemen baru haluan media grup wartawan senior ini diboyong dari harian kompas dan berlabuh di harian umum haluan, beliua memaparkan ilmu yang ia miliki dengan bahasa yang singkat, hampir labih kurang empat puluh lima menit berbicara banyak statmen menarik yang dilontarkanya “ sebagai seorang wartawan harus memiliki keberanian menggugat kreatif dan memiliki kemampuan bahasa yang baik” salah satu ucapan yang ia sampaikan
Acara berakhir jam 12:45 seiring ucapan salam dari pembimbing peserta diklat Syamsu rizal dan dilanjutkan dengan santap siang bersama dikator Redaksi Harian Umum Haluan komplek Bandara Tabing.(h.m/dyt)

Aauto Biografi Singkat

Process Which Have Never Desisted.


Allamdulillahhirabbil'alamin syukur pada Allah swt yang senantiasa selalu memberikan rahmat yang tiada terhingga pada kita semua, dengan rahmat itulah kita diberikan iman, kesehatan, diberikan kekuatan sehingga kita masih hidup dan mampu berdiri tegak di bumi allah ini, atas ijinnya pula aku diberikan kekuatan hingga pena ini pun tergores dalam risalah yang sedikit ini, shalawat dan salam semoga tercurah pada kekasihku, suritauladanku, penutup sekalian para nabi dan rasul Muhhamad saw, semoga allah pertemukan ku dan hamba-hamba yang soleh dengannya amin. Dikesempatan yang terbatas ini aku mencoba untuk menggoreskan sedikit pena ini semoga dapat menjadi kenang-kenangan bagi teman-teman semua dan para pembaca dikalangan kampus umumnya
Pertama sekali saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya dan apresiasi yang setinggi tingginya kepada Bapak Hasril Chaniago selaku konsultan penegembangan media HMG memberikan tugas dan dorongan kepada saya untuk menulis Auto Biografi sebagai tugas dalam pelatihan yang diselangarakan harian umum haluan, mudah-mudahan allah selalu memberkahi bapak dan selalu berada dalam lindungannya. dorongan ini menurutku adalah buah pikir kreatif dari seorang yang cinta akan tulisan dan sadar betapa pentingnya sebuah tulisan terhadap generasi selanjutnya. Sebuah generasi akan terus dekenang dan diteladani apabila ia meninggalkan data-data yang lengkap untuk orang-orang selanjutnya tentunya melalui tulisan, artinya budaya tulis-menulis haruslah di lestarikan, karna sangat bermamfaat sekurang-kurangnya untuk diri kita sendiri.
Mudah-mudahan dalam tulisan yang singkat ini terdapat nilai-nilai yang dapat kita ambil dan semoga allah selalu membimbingku dalam hidup ini, walaupun terkadang aku selalu berbuat kesalahan yang mungkin mengecewakannya. Karna itu ampunkanlah aku ya Allah atas segala kealpaan dan ke papaanku. Tulisan ini aku persembahkan untuk ibuku yang tercinta, ayahku yang sudah tak bersamaku lagi tetapi cintaku selalu bersamanya, semoga allah mengampuni dosa-dosamu, teman-teman di gaekcentre, managemen grup, facebook, fantasi band, peserta pelatihan jurnalistik di harian umum haluan teman yang sama-sama masih berjuang denganku di Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang.

Aku dilahirkan di kampung dalam pada hari jum'at jelang kahtib akan naik mimbar tiga Maret 1989 Sumatera barat kabupaten Padang Pariaman di satu desa kecil yang indah dan subur dimana sawah-sawah membentang luas yang dikelilingi sungai, kalau pagi hari udara begitu segar suara air sungai mengalir mengikuti alirannya yang menimbulkan suara yang begitu indah yang dapat membius manusia yang melihat dan merasakanya seolah alam ini ingin mengatakan pada kita betapa sempurnanya ciptaan tuhan. aku dilahirkan dari pasangan zainal bin hasyim dan syukriati binti nahu, dilihat dari garis keturunan ayah aku bisa dikatakan berasal dari keturunan ulama karena kakekku seorang ulama besar di daerahnya Tuangku Hasyim, walaupun aku tak pernah berjumpa sosok kakek itu, menarik kalau dikaitkan dengan keturunan ibu, ayah dari ibuku adalah seorang pedagang buku-buku agama yang juga teman seperjuangan Buya Hamka yaitu buya azazudin anzalnahu yang hobinya berkelanan dari suatu daerah kedaerah yang lain meskipun demikian ia tak pernah meninggalkan tanggung jawabnya sebagai orang tua dari ibuku yang selalu mengirimkan kebutuhan mereka, beranjak usia lima tahun kami pindah dari kampung tercinta untuk menetap di Padang, mengingat ayahku di tempatkan dikota tersebut, tapi tak lama setelah berada di Padang, terjadilah suatu peristiwa yang tak disangka-sangka yang menyebabkan keluarga sangat sedih saat itu, ayahku diserang suatu penyakit yang menjadi momok yang amat menakutkan bagi orang-orang yaitu struk, penyakit yang begitu ditakuti yang membuat kita tidak mampu lagi beraktifitas seperti biasa, yang pasti membuat seorang manusia tidak mampu mengerahkan potensi yang ada pada dirinya, terkadang terbersit dalam hatiku saat ini "ya allah mengapa engkau berikan penyakit itu kepada ayahku,
Walaupun demikian allah ciptakan sesuatu pasti ada hikmahnya, tak ada satupun yang luput dari rencana Allah pada makhluknya melainkan dibalik itu semua Allah berikan pelajaran, terkadang manusia ada yang cepat merasakan pelajaran dibalik cobaan dan ada pula manusia yang butuh waktu yang panjang untuk mengungkap hikmah yang Allah berikan melalui musibah itu.
Walaupun demikian aku selalu meyakini bahwa allah pasti memberikan yang tebaik bagi hamba-hambanya yang sholeh yang selalu menggantungkan setiap persoalan padanya, ketika seorang hamba sudah berserah diri sepenuhnya pada allah maka akan menciptakan suatu kekuatan yang tanpa tanding yang menumbuhkan yang energi yang amat besar dari dalam diri yang mampu menghilangkan beban-beban persoalan yang dirasakan manusia, maka dalam persoalan apapun berusahalah mencari jalan keluar semaksimal mungkin dan pasrahkan sepenuhnya pada allah, lalu perhatikanlah apa yang terjadi.
Kehidupan dunia merupakan salah satu tahapan yang akan dilalui manusia, peoses yang begitu panjang yang akan dilalui manusia, dimana manusia terkadang lupa untuk apa ia diciptakan hidup didunia ini, tak satu pun yang akan luput dari pengawasan allah swt dalam artianaku memahami kehidupan adalah sebuah tanggung jawab yang semuanya akan di mintai pertanggungjawaban di depan mahkamah allah yang tak ada satupun ketika itu yang dapat disembunyikan, semua akan di buka walaupun borog kita itu tersembunyi dari pengetahuan manusia ketika hidup di dunia " ya robb ampunilah segala dosa yang takku sadari dan kesalahan yang aku sembunyikan dari manusia"
Setelah ayahku sakit dan tak mampu lagi beraktifitas secara normal mulailah muncul godaan-godaan syaithon yang terkutuk "semoga allah swt selalu melaknatnya" baik itu yang berupa jin maupun manusia yang membisik-biskkan pada hati manusia "ibuku" yang ketika itu memang dalam keadaan gonjang "sudalah tinggalkan saja suamimu itu.. tak ada yang bisa diharapkan dari orang yang sakit" kata para syaithon ini yang terus menggoda ibuku untuk meniggalkan ayahku tercinta. Tetapi ibuku adalah soarong istri sholeha yang setia akan suaminya dikalasenang dan susah yang tidak mudah begitu saja di hasut oleh syaithon yang terkutuk, yang selalu menyesatkan umat manusia kejalan kebinasaan, yang tak akan pernah senang kepada manusia, "hamm mudah-mudahan aku juga dapat seorang istri sholehah yang cinta akan tuhannya dan cinta akan suaminya".
Perjalan kehidupan ibarat sebuah lorong waktu yang terus bergulir yang akan memakan setiap materi yang ada didalamnya, tak peduli siapapun apakah ia manusia biasa atau orang yang terpandang dimata masyarakat seperti presiden. Semua yang berasal dari materi seperti tubuh manusia yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah ruh yang suci akan kembali kepada tuhannya tergantung bagaimana ruh yang berada dalam materi tadi apakah memungsikan sepenuhnya potensi yang sudah di anugrahkan kepadanya dengan tunduk dan patuh pada penciptanya, "jika benar", maka ia akan kembali kepada tuhannya dengan penuh suka cita demikian pula sebaliknya tuhannya akan menyambut mereka, "ibarat seorang anak yang pergi jauh merantau meninggalkan orang tuanya ada rasa kerinduan yang amat sangat dirasakan keduanya, ketika masanya akan tiba untuk bertemu orang tuanya pasti akan menyambut anakanya dengat amat bahagia dengan penuh rasa suka cita begitu juga dengan sianak, ketika bertemu akan berlangsunglah pertemuan yang amat menyenagkan, pertemuan yang sudah di mimpi-mimpikan, inilah pertemuan sang hamba dengan khliknya di akhirat kelak.
Berbicara sejarah masa lalu merupakan pijakan kita untuk masa yang akan datang, sejarah merupakan hal yang tak terpisahkan dari anak manusia, dimana seseorang tersebut bisa mengukir sejarahnya sendiri tergantung dari apa yang yang sudah ia usahakan, hidup merupakan suatu pertanggungjawaban terhadap diri sendiri terhadap orang lain dan terhadap sang khalik sebagai pencipta kita semua. Semasa sd aku lewatkan dengan prestasi yang cukup membahagiakan orang tuaku, walaupun tanpa bimbingan ayah secara langsung karna memang beliau tidak bisa bebuat apa-apa. Aku tumbuh dibawah bimbingan sang ibu yang menurutku merupakan sosok yang amat tangguh dan penyayang, apalagi persoalan agama, ibuku amat keras dan tegas. terimakasih itulah kata yang bisa aku ucapakan pada ibuku atas semua ketegasannya dan kedisiplinannya dalam mengajarkan agama, apa lagi dalam persoalan sholat akan marah sekali ia jika ia tahu aku belum mengerjakan sholat, sekarang telah kurasakan akibat dari kedisiplinan itu dalam kehidupan ini.
Detik berganti detik, jam terus berganti jam, hari demi hari terus berjalan dan tahun berganti tahun tak lama terasa sudah tiba hari penentuan lulus-lulusan SD. Alhamdulillah atas ijin allah aku lulus dengan nilai yang baik, orang tuaku menganjurkan agar di lanjutkan ke sanawiyah, he memang ketika itu aku juga agak bandel aku anggab sekolah agama seperti sanawiyah itu sekolah No dua, karena mamang pada saat itu sanawiyah memang sekolah bagi orang-orang yang tidak lulus SMP, sedangkan nilaiku dapat lebih dari cukup untuk masuk SMP. Akhirnya dengan berbagai alasan aku utarakan untuk menolak anjuran ibu. Pada akirnya memang jadi juga sekolah di SMP hehehe.
Setelah tidak lama baru menjalani sekolah di SMP terjadilah peristiwa yang mungkin titik awal perjalanan hidupku yang akan kujalani, ayahku meninggal dunia pada saat umurku sekitar 13 tahun pada saat baru-beberapa bulan mencicipi bangku sekolah, beliau meninggal dalam keadaan sakit, "semoga penyakit yang di deritanya sampai ajal menjemput kehidupan berbuah dalam pengampunan yang engkau berikan kepadanya amin".
Semoga allah selalu memberi perlindungan pada kita yang senantiasa mencurahkan rahmat bagi orang-orang yang benar-benar yakin bertawakal padanya atas apa yang diterimanya, kehidupan merupakan lebaran-lembaran hari yang terus mengejar kita pada satu titik yaitu kematian, kematian adalah suatu hal yang pasti akan dilalui manusia maka persiapkanlah, jangan sampai pada saatnya tiba kita tidak memiliki perbekalan sedikitpun untuk memasukinya.

