Sinematografi adalah kata serapan dari bahasa Inggris Cinematography yang berasal dari
bahasa Latin kinema 'gambar'. Sinematografi sebagai ilmu terapan merupakan bidang ilmuyang membahas tentang teknik menangkap gambar dan menggabung-gabungkan gambar tersebut sehingga menjadi rangkaian gambar yang dapat menyampaikan ide (dapat mengemban cerita).
Sinematografi memiliki objek yang sama dengan fotografi yakni menangkap pantulan cahaya yang mengenai benda. Karena objeknya sama maka peralatannyapun mirip. Perbedaannya, peralatan fotografi menangkap gambar tunggal, sedangkan sinematografi menangkap rangkaian gambar. Penyampaian ide pada fotografi memanfaatkan gambar tunggal, sedangkan pada sinematografi memanfaatkan rangkaian gambar. Jadi sinematografi adalah gabungan antara fotografi dengan teknik perangkaian gambar atau dalam sinematografi disebut montase (montage).
Sinematografi sangat dekat dengan film dalam pengertian sebagai media penyimpan maupun sebagai genre seni. Film sebagai media penyimpan adalah pias (lembaran kecil) selluloid yakni sejenis bahan plastik tipis yang dilapisi zat peka cahaya. Benda inilah yang selalu digunakan sebagai media penyimpan di awal pertumbuhan sinematografi. Film sebagai genre seni adalah produk sinematografi.
Jumat, 26 November 2010
Pemuda Station Kereta
Hari itu adalah saat yang tak disangka-sangka oleh ali sebut begitu namanya, mungkin nasib sial baginya saat bertubi-tubi bogem mentah mendarat diwajahnya yang polos, pria 16 tahunnya ini hampir tewas di hakimi masa jika aparat yang berwajib terlambat datang ke tempat kejadian, ali tertangkap tangan saat mencoba mencopet dompet seorang ibu tua di station kreta itu, malang baginya saat ushanya di pergoki seorang muda bertopi hitam yang sedang menunggu kereta tujuan malang sedang duduk diujung kursi tunggu kebarangkatan, maling – maling teriak pemuda itu kearah ali yang sontok mengagetkan ali hampir mengelabui perempuan tua itu, seisi station melongok kearah sumber suara maling-maling ucapan itu pun diulangi pemuda tadi sambil mengarahkan tanganya kearah kanan dekat gerbong kosong dimana ali dan permpuan tua itu berada, gemuruh suara maling pun membahana setelah sebagaian besar warga station menyadari teriakan pemuda tersebut, ali terperanjat rupanya usahanya telah diketahui sebagian besar orang di station itu, lari ali teriak kawannya yang berada di ujung station yang jauh dari keramayan terdengar sayup-sayup sampai ditelinga ali, rupanya aksi yang boleh dikatakan gagal tersebut yang tentu membahayakan nyawanya diketahui oleh temanya yang mungkin teman seprofesi.
orang-orang yang telah mengetahui aksi ali tentu saja geram melihat kejahatan tersebut walaupun yang melakukan anak dibawah umur, yang lebih membuat kemarahan orang membuncah-buncah, ternyata aksi pencurian, pencopetan tersebut sudah berulang kali tanpa diketahui siapa orangnya, melihat siapa yang melakukan selama ini tentu masyarakat sangat ingin menangkapnya, itu dia cuap salah seorang masa di tempat itu, mendengar kata-kata itu perempuan tua itu baru sadar bahwa ia baru saja akan menjadi korban pencopetan di station kareta api tua itu, mengetahui hal tersebut ia pun ikut berteriak, sebagian pemuda berlari kearah ali dengan maksud menangkapnya, sadar dirnya telah dikejar ali pun tak tinggal diam, " wah ini bahaya bisa mati aku dipukuli masa" terbersit dalam hati ali, ia pun tak kuasa kemudian ambil langkah seribu berusaha menghindari diri dari masyarakat yang ingin menangkapnya.