Sejak ayah meninggal ibulah yang mendidik dan membesarkanku dalam curahan kasih sayangnya yang tiada terhingga, karena memang akulah satu-satunya anak yang diharapkannya, karna aku memang tidak memiliki saudara seperti teman-temanku yang lain. Walaupun seperti itu ibu tidak pernah memanjakanku aku didik sadar dengan kehidupan bagaimana kehidupan ini begitu keras dan kita harus mampu untuk bertahan.
Pada awal-walanya memang ada rasa terpukul didalam hati ini, mungkin itu juga dirasakan oleh ibuku, ini sudah ketentuan dari sang pencipta dimana aku tidak pernah merasakan kasih sayang yang seutuhnya dari seorang ayah hingga ajal menjemputnya,
Tamat dari SMP aku lanjutkan masih ke sekolah umum, tak ada terpikir untuk melanjutkan kesekolah agama seperti MAN,"karna lagi-lagi aku anggab sekolah agama adalah sekolah nomor dua, kalau bisa sekolah no satu kenapa harus No dua". Itulah pikiran anak manusia yang terlalu muda. Walaupun sedari kecil aku sudah didik dengan agama yang cukup kental tetapi namanya anak yang masih belum matang dan masih mencari jati diri, hal-hal yang dilarang agama pun waktu itu ku lakukan dengan biasa.

Akirnya tuhan menyelamatkanku "ya allah janganlah engkau kembalikan aku kepada kekafiran setalah engkau beri aku beri hidayah" itulah doa yang selalu aku panjatkan setelah peristiwa itu. Dengan izin allah seolah-olah aku di dibimbing kerahnya, yang selama ini menjalani rutinitas agama hanya karena suruhan orang tua itupun tidak mencerminkan seorang muslim yang sebenarnya, tetapi kemudian perlahan-lahan aku mulai menemui apa yang aku cari.
Naik kelas II SMA semangat untuk menpelajari agama sangat tinggi yang membuatku terus merenung dan merenung tentang apa arti sebenarnya kehidupan ini, untuk apakah kita diciptakan, pertanyan-pertanyan seperti ini selalu menggantung dalam hati ini. Semakin kita merenung maka semakin kecil terasa diri ini dihadapan sang khalik.
Semoga allah selalu membimbing hambanya yang bersungguh-sungguh dalam beragama, dan berfikir, menggunakan hatinya untuk mencerna apa yang ada di sekitarnya, karna seluruh potensi yang ada pada diri ini akan diminta pertanggung jawabannya dihadapan yang maha pencipta yang menjadikan bumi dan langit dengan penuh kesempurnan dan keseimbangan, yang menjadikan setiap yang ada berpasang pasangan, maha agung engkau ya allah, semoga engkau tunjukan aku terus kejalan yang engkau ridhoi sampai tiba janji yang telah engkau tatapkan kepada seluru hambamu yang tak ada suatu makhlukpun yang dapat mengelak darinya? Kematian.

Masa – masa SMA adalah masa yang adalah saat paling mengesankan bagiku, masa yang penuh dengan kenangan-kenangan yang indah, menurut orang bijak katanyasih masa SMA masa yang paling indah, tapi ungkapan ini ada juga benarnya mungkin teman-teman semua juga merasakan hal yang sama. Tetapi semangat keislaman yang sudah cukup kuat dalam diri cepat membangunkanku, semangat keislaman inilah yang membuatku berbeda dengan teman-teman dalam melanjutka pendidikanku "ku bulatkan tekad untuk masuk IAIN dengan harapan dapat menimba ilmu agama lebih banyak lagi", aku palingkan muka dari tes SPMB dengan tujuan agar kosentrasiku tidak terpecah dan tidak membuka peluang untuk pendidikan umum, dalam pikiran, aku takut seandainya aku ikuti SPMB ternyata lulus akan membuatku bimbang dengan komitmen awalku,
Niat tulus ini yang mungkin membawaku ke fakultas dakwah, bertemu dengan teman-teman yangku lihat semangat kislamannyapun sangat tinggi, mudah-udahan dari generasi ini akan lahir tokoh-tokoh yang benar-benar ada komitmennya terhadap masa depan islam, yang meyakini sesungguhnya islam adalah agama yang selamat dan menyelamatkan manusia baik di dunia dan akhirat, generasi yang menerima sepenuhnya islam adalah sebuah sestem kahidupan yang mengatur manusia dengan tuhannya mengatur manusia dengan dirinya sendiri mengatur manusia dengan sesama manusia.
Semester satu kujalani dengan tinggal dirumah orang tua walaupun aku berniat untuk tinggal di masjid tetapi untuk mencari mesjid yang dapat ditinggali tidak mudah, saat tinggal dirumah akupun tidak berdiam diri dan terus mencari informasi dan berdoa kepada allah agar membarikan mesjid tempat menimba pengalaman dan menempa diri, sebenarnya kata sebahagian orang aku aneh, kenapa mau tinggal di masjid sedangkan rumah orang tua di Padang, "kan bisa enak dan santai kata sebagian teman-teman" tetapi itulah yang membuatku keluar dari rumah dan mencari penghidupan sendiri dengan niat mudah-udahan allah memberiku kemandirian dalam hidup.
Alhamdulillah doaku terjawab ketika salah seorang teman meneleponku pagi itu, "ada mesjid kosong di daerah jati" syukur pada allah dengan proses yang mudah aku dapat tinggal di mesjid itu, semuanya atas kemudahan dari Allah sampai saat ini aku masih tinggal dimesjid itu, dan sekarang bagaimana kita harus memaksimalkan waktu yang sudah disiapkan allah untuk hambanya mudah-mudahan kita dapat menjawab bahwa ketika didunia kita pergunakan untuk hal-hal yang bermamfaat, ya allah jadikanlah ini sebuah proses yang dapat menjadikanku sadar akan kehidupan yang sebenarnya.