Aksi kejar-kejaran pun terjadi disela-sela station, dengan sekuat tenaga ali berlari seskali menoleh kebelakang melihat orang-orang yang mengejarnya "kalaupun tadak dapat dompet tadi paling tidak aku harus selamat" ungkap ali dalam hatinya, ada sekitar delapan orang yang mengejar terdiri dari para remaja dan dan paruh baya yang semuanya laki-laki, mereka pun tak kalah sigap melakukan pengejaran, sambil berteriak maling sambil menunjukan telunjuknya kearah ali yang berada tak terlalu jauh di depan mereka, orang-orang yag tak ikut mengejarpun ikut bersorak kendati mereka pun tak tahu siapa yang mencuri pokoknya ikut teriak, laksana suara gemuruh di siang hari seketika membuat seisi station kereta itu menjadi gaduh, pengejaran semakin sengit ali tak mau pasrah dengan keadaan, satu-satunya yang harus dia lakukan skarang adalah lolos dari pengejaran.
Dengan kekuatan yang tersisa ia ayunkan langkahnya berharap bisa lari dari kejaran masa, matanya nanar tajam kedepan skarang tak dipedulikannya lagi orang-orang yang berada di sekitarnya apalagi orang dibelakang yang amat bernafsu menagkapnya yang ada di otaknya lari dari kejaran dan selamat sampai dirumah, kejar-kejaran pun terjadi beberapa menit sebelum rel yang kropos itu t menghentikannya, "brak" ali pun tersungkur ketanah, matanya berkunang-kunang sekilas ia lihat kakinya mengucur darah, dengan selang waktu yang begitu singkat tiba-tiba bogem mentah menghajar pipi kirinya, dakduk-dakduk hantaman kakipun dirasakannya begitu tepat mendarat di ulu hatinya, ali pun hampir tak dapat merasakan bandanya, tersirat dibenaknya mungkin inilah akhir dari hidupku,
Dari kajauhan datang bebeparapa orang petugas pengamanan station yang dengan sigap menghentikan amukan masa yang hampir-hampir menghilangkannya nya pemuda itu, ali pun diselamatkan dari maut, ia dengan cepat diamankan dan dibawa ke kantor pos keamanan kereta untuk selanjutnya dibawa kerumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama. Walaupun masih dibawah umur namun proses tetap dijalankan karena perbuatanya yang melanggar hukum dan tergolong tindakan pidana
orang-orang yang telah mengetahui aksi ali tentu saja geram melihat kejahatan tersebut walaupun yang melakukan anak dibawah umur, yang lebih membuat kemarahan orang membuncah-buncah, ternyata aksi pencurian, pencopetan tersebut sudah berulang kali tanpa diketahui siapa orangnya, melihat siapa yang melakukan selama ini tentu masyarakat sangat ingin menangkapnya, itu dia cuap salah seorang masa di tempat itu, mendengar kata-kata itu perempuan tua itu baru sadar bahwa ia baru saja akan menjadi korban pencopetan di station kareta api tua itu, mengetahui hal tersebut ia pun ikut berteriak, sebagian pemuda berlari kearah ali dengan maksud menangkapnya, sadar dirnya telah dikejar ali pun tak tinggal diam, " wah ini bahaya bisa mati aku dipukuli masa" terbersit dalam hati ali, ia pun tak kuasa kemudian ambil langkah seribu berusaha menghindari diri dari masyarakat yang ingin menangkapnya.
Aksi kejar-kejaran pun terjadi disela-sela station, dengan sekuat tenaga ali berlari seskali menoleh kebelakang melihat orang-orang yang mengejarnya "kalaupun tadak dapat dompet tadi paling tidak aku harus selamat" ungkap ali dalam hatinya, ada sekitar delapan orang yang mengejar terdiri dari para remaja dan dan paruh baya yang semuanya laki-laki, mereka pun tak kalah sigap melakukan pengejaran, sambil berteriak maling sambil menunjukan telunjuknya kearah ali yang berada tak terlalu jauh di depan mereka, orang-orang yag tak ikut mengejarpun ikut bersorak kendati mereka pun tak tahu siapa yang mencuri pokoknya ikut teriak, laksana suara gemuruh di siang hari seketika membuat seisi station kereta itu menjadi gaduh, pengejaran semakin sengit ali tak mau pasrah dengan keadaan, satu-satunya yang harus dia lakukan skarang adalah lolos dari pengejaran.
Dengan kekuatan yang tersisa ia ayunkan langkahnya berharap bisa lari dari kejaran masa, matanya nanar tajam kedepan skarang tak dipedulikannya lagi orang-orang yang berada di sekitarnya apalagi orang dibelakang yang amat bernafsu menagkapnya yang ada di otaknya lari dari kejaran dan selamat sampai dirumah, kejar-kejaran pun terjadi beberapa menit sebelum rel yang kropos itu t menghentikannya, "brak" ali pun tersungkur ketanah, matanya berkunang-kunang sekilas ia lihat kakinya mengucur darah, dengan selang waktu yang begitu singkat tiba-tiba bogem mentah menghajar pipi kirinya, dakduk-dakduk hantaman kakipun dirasakannya begitu tepat mendarat di ulu hatinya, ali pun hampir tak dapat merasakan bandanya, tersirat dibenaknya mungkin inilah akhir dari hidupku,
Dari kajauhan datang bebeparapa orang petugas pengamanan station yang dengan sigap menghentikan amukan masa yang hampir-hampir menghilangkannya nya pemuda itu, ali pun diselamatkan dari maut, ia dengan cepat diamankan dan dibawa ke kantor pos keamanan kereta untuk selanjutnya dibawa kerumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama. Walaupun masih dibawah umur namun proses tetap dijalankan karena perbuatanya yang melanggar hukum dan tergolong tindakan pidana
Dakwah dan kemajuan teknologi
Mahasiswa adalah aset utama suatu bangsa dimana mahasiswa memang diharapkan sebagai pelopor ide-ide segar yang mamapu memberi solusi terhadapat persoalan yang semakin lama semakin komplek, apalagi sebagai seorang mahasiswa islam ia dituntut harus mampu menyajikan islam ketengah-tengah masyarakat islam dengan kemasan yang baru dimana dakwah harus benar-benar mencapai sasaranya.
“Sampaikanlah, walau hanya satu ayat,” demikian ditegaskan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umatnya suatu ketika. Ujaran yang sangat terkenal tersebut berintikan ajakan kepada para penganut agama Islam untuk senantiasa menyempatkan diri untuk berdakwah dan berbagi pengetahuan bagi sesama, kapanpun dan dimanapun.
Sejalan dengan perkembangan teknologi yang mengakibatkan perubahan tata nilai dan budaya manusia ke arah tata kehidupan yang bersifat rasional dan fungsional, pemanfaatan media untuk menyampaikan pesan dakwah merupakan potensi penting dan langkah strategis yang harus mendapat perhatian proporsional. Jadi, sistematika dakwah konvensional yang sebelumnya sangat verbalistik, perlu perubahan paradigma seiring tumbuhnya media informasi ini.
Di satu sisi, kemajuan tersebut mendorong tumbuhnya ‘budaya baru’ bagi masyarakat dan bangsa kita untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Di sisi lain, perkembangan tersebut juga mendorong terjadinya ekspektasi dalam masyarakat terhadap nilai-nilai populer dan gaya hidup yang secara kultural tidak semuanya dapat diaplikasikan dalam konteks budaya nasional kita.
jika hal tersebut tidak segera mendapat perhatian yang cukup, dapat diduga bahwa suatu saat informasi kebajikan (dakwah) islam tidak akan efektif lagi karena derasnya informasi lain yang sering kali mereduksi informasi tentang nilai-nilai kebajikan islam, sehingga orang jauh lebih tertarik dengan hal-hal lain ketimbang sekedar mendengar dakwah islam.
Pada dasarnya, pesatnya perkembangan dunia pertelevisian dewasa ini merupakan fenomena yang sehat, selama sejalan dengan semangat mengembangkan sistem komunikasi yang relevan dengan globalisasi informasi dan komunikasi.
Namun perlu dicatat pula, pertumbuhan dunia pertelevisian seperti sekarang ini harus diwaspadai, karena menghadapkan kita pada perbagai tantangan besar di seluruh aspek kehidupan, baik ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun sistem pertahanan keamanan.
Islam sendiri tidak melarang penggunaan teknologi informasi sepanjang dapat meningkatkan produktivitas kesalehan sosial dan nilai dalam upaya pengabdian seorang hamba kepada kepada Tuhannya. Yang menjadi persoalan adalah, bahwa dampak negatif teknologi media seperti televisi yakni “lahirnya” nilai-nilai baru yang bertentangan dengan agama.