Hari berganti hari, minggu keminggu pun terus berjalan tak terasa sudah hampir dua tahun aku tinggal di mesjid ini, banyak pengalaman pengalaman menarik, pengalaman menyenangkan dan pelanganman luka pun sudah kulalui mudah-mudahan pengalaman ini yang akan mendewasakanku dalam memahami kehidupan ini. sebenarnya aku tak perlu tinggal di mesjid itu yang membuat sebagian temanku menyebutku aneh lagi hehe, karna memang aku sebenarnya berdomisili sejak kecil di Padang dan orang tuaku pun sudah lama merantau ke Padang dan sudah punya rumah sendiri disini "jadi apa salahnya aku tinggal dirumah tanpa harus besusah payah tinggal dimesjid" omongan orang tinggallah omongan tidakku gubris hehehe, pencarian jadi dirilah yang mebuatku begini, pancarian akan makna hidup yang sebenarnya dan alhamdulillah telahku dapatkan sedikit demi sedikit, karna dalam asumsiku tinggal sama orang tua tidak akan membuat perkembangan yang berarti dalam hidupku dan itupun aku rasakan sendiri perasaan malas cenderung menyelimuti yang membuatku merasakan hidup ini tak bermamfaat, terlebih lagi aku anak satu-satunya dalam keluarga, aku tak ingin terjebak dengan ini semua mudah-mudahan allah melihat keseriusanku dan selalu menuntuku kejalan yang benar.
Setelah kuselami kehidupan masyarakat yang berada di sekitarku yang notabene orang orang berada tapi juga barbaur dengan sebagian orang-orang ekonomi menengah kebawah dan apa yang kurasakan selama berbaur dengan orang tersebut ternyata untuk sementara aku berkesimpulan bahwa kehidupan seseorang yang berkecukupan tidak selamanya membuat tingkat kepekaan sosial seseorang menjadi tinggi. Ini aku buktikan setelah menganalisa selama dua tahun dari kasus-kasus yang terjadi di lingkungan mesjid.
Maka dapat aku tarik suatu kesimpulan untuk kita ambil pelajaranya dan merupakan sebagai pijakan kita sesungguhnya sekali-kali janganlah kita berharap pada seseuatu selain allah untuk menolong kita dari persoalan, jika kamu mencari seseorang insyallah kamu akan dikecewakan tapi mengadulah pada allah curahkanlah segala apa yang kamu rasakan, curhatlah kembalikanlah semua padanya tentang seluruh persoalan hidup apakah itu masalah keluarga, masalah ekonomi, masalah jodoh dan sebagainya ketika kamu telah memasrahkan sepenuhnya pada allah dan kemudian melakukan ihktiar untuk mencari jalan keluar insyallah kamu akan dapatkan jawabannya diluar apa yang kamu pikirkan.
Ya allah berkahilah setiap detik setiap menit setiap tarikan nafas ini agar senatiasa menjadi amal ibadah di sisimu dan semoga engkau berikan aku kekuatan untuk meggapai apa yang slalu aku cita-citakan, singkirkanlah segala rintangan yang menghalangiku dan lenyapkanlah bahaya yang mengancamku dari golongan musuh-musuhmu.
Wahanafsu terkadang membawa kita kepada kebinasaan rasa tidak cukup dan sebagainya membawa kita kepada ketidaktenangan dalam hidup, inilah perasaan yang basa dirasakan oleh banyak orang dan juga penulis rasakan tetapi mari kita cermati, kita hitung-hitung betapa banyak nikmat allah yang terkadang kita lupa bahwa hidup sehat seseorang bisa bernafas dan melaksanakan aktifitasnya dengan itu ia bisa mencari karunia allah, merupakan suatu rahmat yang luar biasa menurutku. Memaknai kehidupan harus di ikuti rasa syukur yang mendalam kepada tuhan, itulah yang akan membut kita sadar betapa maha pemurahnya allah dan kurangnya rasa syukur kita kepadanya, inilah salah satu prinsip yangku temukan dalam pencarianku menjalani kehidupan, memaknai hidup dengan penuh rasa syukur yang mendalam kepada tuhan, terkadang memang allah tidak selalu mengabulkan apa yang kita inginkan tetapi akan senatiasa memenuhi apa yang kita butuhkan. Jika prinsip ini yang kita tanamkan insyalah kita akan lalui hidup dengan penuh kebahagian amin.
Bicara masalah keinginan seperti yang sudah aku singgung diatas memang tidak ada habisnya, tetapi mempunyai mimpi dan cita-cita suatu keharusan bagi kita karna mimpi itu akan memberikan dorongan dan energi yang mampu membuat kita bergerak untuk mecapainya, tanpa sebuah cita-cita seorang tidak akan bisa hidup menurut Khj Zainudin MZ dalam ceramahnya yangku dengar. Salah satu keinginanku yang belum tecapai adalah menaik hajikan sang ibu tercinta entah kapan bisa terlaksana allahlah yang lebih tahu yang jelas kita hanya bisa berusaha dan terus berdoa untuk hal itu adapun hasilnya kita serahkan kepada yang kuasa.
Ibu mudah-mudahan apa yang diimpikan oleh anakmu ini tercapai, paling tidak kita harus memiliki kiat-kiat dan target yang terukur, salah satu usaha yang kulakukan sekarang maksimalkan matematika sedekah inilah salah satu kiat dari ustadz Yusuf Mansyur bagaimana sedekah dapat mengeluarkan seseorang dari masalah, sedekah dapat mengangkat derajad seseorang, sedekah dapat mengeluarkan seseorang dari himpitan utang, sedekah dapat membuka pintu-pintu rezki, sedekah dapat memberikan energi positif pada kita, ya allah semoga apa yangku cita-citakan ini dapat terlaksana tahun ini. Sengaja iniku tulis mudah-mudahkan kita semua termotifasi untuk bersedekah walaupun sedikit tetapi rutin dilaksanakan tiap hari insyallah kita akan mendapatkan ketenangan dan rizki kita akan berkah dan terus bertambah, karna sesungguhnya sedekah itu pada hakekatnya tidak berkurang tetapi bertambah bahkan allah ganti langsung didunia ini dan allah berikan pahala yang berlipat ganda, barang siapa yang melapangkan saudaranya sesungguhnya allah akan melapangkanya di akhirat kelak amin.
Kemandirian merupakan sebuah prinsip yang insyallah akan kujunjung tinggi tentunya dengan menyandarkan semuanya kepada yang maha berkehendak, kita bersifat lemah, rezki, pertemuan, maut, semua telah ditentukan allah sekarang kita hanya menjalani dan menjepemputnya secara maksimal, puji syukur kehadiratnya yang sampai detik ini saat aku menulis risalah yang pendek ini masih diberikan kesehatan dan sekarang barada di penghujung semester VII DI IAIN Imam Bonjol Padang, mudah-mudahan allah berikan aku kemudahan esok dalam mengikuti ujian kompre, kusempatkan sejenak menulis ini semoga allah membalasnya, hanya dalam hitungan beberapa jam lagi kusambut kau insyallah akan kutaklukan, ujian senantiasa menjadi momok yang menakutkan bagi para pelajar entah apa yang menyebabkan ini yang jelas aku belum lakukan penelitian tentang itu. banyak idelaisme yang tergadai karnanya dan banyak pula yang jatuh kedalam lembah murka allah, hal ini aku tulis karena pengalaman di lapangan hanya sebagian kecil yang mahasiswa yang melalui proses ujian dan mendapatkan hasil dari ujian tersebut dengan halal, aneh ya mengapa aku memakai bahasa yang tidak pas … yaitu "halah dan haram" dalam ujian. Tunggu dulu kata-kata ini layak di tempatkan disitu karna dalam pandanganku sesuatu hasil perbuatan yang tak sesuai dengan tuntunan dan berlawanan dengan ajaran agama adalah haram, banyak pelanggaran yang tentunya sebagaian dari kita sering kali dilakukan dalam m ujian, terkadang tanpa kita sadari bahwa tindakan itu salah, seperti bawa jimat heee sakarang saya tanya marah nggak tu allah sama kita?.. yang jelas marah maka hasil dari ujian tersebut bisa dibilang haram … itu alasannya.
Penulis sendiri juga pernah dan mungkin sering melakukannya, tetapi insyallah seiring dengan bertambahnya pengalaman ilmu alhamdulillah allah berikan petunjuk bahwa hal tersebut salah teimakasih ya allah, allah akan melihat sampai dimana kerja keras kita dalam menjalani suatu proses perkuliahan insyallah jika kita jalani dengan baik dan senantiasa untuk selalu jujur allah akan mudahkan jalan kita.
Menurutku: intinya apabila kita telah bertekad dalam suatu urusan dan tentu berusaha dengan keras kemudian yang harus kita lakukan adalah bertawakal kepada allah sesungguhnya allah amat mencintai orang orang yang bertawakal, ya allah berikanlah kepadaku dan kami semua keteguhan hati sehingga kami tetap konsisten dengan apa yang kami lakukan dan kami ucapkan semoga ini menjadi amal ibdah bagi kami sehingga apabila telah tiba bagi kami waktu yang telah ditentukan kepada kami untuk berangkat dari bumimu ini kami menghadap mu dalam keadaaan suci…kabulkan ya allah
Hidup adalah perjuangan, perjuangan yang tiada henti kearah yang lebih baik sampai waktu yang ditentukan pada kita habis, syukur yang tiada terhingga padamu ya allah, ampuni kami atas kesalahan kami yang tiada terhingga, kami selalu memohon padamu ya robb atas apa yang kami lakukan maka beri ampunlah kami,
huhh mungkin itu kata pertama ku…kihirup udara dalam-dalam dan ku hembuskan..betapa besar karunia allah pada kita, dalam kehidupan ini kita diwajibkan mencari dan menjemput apa yang telah allah tetapkan pada kita, tentu itu kita lakukan secara optimal dan sepenuh hati, dari saat aku mulai berhijrah..hehe keren ya bahasanya, tinggal dirumah sampai menempati mesjid saat ini, aku juga berusaha jualan kecil- kecilan adalah bagian lembaran hidup dan sekian serpihan cara untuk mencari karunia allah.
allah tidak akan menyia-nyiakan usaha hambanya semoga kita senatiasa menjadi istikomah dan tidak menjadi orang yang berpangku tangan dalam mencari karunia allah, walaupun demikian aku juga sangat merasakan yang namanya pasang surut dalam menjalankan roda kehidupan ini. Dalam berusaha kadang kita berhasil tapi ada kalanya kita gagal itu yangku alami sekarang. Seiring goresan penaku ini sembari berharap pada allah mudah-mudahan allah mengganti usaha yang lebih baik dan halal, usahaku yang terdahulu boleh dibilang projek gagal karna hampir dua tahun merintisnya tetapi tak ada perkembangan yang signifikan walaupun tak mengalami kerugian yang cukup besar.
Berwirausaha adalah keinginanku walaupun menjadi PNS nantinya, mungkin itu adalah takdir allah hehe, mudah-mudahan kegagalan ini menjadi pelajaran yang berharga untuk melanjutkan hidup kedepan, mudah-mudah allah cepat menggantinya dengan sesuatu yang lebih dari pada itu, " kabulkan ya allah kami selalu menyerahkan sepenuhnya kepadamu mudah-mudahan hari esok lebih baik"
Salah satu prinsip yang insyallah aku pegang erat adalah kempuan kita terbatas tetapi itu buka halangan dan janganlah pasrah dengan keadaan sesungguhnya allah maha melihat usaha dari seseorang, ngantuk itu yang kurasakan sekarang, merupakan suatu yang lumrah karna manusia bersifat lemah dan penuh dengan keluh kesah, demi kalian teman-temanku isyallah akan kuteruskan mudah-mudahan bermamfaat dan bagi kita semua dan menjadi amal ibadah bagiku
Sebentar … aku doa dulu biar ngantuknya hilang, ya allah berikalah kekuatan hambamu ini agar senantiasa kuat dalam menjalani hidup ini dan bermamfaat untuk orang banyak.