Berdakwah merupakan kewajiban setiap manusia, setiap orang dalam berbagai profesi bisa melaksanakan da’wah. Sebab berda’wah dapat dilakukan dalam multidemiensi kehidupan. Sebagaimana telah diketahui bahwa dakwah Islam tidak hanya bi al-lisan (dengan ungkapan/kata-kata), melainkan juga bi al-kitab (sengan tulis-menulis), bi at-tadbir (manajemen/pengorganisasian) dan bi al-hal (aksi sosial). Seorang da'i atau muballig yang baik tidak hanya menguasai materi dakwah, melainkan juga harus memahami budaya masyarakat yang menjadi sasaran dakwahnya. Hal itu akan mempermudah da'i dalam memilih kata dan menemukan metode apa yang harus digunakan. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Berbicaralah kepada manusia menurut kadar kecerdasan mereka.” (HR. Muslim).
Dan sesungguhnya potensi pemanfaatan teknologi semata-mata tergantung pada pandangan dan kreatifitas pengguna. Dan selama teknologi terus berkembang, pemanfaatan baru dan inovasi pemanfaatan pasti akan terus berlanjut. Jika pemafataan media teknologi yang begitu pesat perkembangannya dikmaksimalkan demi kepentingan dakwah akan memberikan pengaruh yang lebih luas kepada individu, sistem pendidikan, dan masyarakat insyallah.
“Sampaikanlah, walau hanya satu ayat,” demikian ditegaskan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umatnya suatu ketika. Ujaran yang sangat terkenal tersebut berintikan ajakan kepada para penganut agama Islam untuk senantiasa menyempatkan diri untuk berdakwah dan berbagi pengetahuan bagi sesama, kapanpun dan dimanapun.
Sejalan dengan perkembangan teknologi yang mengakibatkan perubahan tata nilai dan budaya manusia ke arah tata kehidupan yang bersifat rasional dan fungsional, pemanfaatan media untuk menyampaikan pesan dakwah merupakan potensi penting dan langkah strategis yang harus mendapat perhatian proporsional. Jadi, sistematika dakwah konvensional yang sebelumnya sangat verbalistik, perlu perubahan paradigma seiring tumbuhnya media informasi ini.
Di satu sisi, kemajuan tersebut mendorong tumbuhnya ‘budaya baru’ bagi masyarakat dan bangsa kita untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Di sisi lain, perkembangan tersebut juga mendorong terjadinya ekspektasi dalam masyarakat terhadap nilai-nilai populer dan gaya hidup yang secara kultural tidak semuanya dapat diaplikasikan dalam konteks budaya nasional kita.
jika hal tersebut tidak segera mendapat perhatian yang cukup, dapat diduga bahwa suatu saat informasi kebajikan (dakwah) islam tidak akan efektif lagi karena derasnya informasi lain yang sering kali mereduksi informasi tentang nilai-nilai kebajikan islam, sehingga orang jauh lebih tertarik dengan hal-hal lain ketimbang sekedar mendengar dakwah islam.
Pada dasarnya, pesatnya perkembangan dunia pertelevisian dewasa ini merupakan fenomena yang sehat, selama sejalan dengan semangat mengembangkan sistem komunikasi yang relevan dengan globalisasi informasi dan komunikasi.
Namun perlu dicatat pula, pertumbuhan dunia pertelevisian seperti sekarang ini harus diwaspadai, karena menghadapkan kita pada perbagai tantangan besar di seluruh aspek kehidupan, baik ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun sistem pertahanan keamanan.
Islam sendiri tidak melarang penggunaan teknologi informasi sepanjang dapat meningkatkan produktivitas kesalehan sosial dan nilai dalam upaya pengabdian seorang hamba kepada kepada Tuhannya. Yang menjadi persoalan adalah, bahwa dampak negatif teknologi media seperti televisi yakni “lahirnya” nilai-nilai baru yang bertentangan dengan agama.
Berdakwah merupakan kewajiban setiap manusia, setiap orang dalam berbagai profesi bisa melaksanakan da’wah. Sebab berda’wah dapat dilakukan dalam multidemiensi kehidupan. Sebagaimana telah diketahui bahwa dakwah Islam tidak hanya bi al-lisan (dengan ungkapan/kata-kata), melainkan juga bi al-kitab (sengan tulis-menulis), bi at-tadbir (manajemen/pengorganisasian) dan bi al-hal (aksi sosial). Seorang da'i atau muballig yang baik tidak hanya menguasai materi dakwah, melainkan juga harus memahami budaya masyarakat yang menjadi sasaran dakwahnya. Hal itu akan mempermudah da'i dalam memilih kata dan menemukan metode apa yang harus digunakan. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Berbicaralah kepada manusia menurut kadar kecerdasan mereka.” (HR. Muslim).
Dan sesungguhnya potensi pemanfaatan teknologi semata-mata tergantung pada pandangan dan kreatifitas pengguna. Dan selama teknologi terus berkembang, pemanfaatan baru dan inovasi pemanfaatan pasti akan terus berlanjut. Jika pemafataan media teknologi yang begitu pesat perkembangannya dikmaksimalkan demi kepentingan dakwah akan memberikan pengaruh yang lebih luas kepada individu, sistem pendidikan, dan masyarakat insyallah.
KHAZANAH INFORMASI ISLAM
PERKEMBANGAN INFORMASI ISLAM
adalah munculnya konflik nilai-nilai sosial dan budaya antar bangsa. Globalisasi sebagai akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menimbulkan adanya sistem satelit informasi dunia, konsumsi global, gaya hidup, pola hidup kosmopolitan, bahkan pola fikir tanpa batas, serta mundurnya kedaulatan suatu negara kesatuan dan tumbuhnya kesadaran global bahwa dunia adalah sebuah lingkungan yang terbentuk secara berkesinambungan dan muncul kebudayaan global yang membawa pengaruh terhadap perkembangan sosial, budaya dan nilai yang beraneka ragam. Konsekuensi yang tidak dapat dihindari.
Perkembanagan yang begitu pesat terjadi di berbagai aspek dan sisi termasuk dalam perkembangan dunia islam, perkembangan ini cenderung kearah yang baik tapi tidak kita nafikan bahwa perkembangan yang begitu pesat dapat mempengaruhi nilai-nilai islam yang dapat terkikis akibat wertenisasi. Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri merupakan lembaga pendidikan tinggi yang difokuskan pada kajian keislaman. bahwa pembidangan Ilmu Agama Islam dibagi kepada delapan bidang, yaitu: (1) Ilmu al-Qur’an dan Hadits; (2) Pemikiran dalam Islam; (3) ilmu Fiqh (Hukum Islam) atau Pranata Sosial; (4) Ilmu Sejarah dan Peradaban Islam; (5) ilmu bahasa; (6) ilmu Pendidikan Islam; (7) ilmu Dakwah Islam; dan (8) ilmu Perkembangan Pemikiran Modern di Dunia Islam.
Dalam hal ini orientasi ilmuwan dalam menekuni ilmu pengetahuan semakin sempit, sejalan dengan corak ilmu pengetahuan yang dewasa ini bersifat spesialistik. Hal ini memberikan dampak pada:
1. Ilmu spesifik akan kurang mengenal jati dirinya sebagai bagian dari Ilmu Pengetahuan, terasing & kurang menghargai cabang Ilmu Pengetahuan yang lain.
2. Ilmuwan spesifik lebih bercorak pragmatik, sehingga kurang memperhatikan nilai-nilai hidup secara kaffah serta kurang memberikan orientasi, pemilihan dan kebebasan.
B. ILMU PENGETAHUAN & FUNGSI PENELITIAN DALAM PENGEMBANGAN ILMU.
Gagasan dasar pengembangan ilmu melalui penelitian bertujuan untuk memecahkan berbagai masalah kehidupan melalui pendekatan ilmiah, sehingga semua pihak akan menerima kebenaran, khususnya kebenaran dalam Islam. Selain itu penelitian juga akan menjamin terbangunnya sinergisitas kaidah ilmiah Agama Islam dengan kaidah sosial dalam konteks satuan tertentu, terutama dalam konteks manusia Indonesia. Dan yang paling penting adalah penelitian akan mensenergiskan Ilmu Agama Islam dengan ilmu sosial, humaniora, dan ilmu kealaman dalam kegiatan penelitian yang multi-inter-disipliner. Ilmu ditempatkan sebagai instrumen dan cara kerja untuk memecahkan masalah kemasyarakatan secara ilmiah.
Diharapkan untuk mengatasi masalah umat itu berawal dari upaya pendekatan-pendekatan yang praktis yang memunculkan solusi bagi umat dalam aplikasinya, jadi penelitian penelitian yang dilakukan menghasilakan untuk memecahkan masalah-masalah yang berkembang di masarakat.