Cinta …hehe itulah yang kurang kata sebagian teman yang saduh membaca tulisan ini "kenapa nggak ada pembahasan cintanya" emangang perluya?..kata ini mengandung interpretasi yang amat luas menurutku, ada orang mengartikan cinta hanya sebatatas perasaan suka antara dua insan yang berdeda lawan jenis, ada juga teman berpendapat cinta adalah buah dari interaksi antara insan manusia, semua orang boleh saja berpendapat sesuai dengan apa yang mereka pahami.
Menurutku cinta adalah exspresi yang mendalam terhadap sesuatu yang kita kagumi yang benar - benar memancar dari relung hati yang paling dalam, cinta adalah suatu yang lumrah dirasakan manusia, baik perasaan kita pada lawan jenis atau kepada yang lain, rasa cinta memang sudah ada pada dalam diri kita sejak kita dilahirkan sama halanya dengan fitrah beragama yang sudah sejak lahir kita bawa,

Boleh ya aku mengutip sedikit ayat al-qur'an
"Dijadikan indah pada pandangan manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan yaitu wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia dan disisi Allah tempat kembali yang baik." (Al-Qur`an: Al-Imron ayat 14)
Aku bukan malaikat, aku bukan seorang sufi yang mungkin tidak merasakan cinta khususnya cinta terhadap seseorang, aku bukan seorang yang suci tanpa noda, aku sama seperti kalian semua, semasa SMA aku pernah manjalin hubungan dengan seseorang mungkin boleh dibilang cinta monyet kali ya.hehe perasan sianak yang belum memiliki apa-apa baik dari segi pemikirin dan ilmu, perasaan sesaat yang akan hilang seiring berjalannya waktu. Berarti itu bukan cinta donk? Mungkin… yang jelas hubungan ini hampir saja membawaku ke lembah kehinaan dimata manusia yang membuat seseorang akan lebih hina lagi dimata allah, Cinta yang semakin bergelora hawa nafsu, makin berkurang rasa malu. Dan, inilah yang paling berbahaya dari cinta yang tidak terkendali.
Alhamdulilah allah menyelamatkanku dari hal yang demikian, ketika seseorang masih dalam papa dari segi ilmu pengetahuan akan mudah sekali setan menjerumuskan kelembah kebinasaan, puji syukur yang tiada terhingga kepadamu ya allah engkau memeberi ku pengetahuan dan hidayah disaat yang tepat, sesungguhnya engkaulah penyelamat terbaik bagi orang yang meyakini, orang - orang berusaha untuk terus memperbaiki diri, Mudah-mudahan kita dimudahkan oleh-Nya untuk mendapatkan ilmu yang bisa menjadi penerang dalam kegelapan.

Seiring bertambahnya ilmu bertambahnya pengalaman serta tak lepas dari puntunjuk allah swt, membuatku semakin dewasa dalam memahami cinta, biarlah lah yang berlalu mudah-mudahan allah menganpuniku, akan menjadi lembaran-lembran yang akan menjadi pijakanku kedapan.
Melihat menomena skarang aku amat sedih, dimana hubungan laki-laki dan perempuan begitu bebas orang bilang katanya sih pacaran, ada yang melakukan hubungan sebatas telpon-telponan "ngabisin pulsa aja". Ada yang melakukannya sudah lebih dari itu, ada juga yang menjalin hubungan dengan lawan jenisnya sudah sampai yang pada taraf yang menghawatirkan yang menyebabkan merried by accident, yang jelas istilah pacaran tidak pernah ada dalam islam, yang ada tu ta'aruf, menazhor, khidbah, bagi teman yang memiliki keinginan kuat dan mampu untuk menikah atau segera ingin menikah,
Kehidupan adalah pilihan biarlah mereka menentukan pilihan hidup mereka mudah-mudahan allah menunjuki kita kepada jalan yang benar, terkadang fitrah manusia membuat kita tak berdaya dengan apa yang sudah kita miliki, jika perasaan itu datang kita tak dapat menoloknya aku pun demikian hanya kita berusaha untuk menjaga perasaan itu sehingga tidak membawa kita kepada terpurukan, jika ia yang terbaik maka kita hanya dapat berdoa mudah-mudahan allah menjodohkan dengannya sembari berusaha dengan tidak melanggar kaidah-kaidah yang sudah ditetapkan agama, Cinta yang sesunguhnya adalah cinta yang setelah akad nikah, selebihnya adalah cobaan dan fitnah saja. Hidup adalah pilihan maka pilihlah jalan yang terbaik.
Eh dah ngaco kamana-manaya maaf mata dah begitu berat, badan dah sangat letih yang jelas mari kita pelihara perasaan dan arahkan ia pada hal-hal yang positif, itu menurut ku lho, Islam tidak melarang atau mengekang manusia dari rasa cinta tapi mengarahkan cinta tetap pada rel yang menjaga martabat kehormatan, baik wanita maupun laki-laki. Kalau kita jatuh cinta harus hati-hati karena seperti minum air laut semakin diminum semakin haus.

Cinta yang sejati adalah cinta sang khalik kepada hambanya, cinta seorang hamba yang sholeh kepada tuhanya, Marilah kita mengalihkan rasa cinta kita kepada Allah dengan memperbanyak sholawat, dzikir, istighfar dan sholat sehingga kita tidak diperdaya oleh hawa nafsu.
Semoga allah selalu membimbing kita kejalan yang benar hingga pilihan kita dalam menjalani kehidupan benar-benar tepat, terjauh dari segala bujuk rayu setan, dan mendapat kedudukan yang mulia disisi manusia dan sang pencipta.

Engkau yang selalu kami sembah engkau tempat kami berharap berikan kepada kami jalan yang engkau ridhoi ya allah, dalam mejalani kehidupan ini kita dituntut untuk sabar, sabar untuk tunduk dan patuh terhadap perintah dan larangan allah sabar dalam menajalani ujian allah, sabar dalam menyikapi problematika yang kita hadapi ditengah-tengah masyarakat, akupun senantiasa mencoba untuk selalu bersabar dalam menjalani hidup ini, banyak kekurangan-kekurangan yangku rasakan dan mungkin teman-teman semua juga rasakan. Tetapi hal ini tidak mengurangi rasa syukurku padamu ya allah, syukur apabila ada, sabar jika apa yang kita inginkan belum tercapai.
Untuk kedepan banyak rencana banyak keinginan yang akanku capai, banyak masalah - masalah yang sebanarnya inginku sampaikan dan inginku bahas tetatpi lembaran yang terbats ini dan waktu yang singkat, rasanya tak cukup untuk menuliskannya satu persatu mudah-mudahan untuk kedepan kita semua menjadi orang yang berbugana untuk agama, bangsa ini.
Terimakasih banyak teman-teman atas kesedian waktunya untuk membaca tulisan yang singkat ini mudah-mudahan apa yang kugoreskan didalamnya menjadi bahan pembelajaran dan memiliki pesan-pesan dakwah bagi kita semua, insyallah pada kesempatan lain akan kusambung, dan tak lupa kembali kami atas nama jurusan ilmu komunikasi dan penyiaran islam semester VII mengucapkan terimakasih banyak kepada Bapak Hasril Chaniago sebagai konsultan pengembangan media HMG yang telah memberikan tugas menulis auto biografi dalam diklat Harian Umum haluan yang telah meberikan dorongan kepada kami semoga apa yang telah ajarkan bermamfaat bagi kami dan menjadi amal ibadah, kemudian yang teristimewa kepada bundaku yang jauh disana yang telah mendidik dan mengajarkanku tentang arti kehidupan mudah – mudahan usaha kerasnya menjadi singel prent berbuah, semoga anakmu ini menjadi orang yang berguna.
Permohonan maaf kepada kawan-kawan sekalian jika ada yang tersinggung dengan apa yang kutulis didalam ini, tak terbersit sedikitpun niat untuk menyinggung pihak-pihak tertentu, niat tulus ikhlas karna allahlah yang menuntunku untuk menggoreskannya, dan tidak ada maksud untuk menyombongkan diri berlindungku kepada allah dari sifat itu, melainkan sebagai bahan perbandingan, pembelajaran bagi kita mudahan allah mengampuni kesalahan dan kealpaan kita. Wllahua’aklam.