C. PERAN PERGURUAN TINGGI ISLAM
Pada dasarnya, upaya pemeliharaan dan pelestarian naskah-naskah Islam Nusantara tersebut memang merupakan tanggung jawab bersama seluruh komponen masyarakat. Hanya saja, dalam konteks ini, institusi pendidikan semisal Universitas Islam Negeri (UIN), Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan perguruan tinggi Islam lainnya, tampaknya harus mengambil porsi yang lebih besar, karena setidaknya dua alasan:
Pertama, UIN/IAIN memiliki SDM yang kuat dalam bidang keislaman, termasuk di dalamnya penguasaan atas bahasa yang banyak digunakan dalam naskah, yakni bahasa Arab. Apalagi seperti telah dikemukakan berbagai naskah Melayu pun umumnya ditulis dengan aksara Arab (tulisan Jawi), sehingga penguasaan atas aksara dan bahasa tersebut menjadi sangat signifikan. Sejauh ini, minimnya penguasaan para filolog yang umumnya berlatar belakang pendidikan umum terhadap bahasa Arab seringkali menjadi faktor penghambat dilakukannya penelitian atas naskah-naskah keagamaan tersebut, sehingga tidak mengherankan jika naskah-naskah tersebut, khususnya yang berbahasa Arab, sejauh ini lebih banyak “ditelantarkan”.
Kedua, secara keilmuan, civitas akademika UIN/IAIN sangat berkepentingan dengan data-data yang terekam dalam naskah-naskah keagamaan tersebut. Sehingga, memelihara dan memanfaatkannya sebagai rujukan keilmuan, pada gilirannya akan memperkuat basis IAIN sendiri sebagai sebuah institusi pendidikan yang concern dengan bidang-bidang ilmu keislaman. Selain itu, kemudahan akses terhadap naskah-naskah tersebut juga diharapkan dapat membantu komunitas UIN/IAIN untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas tentang Islam (broader understanding of Islam),
D. MODEL PENELITIAN DALAM KEISLAMAN
Model Pengembangan Ilmu Pendekatan Deduktif adalah sebagai berikut:
1. Konseptualisasi teori secara ideal (moralitas atau transendental)
2. Membangun sistematika semua disiplin ilmu yang dikaji dari berbagai postulat
3. Melakukan analisis melalui proses pola fikir reflektif dan sintesis antara berbagai disiplin ilmu dan teori yang telah dibangun di atas.
4. penarikan kesimpulan.
Model Pengembangan Ilmu Multi-inter-disipliner menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
1. Pengembangan multidisipliner dilakukan dengan cara mengembangkan suatu disiplin ilmu melalui analisis dengan disiplin ilmu yang terkait, misalnya penelitian untuk mengembangkan ilmu pendidikan menjadi Islami, maka ilmu pendidikan dikonsultasikan dengan ilmu psikologi, sosiologi, kebudayaan, dan wahyu (al-Qur'an dan Hadith).
2. Pengembangan interdisipliner dilakukan dengan cara memaknai suatu konsep dari berbagai disiplin ilmu dikonsultasikan dengan wahyu (al-Qur'an dan Hadith.)
Model Pengembangan Ilmu keislamanPendekatan Reflektif Kontekstual adalah sebagai berikut:
1. model pengembangan reflektif kontekstual dapat ditempuh melalui proses berfikir secara bolak balik antara wahyu Allah dan data emperi (disiplin ilmu tertentu), sehingga ditemukan kesesuaian makna antara wahyu dan ilmu pengetahuan tersebut atau dapat pula dipakai metode mawdhu'i. Adapun langkah-langkahnya sebagaimana yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Abdul Hayy Al-Farmawi berikut ini:
2. Menetapkan masalah dan judul yang akan dibahas
3. Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut
4. Menyusun runtutan ayat sesuai dengan masa turunnya, disertai pengetahuan tentang asbab al-Nuzul
5. Memahami korelasi (munasabah) ayat-ayat tersebut dalam suratnya masing-masing
6. Menyusun pembahasan dalam kerangka yang sempurna (outline)
7. Melengkapi pembahasan dengan hadits-hadits yang relevan dengan pokok bahasan
8. Mempelajari ayat-ayat tsb secara keseluruhan dengan cara menghimpun ayat-ayat yang mempunyai pengertian yang sama atau mengkompromikan antara yang 'Amm (umum) dan yang Khas (khusus), mutlaq dan muqayyad atau yang pada lahirnya bertentangan, sehingga kesemuanya bertemu dalam satu muara tanpa perbedan atau pemaksaan.