Padang, 22 Februari 2011
Rahmat Hidayat







Allah tempat mengadu allah tempat kita meminta, tiada satupun yang tak lupun dalam kuasanya, seandainya manusia memiliki kekuatan dan sombong dengan apa yang dimilikinya, maka tepatutnyalah ia mendapat murka allah swt, karena yang pantas sombong dan menyombongkan diri hanyalah allah pemili alam semesta. Sudah lama sekali aku tidak menulis, entah apa yang merasuki pikiranku sehingga begitu berat mengoreskan sebuah pena hinga ia menjadi rangkayan kata-kata yang dapat kita baca dan waris untuk generasi penerus kita.
Kepadamu Muhammad rasul allah yang amat dicintai oleh orang-orang islam yang benar-beragama dan menjalankan dengan sepenuhnya, aku amat rindu padamu kerinduan yang memuncah tiada terhingga, sejanak terlintas dalam pikiran apakah hamba yang amat lemah dan penuh dosa ini layak untuk bersua denganmu, semoga allah menggampuni dosa-dosa yang aku perbuat, keitika ruh hendak berpisah dengan sang raga hamba telah benar-benar bersi dari dosa , begitu juga harapanku kepada saudara-saudara seiman dan seakidah mudah-mudahan kita tergolong orang orang yang beruntung.
Bayak sekali peristiwa yang telah aku lalui tanpa dapat aku catan dan aku tulis dalam rangkuman yang tersusun rapi, aku sekarang berada pada awal-awal semester delapan dan dalam masa ujian kompre, salah satu syarat ujian yang akan aku lalui untuk merai gelar sarjana, besok ujian fiqih, salah satu mata kuliah yang cukup sulit bagi para hahasiswa, mala mini aku menulis untuk melepas kerinduan yang telah lama sekali aku berpisah dengannya kesenanganku untuk menulis walaupunsaaat ini persiapan untuk menghadapi ujian esok hari 0 %, biarlah yang jelas aku berusa kembali menumbuhkan hasrat dan kecintaanku terhadap dunia tulisan tunggu aku besok, sekarang aku persiapkan dulu perbekalan untuk ujian besok.

Jati, 22:45, 24 februari 2011
Rahmat hidayat.

Alhamdulillah dipenghujung hari jum’at ini aku kembali berhadapan dengan computer, menyambung janjiku malam lalu, kemalasan dan kesibukan seringkali kita jadikan alibi untuk membela diri untuk tidak menulis dan membaca, padahal menulis dan membaca merupakan ujung tombak pengetahuan. begitu minimnya semangat membaca dan menulis pada generasi muda pada saat ini, merupakan hal yang sangat mengkhawatirkan para pemuda sebagai penerus bangsa dan agama lebih senang dengan kehidupan yang tidak bermamfaat hura-hura menghabiskan waktu tanpa makna, padahal bangsa dan agama ini sangat membutuhkan orang orang yang berkwalitas mempunyai semangat untuk mengubah kekadaaan ini.

Jumat, 11 Februari 2011

Don't falls in valentine

Peringatan hari kasih sayang identik dengan kampanye
Kebebasan seksual dan desakralisasi keparawanan

GW terlajur basah, ya nyempulung aja sekalian "aku falley" seorang wanita panggilan yang menjajakan diri di sebuah milis internet……..perempuan muda ini menuturkan, ia terjun ke dunia hitam setelas menyetoerkan keparawanannya pada pacarnya di malam valentine beberapa tahun yang lalu.
Sebuah jajak pendapat oleh assumption university pada tahun 2007 mengatakan, sepertiga dari 1.578 gadis belasan tahun di thailand menyatakan bahwa mereka siap berhubungan sex di hari valentine bila pacarnya meminta.
Survei lain yang dilakukan university thai terhadap 1.227 pemuda menemukan, 11% dari mereka berencana menyerahkan keperawananya pada malam valentine(kompascommunity.com) .
Di indonesia, jajak pendapat semacam itu memang belum ada yang komperhensif tapi kasus perkasus sih sudah bukan rahasia lagi. Setidaknya valentine day berjalin-kelindan dengan aktivitas pornoaksi, entah perempuan masih perawan atau tidak. Indikasinya , lihat saja larisnya kondom dan tempat-tempat penginapan atau tempat pelesiran dikala valintine.
Rupanya indonesia tak mau kalah dan ketinggalan dengan amerika. Di AS pekan peringatan hari valentine memang di tetapkan sebagai the national kondom week( pekan kondom nasional) maksudnya silahkan merayakan pesta valentine day dengan berpesta sex dengan siapa saja, tapi jangan lupa pakai kondom.
Tak berlebihan, menurut dr. Andik wijaya, nalentine day menimbulkan bahaya besar yang mengintai para remaja indonesia. Mulai dari penularan HIV/AIDS hingga kehamilan yang tak terkendali.
Wahai saudaraku yang si iman dan seaqidah dari uraiyan yang saya kemukakan diatas valentine day tak lebih dari sebuah pencekokan budaya barat kepada generasi muda islam dengan mengatas namakan hari kasih sayang, kasih sayang dalam islam jauh lebih indah dan tertata semua dengan hukum syarak yang akan membuat kita terjaga dari bermaksiat pada allah. Dalam islam kita diajurkan nasehat menasehati saling menyayangi tidak terbatas hanya pada satu hari atau mengkultuskan satu hari sebagai hari kasih sayang. Kasih sayang adalah ungkapan sebuah rasa yang posotif yag muncul dari lubuk hati yang paling dalam yang kita curahkan kepa seluruh kaumuslimin dan orang-orang yang berada di sekitar kita tanpa melanggar hukum yang telah digariskan oleh allah.
Dari fakta-fakta yang saya kemukakan mari kita menyadari bahwa pengkultusan sebuah hari menjadi hari kasih sayang tidak pernah diajarkan dalam islam..bahkan agama kita senantiasa menganjurkan membagi salam membagi kasih sayang setiapa saat.
Valentine day adalah buah keberhasilan dakwah barat kepada dunia islam tanpa kita sadari, untuk itu rekan-rekanku mari sama-sama kita tinggal kan budaya yang tak bermamfaat ini yang telah jelas fakta bagai mana hal ini telah banyak membawa kerusakan dan identik dengan perbuatan dosa….mari kita sebagai inteletual muda muslim senatiasa berfikir bagaiamana umat ini kembali kepada jadi dirinya yang sebebarnya ….berfikirlah karna perubahan itu senantiasa barawal dari buah pemikiran yang cemerlang … mari kita tinggalkan aktifitas-aktifitas yang tak bermamfaat dan mengekor pada peradaban barat yang jelas-jelas rusak, allah akan melihat sungguhan kita .. pertolongan allah itu amat dekat
Peringatan hari kasih sayang identik dengan kampanye
Kebebasan seksual dan desakralisasi keparawanan?.....

Minggu, 16 Januari 2011

Pemuda, Islam dan Globalisi

Hegemoni & Pembajakan Kesadaran
Globalisasi telah mencabut “waktu” dari “ruang”. Peristiwa yang terjadi di pojok bumi selatan bisa ditonton oleh masyarakat yang hidup di pojok bumi utara dalam waktu bersamaan. Ini menandakan bahwa “ruang” telah mengecil, tidak ada lagi “jarak” yang membatasi setiap “ruang”. Globalisasi, menyatukan “ruang” yang berserakan di bumi ini menjadi satu wilayah yang sempit, bahkan tak lagi “berdinding”.

Televisi (TV) adalah salah satu instrumen globalisasi. Semua peristiwa dapat kita saksikan melalui TV. TV merobek dan menembus batas “ruang” dan mencabut waktu yang menghubungkan setiap ruang. Setiap hari, perhatian kita tersedot ke layar TV, berharap dapat menyaksikan berita dan informasi tentang kejadian-kejadian di sekitar kita.

Dalam ukuran tertentu, globalisasi seperti yang digambarkan di atas mengandung hal positif. Masyarakat hidup dalam suasana yang penuh dengan keterbukaan terhadap informasi. Tidak ada masyarakat yang terisolasi dari suasana global. Kemajuan peradaban sebuah masyarakat, akan menjadi bahan refleksi dan contoh bagi pembangunan peradaban di masyarakat lain.

Suasana keterbukaan ini tidak bisa dielakkan, karena instrumen globalisasi menjadi instrumen yang sangat membantu dan mendukung aktifitas kita. Karena itu, globalisasi hadir dalam kehidupan kita tanpa perlawanan. Menolak globalisasi bisa menjadi penolakan terhadap hidup itu sendiri.

Namun sesungguhnya, globalisasi itu merupakan ruang kontestasi (perlombaan) budaya. Sebab mengecilnya dunia menjadi satu “ruang sempit” menimbulkan benturan budaya masing-masing masyarakat. TV yang bisa disebut sebagai salah satu instrumen penting globalisasi itu, mempunyai peran penting dalam kontestasi tersebut.
Setiap saat, teman setia kita adalah TV. Bahkan jadwal aktifitas kita, sedikit banyak dipengaruhi oleh menu yang ditawarkan TV. Pagi, sebelum berangkat ke kantor kita punya jadwal menonton berita politik, ekonomi, dan tidak ketinggalan berita seputar selebritis. Sore sampai malam, ada sinetron-sinetron menarik yang siap menemani kita. Bahkan, malam-malam tertentu, kita sudah membuat agenda tidak keluar rumah untuk menyaksikan sinetron dan acara pilihan yang spesial.

Sedikit banyak, TV telah membentuk kesadaran berpikir kita tentang nilai-nilai baik, jahat, indah, buruk, benar, salah, dst. Karena itu TV menjadi “lubang hitam kebudayaan”. Sebab nilai-nilai yang dipromosikan dalam layar kaca tersebut menghegemoni pemirsanya. Ada sinetron yang sering mempertontonkan keluarga bahagia dengan rumah mewah, dengan mobil sedan mahal. Ditambah lagi adanya ajang perlombaan menjadi orang sukses dengan menjadi penyayi. Semua itu menghegemoni kesadaran pemirsa tentang kemewahan sebagai kebaikan, kesuksesan hidup dengan menjadi orang tenar (baca: penyanyi), dst.

Di sinilah titik rawan globalisasi. Globalisasi menciptakan ruang yang dapat “membajak” kesadaran masyarakat untuk menjadi masyarakat yang lain. Globalisasi bisa menjadi Amerikanisasi—juga Arabisasi—, dimana dominasi informasi dan film-film Amerika menguasai menu yang disuguhkan TV dan instrumen globalisasi lainnya. Maka nilai-nilai kebaikan dalam persepsi masyarakat Indonesia misalnya, adalah nilai-nilai kebaikan yang dikonstruksi oleh masyarakat Amerika.

Ini bukan berarti kita harus menolak globalisasi lantaran globalisasi adalah Amerikanisasi. Sebab, nilai-nilai yang ditawarkan Amerika sendiri tidak semuanya buruk dan berbahaya. Demokrasi contohnya, adalah nilai-nilai luhur yang kita (baca: umat Islam dan bangsa Indonesia) terima dari Amerika sebagai kebaikan dalam bernegara dan bemasyarakat. Dalam penjelasan ini, sejatinya kita melihat secara kritis tentang nilai-nilai buruk yang membajak kesadaran, tanpa memandang apakah itu berasal dari Barat atau dari Islam.

Artikulasi Pemuda Islam
Dalam konteks situasi hegemonik seperti inilah pemuda Islam diharapkan dapat menumbuhkan keberagamaannya yang lebih membumi. Sejauh pengamatan saya, sebagian besar pemuda Islam, dan umat Islam umumnya, masih memperlakukan Islam sebagai lembaga yang mengatur tata cara pengabdian kepada Tuhan, sehingga nilai ibadah yang tetinggi dalam kacamata mereka adalah manakala melakukan ritualitas (baca: ibadah mahdoh) secara sempurna dengan aturan-aturan baku yang telah ditetapkan. Dengan begitu, Islam tidak dijadikan sebagai kekuatan pendorong untuk melakukan kritik sosial, justru terkesan dijauhkan dari problem sosial (baca: pembajakan kesadaran, konsumerisme, hedonisme, selebrisme, kedangkalan, dst).

Perjuangan pemuda Islam harus menegaskan bahwa Islam yang berorientasi ritual, telah mengebiri ideologi emansipatorisnya. Sejarah menceritakan bahwa sejak awal, perjuangan Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw adalah melakukan emansipasi harkat manusia. Islam di awal pertumbuhannya, mendekonstruksi (baca: mengkritisi dan menolak) perbudakan yang saat itu dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Dengan kata lain, nabi Muhammad mengajak manusia untuk kritis terhadap tatanan masyarakat yang telah ada dalam masyarakat. Dan itu bukan pekerjaan mudah, sebab beliau berada dalam masyarakat yang telah terhegemoni, yang kesadarannya telah dibajak oleh agama para leluhur.

Pemuda Islam sejatinya mulai membaca kondisi objektif sosial yang diakibatkan globalisasi. Sederhananya dapat dikatakan bahwa kesalehan (baca: mengerjakan ibadah mahdoh) harus disertai dengan pembacaan konteks sosial sekarang. Kemudian, bersikap terhadapnya. Dengan begitu, keberagamaan yang bermakna ditemukan.
Penggunaan hermeneutika sosial dan hermeneutika teks (baca: hermeneutika ibadah mahdoh) adalah pilarnya. Pengagungan kesalehan individual, yang membanggakan praktek ritual individu semata, tidaklah cukup untuk disebut sebagai pengikut rosulullah saw. Pengabaian terhadap problem dan dampak globalisasi yang menerpa umat manusia, adalah sikap yang tidak islami dan mengkhianati perjuangan suci rosul saw.

Media pers dan Umat Islam

SUATU perkembangan penting dalam kehidupan media telah terjadi sejak tiga dekade terakhir ini. Berbeda dengan dekade-dekade sebelumnya, media massa telah menjadi kekuatan yang relatif terpisah dari pengelompokan-pengelompokan sosial berdasarkan ideologi atau aliran. Meskipun kaitan-kaitan semacam itu masih ada, pengaruhnya sudah tidak lagi intensif dan mendalam. Koran atau majalah tidak menjadi corong kekuatan politik tertentu.
Hal itu bisa diterangkan dari kenyataan bahwa media telah diisolasi (oleh pemerintah) dari afiliasi-afiliasi aliran yang mengakar sebelumnya, untuk kemudian dikebawahkan kepada suatu aspirasi yang lebih rasional, yakni pembangunan ekonomi. Berbarengan dengan kian merosotnya kekuatan aliran dan organisasi politik yang berbasis aliran, maka tak pelak media yang menjadi corongnya pun kehilangan basis dukungan politik dan ekonominya. Di sinilah kekuatan modal maju ke depan disangga oleh "birokrasi" surat izin usaha penerbitan pers (SIUPP) yang bersumber dari patronase negara. Akibatnya, tak bisa tidak, munculnya suatu jalinan yang saling menyokong antara pemilik modal dan birokrasi. Dari sinilah kita bisa memahami, mengapa media pelan-pelan hadir sebagai kekuatan yang relatif independen terhadap kekuatan-kekuatan sosial-politik yang ada.
Demikianlah kita sudah mulai sulit menemukan suatu ekuivalensi atau padanan bagi koran-koran semacam Duta Masyarakat yang menjadi corong Partai NU, Harian Rakyat yang menjadi corong PKI, Bintang Timur yang menjadi corong PNI-kiri. Koran-koran itu menjadi perpanjangan dari partai-partai yang diwakilinya, dan oleh karena itu, juga meneruskan pertikaian-pertikaian yang terjadi di antara partai-partai itu. Polemik yang terjadi antarkoran tersebut sebetulnya adalah polemik yang mencerminkan perbedaan-perbedaan kepentingan partai-partai yang mendukungnya. Dengan begitu, kita bisa mengatakan bahwa partai dan media merupakan dua sisi dari keping yang sama.
Ketika kekuatan partai pudar, maka "koran berbasis partai", atau lebih tepatnya media berbasis aliran, juga memudar. Sebagai gantinya, muncullah koran atau majalah semacam Kompas, Suara Pembaruan, Merdeka, Pelita, TEMPO, dan semacamnya. Meski media tersebut tidak bisa dikatakan sepenuhnya terhindar dari pengaruh-pengaruh "aliran" atau kekuatan sosial-keagamaan tertentu, variabel nonaliran jelas lebih menentukan dalam iformasi dan pertumbuhannya.
Akibat langsung yang bisa kita lihat adalah hilangnya sarana yang bisa digunakan oleh kekuatan-kekuatan sosial-keagamaan untuk menyuarakan kepentingan mereka lewat media. Mereka kehilangan suatu alat untuk mempengaruhi pembentukan pendapat khalayak (opillion making). Sebab, media cetak dengan sirkulasi besar hampir kesemuanya tidak lagi bersandal pada kekuatan partai atau aliran. Sebaliknya, modal dan proteksi birokrasilah yang menjadi tumpuan media-media itu.
Kecemburuan Media Alternatit
Akan halnya aspirasi kekelompokan hanya bisa muncul secara "partikelir" di media-media alternatif yang terbit secara terbatas untuk memenuhi kepentingan kelompok bersangkut. Dan, karena sirkulasi yang amat terbatas, dua hal sangat menonjol sebagai ciri media-media tersebut. Di satu pihak, sirkulasi yang amat terbatas itu menyebabkan gagalnya media-media itu tumbuh sebagai kekuatan ekonomi yang independen dengan iklan sebagai tumpuan utamanya. Di samping itu, media-media tersebut juga tidak dapat mempengaruhi pendapat umum secara seimbang dibandingkan dengan kawan-kawannya dari media "resmi". Timpangnya kekuatan media alternatif dan media resmi itulah yang menyebabkan adanya semacam kecemburuan dari pihak media-media altematif itu terhadap media-media resmi tersebut.
Sejauh bisa diamati, hubungan yang timpang itu bisa "meledak" menjadi semacam insiden yang tidak mustahil menyebabkan dilikuidasinya media resmi. Kasus Monitor adalah contoh yang konkret. Monitor adalah sebuah tabloid yang termasuk dalam keluarga bisnis kelompok Kompas-Gramedia. Kelompok tersebut, oleh umat Islam dicurigai sebagai mempunyai hubungan yang dekat dengan kepentingan-kepentingan orang Katolik.
Sebagai suatu "kartel" yang tumbuh dengan cepat dan menaungi harian Kompas yang mempunyai peredaran luas, tak bisa dielakkan jika umat Islam kemudian menaruh rasa curiga, yang sumbernya boleh jadi adalah kecemburuan terhadap Monitor sebagai "ujung tombak" bagi konspirasi Katolik merusak "moral" umat Islam. Sebagaimana telah menjadi pengetahuan umum, Monitor menampilkan suatu liputan-liputan yang berani mengenai kehidupan pribadi para artis disertai foto-foto yang di mata umat Islam menyinggung aurat.
Sebenarya, Manitor bukanlah kasus satu satunya dalam kontek hubungan antara umat lslam dan media massa. Dalam jangka panjang, bisa diproyeksikan bahwa hubungan-sarat-kecemburuan itu akan terus mengancam keberadaan media yang sedang bergulat untuk memperjuangkan terciptanya iklim pers yang bebas. Beberapa koran besar mengalami "insiden" itu. Republika, beberapa waktu lalu, harus menerima dua kali protes dari umat Islam. Yang pertama, protes karena harian itu memuat tulisan tentang Ahmad Wahib yang bersama tokoh-tokoh lain seperti Nurcholish Madjid, Djohan Efendi, dan Dawam Rahardjo, dianggap peletak dasar "liberalisme Islam" di Indonesia. Protes itu sudah tentu bukan semata-mata diarahkan kepada tulisan itu sendiri, tetapi terhadap kecenderungan umum koran-koran resmi yang lebih mendukung suatu corak penafsiran Islam yang lebih liberal dan inklusif.
Islam yang Lebih Liberal.
Kedua, protes karena koran itu dianggap kurang lagi "mewakili" kepentingan umat Islam yang sejak awal dikleim oleh pendirinya sebagai salah satu raison d'etre berdirinya koran tersebut. Atau lebih tepatnya, Republika dianggap kurang mewakili salah satu corak penafsiran Islam yang lebih "fundamentalistis". Harian Kompas baru-baru ini juga sedang mengalami soal dengan umat Islam karena memuat suatu tajuk yang oleh lapisan tertentu dalam umat dianggap menyinggung "perasaan" keagamaan mereka.
Kenyataan-kenyataan tersebut menambahkan suatu dimensi yang lain lagi terhadap soal yang sudah diungkap di bagian muka. Jika di muka dinyatakan bahwa aspirasi -- atau tepatnya salah satu corak aspirasi -- umat kurang terwakili dalam media resmi, maka salah satu manifestasi dari soal itu terlihat dengan gamblang dalam kecenderungan koran-koran resmi terhadap penafsiran Islam yang lebih liberal dan inklusif. Harian Kompas jelas amat sulit dikatakan kurang memperhatikan suatu proporsi yang wajar dalam meliput soal-soal keislaman. Apalagi harian Republika yang konon menandai "munculnya" kembali suatu variasi haru atas kecenderungan lama, yakni "koran berbasis aliran". Yang benar, Kompas dan koran-koran lain lebih memihak kepada salah satu corak penafsiran yang begitu beragam dalam Islam. Dan ini tentu sesuatu yang wajar.
Persoalan tersebut kemudian menyadarkan kita akan suatu kenyataan bahwa hubungan antara media dan umat Islam kian rumit dan mengandung ketegangan-ketegangan yang mengancam. Jika terhadap itu semua ditambahkan suatu dimensi lain, pastilah soalnya akan lebih kompleks. Dimensi lain itu ialah adanya kenyataan bahwa pemerintah tampaknya lebih melindungi suatu "ortodoksi Islam" yang terwakili dalam lembaga Majelis Ulama Indonesia (Majelis Ulama Indonesia), demi terciptanya stabilitas politik. Dengan memberikan proteksi politis terhadap ortodoksi itu, kontrol atas kemajemukan Islam bisa lebih dijamin, dan dengan demikian rasa aman dari ancaman Islam juga bisa diperoleh.
Pemihakan pemerintah atas ortodoksi itu terlihat dengan gamblang dalam, misalnya, pencabutan SIUPP Monitor. Kenyataan tersebut kian menambah betapa rentannya hubungan antara media dan umat Islam. Di satu pihak, media resmi yang lebih bertumpu kepada kekuatan modal cenderung mengikuti aspirasi pasar yang tentu tidak sepenuhnya sesuai dengan "harga diri" umat, di pihak lain umat tidak mempunyai cukup alat untuk mengimbangi kekuatan media resmi dalam menciptakan pendapat umum.