Sementara itu Model Pengembangan Ilmu keislaman yang dikemukakan oleh Isma’il al-Faruqi adalah sebagai berikut.
1. Langkah-langkahnya sebagai berikut:
2. Similarisasi, yaitu pencarian kesamaan antara konsep-konsep sains dan konsep-konsep Islam
3. Paralelisasi, yaitu pencarian hal-hal yang identik antara konsep Islam dan konsep sains
4. Komplementasi , yaitu saling mengisi antara konsep sains dan konsep Islam
5. Komparasi, yaitu membandingkan antara konsep sains dan konsep Islam sampai menemukan gejala-gejala yang sama
6. Induktifikasi, yaitu asumsi-asumsi dasar dari teori-teori ilmiah yang didukung oleh temuan-temuan emperi dilanjutkan pemikirannya secara teori abstrak ke arah pemikiran metafisik/gaib.
7. Verifikasi, yaitu mengungkapkan hasil-hasil penelitian ilmiah yang menunjang dan membuktikan kebenaran wahyu.
adalah munculnya konflik nilai-nilai sosial dan budaya antar bangsa. Globalisasi sebagai akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menimbulkan adanya sistem satelit informasi dunia, konsumsi global, gaya hidup, pola hidup kosmopolitan, bahkan pola fikir tanpa batas, serta mundurnya kedaulatan suatu negara kesatuan dan tumbuhnya kesadaran global bahwa dunia adalah sebuah lingkungan yang terbentuk secara berkesinambungan dan muncul kebudayaan global yang membawa pengaruh terhadap perkembangan sosial, budaya dan nilai yang beraneka ragam. Konsekuensi yang tidak dapat dihindari.
Perkembanagan yang begitu pesat terjadi di berbagai aspek dan sisi termasuk dalam perkembangan dunia islam, perkembangan ini cenderung kearah yang baik tapi tidak kita nafikan bahwa perkembangan yang begitu pesat dapat mempengaruhi nilai-nilai islam yang dapat terkikis akibat wertenisasi. Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri merupakan lembaga pendidikan tinggi yang difokuskan pada kajian keislaman. bahwa pembidangan Ilmu Agama Islam dibagi kepada delapan bidang, yaitu: (1) Ilmu al-Qur’an dan Hadits; (2) Pemikiran dalam Islam; (3) ilmu Fiqh (Hukum Islam) atau Pranata Sosial; (4) Ilmu Sejarah dan Peradaban Islam; (5) ilmu bahasa; (6) ilmu Pendidikan Islam; (7) ilmu Dakwah Islam; dan (8) ilmu Perkembangan Pemikiran Modern di Dunia Islam.
Dalam hal ini orientasi ilmuwan dalam menekuni ilmu pengetahuan semakin sempit, sejalan dengan corak ilmu pengetahuan yang dewasa ini bersifat spesialistik. Hal ini memberikan dampak pada:
1. Ilmu spesifik akan kurang mengenal jati dirinya sebagai bagian dari Ilmu Pengetahuan, terasing & kurang menghargai cabang Ilmu Pengetahuan yang lain.
2. Ilmuwan spesifik lebih bercorak pragmatik, sehingga kurang memperhatikan nilai-nilai hidup secara kaffah serta kurang memberikan orientasi, pemilihan dan kebebasan.
B. ILMU PENGETAHUAN & FUNGSI PENELITIAN DALAM PENGEMBANGAN ILMU.
Gagasan dasar pengembangan ilmu melalui penelitian bertujuan untuk memecahkan berbagai masalah kehidupan melalui pendekatan ilmiah, sehingga semua pihak akan menerima kebenaran, khususnya kebenaran dalam Islam. Selain itu penelitian juga akan menjamin terbangunnya sinergisitas kaidah ilmiah Agama Islam dengan kaidah sosial dalam konteks satuan tertentu, terutama dalam konteks manusia Indonesia. Dan yang paling penting adalah penelitian akan mensenergiskan Ilmu Agama Islam dengan ilmu sosial, humaniora, dan ilmu kealaman dalam kegiatan penelitian yang multi-inter-disipliner. Ilmu ditempatkan sebagai instrumen dan cara kerja untuk memecahkan masalah kemasyarakatan secara ilmiah.