Di balik kebebasan Pers Eropa

Menulis tentang kebebasan pers Eropa tidak berarti saya mempunyai pengetahuan luas tentang tema ini, saya hanya mencoba memenuhi permintaan bapak Huzain - koordinator Merdeka, untuk menulis tema ini sebagai lanjutan dari tulisan saya yang berjudul: “Islam, masih bermakna damai?” dan mencoba mengambil analisis tentang salah satu insiden besar di jaman ini.
Mungkin saya dan rekan lainnya yang kebetulan tinggal di sini (yang akan segera bergabung dengan Merdeka, masih dirahasiakan) mencoba menjadi koresponsal Merdeka dan memberikan pandangan berbeda bagi media berita di Indonesia- khususnya di Internet, melalui blog pribadi ini.
Pertanyaannya kenapa sebagian surat kabar-surat kabar di benua ini berani mempublikasikan gambar kartun Muhammad yang kontroversial itu setelah tahu reaksi keras umat Islam sedunia?
Sedangkan di Amerika Serikat, kebanyakan media massa memilih untuk tidak mempublikasikan karikatur tersebut. Sebagian mempublikasikan untuk memberi penjelasan pada masyarakat kenapa insiden ini bisa terjadi.
Ada beberapa jawaban yang saya akan coba tampilkan di sini:
1. Ketidaktahuan tentang Islam, adanya larangan menggambar nabi dan Tuhan kita supaya pengidolaan terhadap gambar, patung dan sebagainya oleh umat Islam dihindari.
2. Sikap bersikeras sebagian pers Eropa dalam pernyataan mereka tentang kebebasan pers dan pers yang independen.
3. Situasi politik, situasi dunia yang masih dipengaruhi oleh terrorisme internasional, situasi kekerasan di berbagai negara bermayoritas muslim seperti di Irak, Palestina dan Afghanistan.
4. Tidak adanya antisipasi terhadap reaksi keras umat Islam.
________________________________________________________
Beberapa partai politik di Uni Eropa pernah mengeluarkan pernyataan bahwa akar dari Eropa adalah Kristianisme. Untuk itu tidak mudah bagi Turki masuk ke dalam Uni Eropa dikarenakan beberapa pendapat yang menentang masuknya “Islam” ke badan pemerintahan ini.
Yang menganggap bahwa akar dari Eropa adalah kristianisme mencoba untuk memurnikan Eropa dengan menghalau masuknya pengaruh-pengaruh dari Islam.
Mengapa? mungkin dikarenakan observasi mereka terhadap apa yang terjadi di negara-negara bermayoritas Islam. Seperti di Afghanistan misalnya, di mana para perempuan dilarang keluar rumah tanpa kawalan suami atau laki-laki dari pihak keluarga, pakaian yang wajib dipakai yang menutupi seluruh tubuhnya (burka, cadar), hukuman rajam, dan seterusnya.
Dan lagi, yang terjadi di negara-negara ini adalah pencampuradukkan norma-norma agama dengan budaya setempat yang makin membuat gambaran Islam sebagai agama yang represif.
Hal-hal yang disebutkan di atas, bagi mereka adalah keterbelakangan, perendahan terhadap perempuan; hak asasi manusia - yang sudah jelas tidak dapat dibenarkan keberadaannya.
Eropa sebagai negara-negara yang mengaku telah beradab dan maju, tidak ingin pengaruh-pengaruh walaupun sekecil apapun dari (gambaran salah) Islam masuk ke negaranya terutama jika Turki berhasil bersatu ke dalam UE.
Selain dari rasa eropanisme yang mereka bangga-banggakan, ketidaktahuan mereka tentang Islam, di mana ada larangan keras menggambar Nabi dan Tuhan.
Sedangkan dalam agama Katolik sendiri, kebiasaan menggambar dan membuat patung sendiri sudah berlangsung beradab-abad lamanya. Jadi, kenapa kok kartun (bukan gambar hasil dari kenyataan, hanya imajinasi penggambar) Nabi Muhammad bisa sampai membuat kerusuhan pada umat Islam di seluruh penjuru dunia?
Bagi saya pribadi, gambar kartun itu sendiri tidak penting. Di sini sudah biasa mentertawakan Jesus, politikus, Tuhan, dalam karikatur. Tidak ada yang merasa terhina, karena itu hanya merupakan gambar kartun semata.
Namun tentu yang paling berbahaya dari kartun ini adalah gambar dari sorban nabi tersebut yang berbentuk bom.
Saya tidak tahu jelasnya bagaimana pendapat dari saudara-saudara kita yang berada di Libanon, Syria, Palestina, Indonesia, Iran, Pakistan dan Afghanistan, disebabkan apa kemarahan mereka? penggambaran kartun nabi itu sendiri atau penghubungan nabi dengan terroris? atau keduanya?
Sepanjang keberadaan kedua agama terpenting di dunia ini, Islam dan Kristen, selalu ada sentimen, rasa benci di antara ke dua pemeluk agama tersebut. Ini kenyataan yang ada.
Di dalam debat-debat pun ketika masing-masing pihak sudah mentok yang kristen akan mengambil frase “Muhammad banyak istrinya, istrinya Muhammad anak kecil”, dan yang Islam mengambil frase macam “Tuhanmu dibunuh kok diem aja? ngga bisa menyelamatkan diri?”, dan seterusnya…akhirnya debat pun berakhir dengan dihapusnya anggota-anggota tersebut oleh moderator, tanpa bisa mencapai kebenaran sebagai tujuan utama perdebatan.
Kembali pada tema ini lagi. Saya pikir, orang-orang Eropa yang memeluk agama Kristen (sebagian tidak mempraktekkannya) dan sebagian besar lain atheis, tidak merasa bahwa gambar kartun bisa sampai menyulut kemarahan umat Islam. Mungkin karena kebiasaan mereka yang kadang mentertawakan diri sendiri, ironisme, dan kultur keterbukaan.
Selain bisa saja hari ini menggambar Muhammad, di kesempatan lain mereka bisa menggambar Bhuda, Yesus - untuk lucu-lucuan…
Salah satu kesalahan si kartunis bagi saya pribadi adalah menghubungkan umat Islam (nabi Muhammad) dengan bom dan terrorisme.
Kesalahan pemimpin surat kabar itu sendiri, menerbitkan kartun yang hanya akan memprovokasi dan menghina penganut suatu agama, dan ia “lupa” menggunakan “common sense” (pikiran sehat) dalam pekerjaannya sebagai penjual berita.
Ke dua, reaksi surat kabar-surat kabar lainnya di berbagai negara selain Denmark (Spanyol, Italy, Perancis, Bulgaria,etc.) sebagai konfirmasi dari pemikiran mereka tentang “kebebasan berekspresi, kebebasan pers” tidak pada tempatnya.
Entah ini sebagai pernyataan rasa tidak takut terhadap kemarahan umat Islam, provokasi, rasa antipati terhadap Islam, entahlah…saya sendiri tidak mengerti.
Hanya Inggris yang kali ini membela umat Islam dengan menyatakan bahwa karikatur tersebut telah menghina kita.
Ketiga situasi politik di negara-negara bermayoritas muslim.
Yang terakhir tantangan Iran yang bersikeras dengan program energi nuklir di negaranya yang telah ditentang oleh, AS dan sekutunya. Juga pernyataan presiden Iran tentang Holocaust Yahudi yang katanya hanya sebuah mitos, pernyataannya bahwa Iran siap untuk menghancurkan Israel.
Situasi di Palestina dengan menangnya Hamas dalam pemilihan umum pertama yang di selenggarakan di wilayah Palestina. Ini membuat UE memberi ultimatum penghentian bantuan ekonominya terhadap Palestina karena Hamas dianggap sebagai grup terroris internasional.
Situasi di Irak, penculikan bahkan kadang pembunuhan terhadap warga-warga asing oleh grup terroris.
Pembakaran mobil-mobil oleh imigran dari Afrika utara di Paris.
Dan masih banyak lainnya.
Kejadian, peristiwa dan pernyataan-pernyaatan dari negara-negara bermayoritas muslim ini telah membentuk opini, bukan saja bagi para pemerintah Eropa, namun juga pada masyarakatnya - terhadap “image” Islam yang seringkali terlihat keras, kasar dan kejam.
Dan, dan saya tekankan….dari pihak kita sendiri, belum ada unjuk gigi dengan beraktuasi dengan cara sebaliknya.
Saya tidak tahu kenapa, misalnya di Palestina, Libanon, merayakan kemenangan misalnya suatu partai politik, kok malah menembakkan peluru ke udara? Bahkan perayaan pernikahan kerap dibumbui oleh penembakkan peluru ke udara (di mana suatu hari di Irak, karena hal ini, tentara AS mengira bahwa mereka adalah musuh, sehingga bom dijatuhkan di rumah orang yang sedang merayakan pesta tersebut, Masya Allah).
Saya masih tidak bisa mengkaitkan “perdamaian dan kegembiraan” dengan “peluru2 dan senapan”.
Oh ya, opini masyarakat Eropa, juga terjadi di Australia (saya lupa di mana saya membaca, seorang wartawati Australia yang memakai jilbab untuk melihat reaksi masyarakat sekitar. Hasilnya ia mendapat rekriminasi, diskriminasi, dan dipandang sebelah mata).
Ada satu hal lagi yang sering saya ingatkan pada kawan-kawan di Indonesia, “memang gampang menjadi muslim di negara yang bermayoritas muslim, kamu tidak peduli image Islam di luar. Mereka sering bersikukuh bahwa apapun yang terjadi, Islam adalah agama yang paling benar dan hal ini hanya mengarah pada intoleransi”.
Saya pikir, sebagai umat yang dewasa, kita juga harus berani melihat borok dan kekurangan diri kita sendiri.
Keempat, tidak ada bayangan dari pers Eropa bahwa gambar kartun tersebut akan menyulut kemarahan umat Islam.
Terlintas di pikiran saya, apakah mereka mengharapkan reaksi kita reaksi umat yang dewasa dan beradab?
Jika kita memang marah, pemerintah suatu negara tetap mempunyai KEWAJIBAN melindungi kedutaan besar (dalam hal ini) Denmark dari kekerasan dan kerusakan yang diperbuat oleh para demonstran.
Bahkan polisi harus bisa mencegah masuknya para demonstran itu ke dalam wilayah kedutaan (yang bukan wilayah Indonesia - i.e.). Sehingga masuk secara paksa ke dalam kedutaan asing berarti memasuki wilayah negara lain tanpa izin dan ini bisa berakibat fatal pada hubungan kedua negara tersebut.
Orang-orang barat biasanya berdemonstrasi secara damai. Dengan pamflet, boleh berteriak-teriak, boleh berdiam diri, maupun berjalan kaki, tidak merusak.
Jadi mungkin inikah yang diharapkan orang-orang yang telah mempublikasikan gambar tsb.? atau memang mereka memang tidak menyangka sebegitu besarnya kemarahan yang meletup di kalangan umat Islam?
Dalam salah satu pamflet di Surabaya, ada yang bertuliskan “vonis hukuman mati bagi yang menghina Muhammad”.
Atau gambar PM Denmark yang lehernya sedang digorok oleh pisau di Jakarta.
Mungkin juga reaksi marah yang kolektif ini telah dipicu oleh seseorang atau suatu kelompok. Dan reaksi marah pada tiap orang pun berbeda-beda. Dan juga, apakah reaksi yang bagi saya “berlebihan” ini merupakan akumulasi dari kemarahan umat terhadap penyerangan terhadap Islam oleh barat?

Apakah yang dimaksud dengan pers Islam?

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Litbang Republika dan The Asia Foundation tentang Islam and Civil Society, dengan tema khusus “Pers Islam dan Negara Orde Baru”, mendefinisikan pers Islam sebagai: “Pers yang dalam kegiatan jurnalistiknya melayani kepentingan umat Islam, baik yang berupa materi (misalnya kepentingan politik) maupun nilai-nilai”.

Kemunculan pers Islam dimulai pada awal abad ke-20, bersamaan dengan lahir dan menyebarnya ide-ide reformasi yang berkembang di Timur Tengah, terutama dari Mesir. Ide-ide tentang reformasi itu setidaknya menyebar melalui dua majalah terkemuka Mesir, Urwatul Wutsqo dan Al Manar. Penyebaran ide ini begitu luas, hingga ke Jawa, dan melahirkan gerakan Jami'at Khair. Para anggota organisasi ini kemudian menyebar dan mendirikan organisasinya sendiri, seperti KH Ahmad Dahlan yang mendirikan Muhammadiyah. Selain Muhammadiyah, berdiri pula beberapa perkumpulan lain seperti Sarekat Dagang Islam, Persatuan Islam, atau Jong Islamienten Bond (Joenaidi, 1997). Organisasi-organisasi ini membangun iklim diskusi bagi pemikiran Islam mutakhir. Dalam skala yang lebih luas, ini memunculkan kebutuhan akan pers Islam.

Pers Islam, sebagai bagian dari pers pribumi yang bertujuan menyebarkan semangat kebangsaan dan cita-cita kemerdekaan, awalnya tampak sebagai media “partisan”, karena kecenderungan untuk menyebarkan ideologi kelompok penerbitnya. Namun setelah pintu reformasi terbuka pada akhir 1997 dan berkembang era 1998 keberadaan pers Islam semakin luas, baik itu sebagai media dakwah maupun sebagai wadah perlawanan rezim. Dan hal inilah yang menjadi pemicu dari semakin berkembangnya pers Islam di Indonesia.

Media Dakwah

Dakwah, penyebaran informasi, kontrol sosial merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pers, sebagaimana fungsi pers itu sendiri terhadap masyarakatnya.

Pers Islam sebagai media dakwah, tentunya tidak dibatasi pada sisi kepentingan semata. Mengingat banyaknya lapisan kultur, budaya dan agama di Indonesia, maka Pers Islam cenderung menyesuaikan dengan pasarnya. Dewasa ini belum terlihat Pers Islam yang benar-benar mencerminkan nilai Islam secara penuh, baik dari kemasan maupun isinya.

Terlepas dari kemasan ataupun tampilan, keberadaan pers Islam sebagai media dakwah sedikit banyaknya telah berperan aktif dalam pembentukan karakter bangsa Indonesia. Dan pers Islam disini bukan hanya dilakukan oleh orang-orang yang semata-mata memang berhaluan kesana, misalnya pesantren, ulama, dsb. Namun, kini banyak orang atau lembaga yang tidak terlalu fokuspun banyak yang menerbitkan yang namanya pers Islam. Tinggal disini kita harus membatasi, mana yang memang membawa kepentingan umat Islam dan mana yang tidak. Dalam arti, menghindari pers Islam yang hanya berorientasi pada kepentingan bisnis dan pasar semata.

Dakwah dapat didefinisikan sebagai penyebarluasan ajaran atau paham, dan media merupakan alat penyebaran itu. Jadi media dakwah adalah alat penyebaran ajaran atau paham. Maka, pengemasannya pun harus benar-benar bisa diterima pembaca yang notabene memiliki banyak pilihan untuk memilih media mana yang selayaknya dikonsumsi. Dalam artian, pers Islam sebagai media dakwah harus bisa sedemikian mungkin untuk menarik simpati pasarnya, dengan tentunya tidak melepaskan visi dan misinya sebagai media dakwah.

Perkembangan media dewasa ini, memungkinkan terjadinya persaingan ataupun perang media. Dan disini, peran pers Islam harus mampu menandingi dan menetralisir segala kekeliruan yang dilakukan media lainnya. Sebagai media dakwah, sudah semestinya pers Islam bersifat provokatif dan melakukan agitasi-agitasi yang dapat mempengaruhi pembacanya dan ini dapat dilakukan dalam berbagai cara serta pendekatan. Seperti yang dilakukan oleh Annida yang mencoba mendekati pembacanya melalui jalur sastra. Dalam perkembangannya, Annida telah memiliki pangsa pasar tersendiri, sehingga ketika sudah mempunyai alur yang jelas, dakwah agama pun akan dengan mudahnya dilancarkan. Lain halnya dengan Republika, yang berada pada jalur umum, disini republika dituntut untuk berhati-hati dalam memainkan perannya sebagai media dakwah, atau kalau tidak maka Republika akan kehilangan pasar atau umat pembacanya yang notabene berlatar umum.