Diharapkan untuk mengatasi masalah umat itu berawal dari upaya pendekatan-pendekatan yang praktis yang memunculkan solusi bagi umat dalam aplikasinya, jadi penelitian penelitian yang dilakukan menghasilakan untuk memecahkan masalah-masalah yang berkembang di masarakat.
C. PERAN PERGURUAN TINGGI ISLAM
Pada dasarnya, upaya pemeliharaan dan pelestarian naskah-naskah Islam Nusantara tersebut memang merupakan tanggung jawab bersama seluruh komponen masyarakat. Hanya saja, dalam konteks ini, institusi pendidikan semisal Universitas Islam Negeri (UIN), Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan perguruan tinggi Islam lainnya, tampaknya harus mengambil porsi yang lebih besar, karena setidaknya dua alasan:
Pertama, UIN/IAIN memiliki SDM yang kuat dalam bidang keislaman, termasuk di dalamnya penguasaan atas bahasa yang banyak digunakan dalam naskah, yakni bahasa Arab. Apalagi seperti telah dikemukakan berbagai naskah Melayu pun umumnya ditulis dengan aksara Arab (tulisan Jawi), sehingga penguasaan atas aksara dan bahasa tersebut menjadi sangat signifikan. Sejauh ini, minimnya penguasaan para filolog yang umumnya berlatar belakang pendidikan umum terhadap bahasa Arab seringkali menjadi faktor penghambat dilakukannya penelitian atas naskah-naskah keagamaan tersebut, sehingga tidak mengherankan jika naskah-naskah tersebut, khususnya yang berbahasa Arab, sejauh ini lebih banyak “ditelantarkan”.
Kedua, secara keilmuan, civitas akademika UIN/IAIN sangat berkepentingan dengan data-data yang terekam dalam naskah-naskah keagamaan tersebut. Sehingga, memelihara dan memanfaatkannya sebagai rujukan keilmuan, pada gilirannya akan memperkuat basis IAIN sendiri sebagai sebuah institusi pendidikan yang concern dengan bidang-bidang ilmu keislaman. Selain itu, kemudahan akses terhadap naskah-naskah tersebut juga diharapkan dapat membantu komunitas UIN/IAIN untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas tentang Islam (broader understanding of Islam),
D. MODEL PENELITIAN DALAM KEISLAMAN
Model Pengembangan Ilmu Pendekatan Deduktif adalah sebagai berikut:
1. Konseptualisasi teori secara ideal (moralitas atau transendental)
2. Membangun sistematika semua disiplin ilmu yang dikaji dari berbagai postulat
3. Melakukan analisis melalui proses pola fikir reflektif dan sintesis antara berbagai disiplin ilmu dan teori yang telah dibangun di atas.
4. penarikan kesimpulan.
Model Pengembangan Ilmu Multi-inter-disipliner menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
1. Pengembangan multidisipliner dilakukan dengan cara mengembangkan suatu disiplin ilmu melalui analisis dengan disiplin ilmu yang terkait, misalnya penelitian untuk mengembangkan ilmu pendidikan menjadi Islami, maka ilmu pendidikan dikonsultasikan dengan ilmu psikologi, sosiologi, kebudayaan, dan wahyu (al-Qur'an dan Hadith).
2. Pengembangan interdisipliner dilakukan dengan cara memaknai suatu konsep dari berbagai disiplin ilmu dikonsultasikan dengan wahyu (al-Qur'an dan Hadith.)
Model Pengembangan Ilmu keislamanPendekatan Reflektif Kontekstual adalah sebagai berikut:
1. model pengembangan reflektif kontekstual dapat ditempuh melalui proses berfikir secara bolak balik antara wahyu Allah dan data emperi (disiplin ilmu tertentu), sehingga ditemukan kesesuaian makna antara wahyu dan ilmu pengetahuan tersebut atau dapat pula dipakai metode mawdhu'i. Adapun langkah-langkahnya sebagaimana yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Abdul Hayy Al-Farmawi berikut ini:
2. Menetapkan masalah dan judul yang akan dibahas
3. Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut
4. Menyusun runtutan ayat sesuai dengan masa turunnya, disertai pengetahuan tentang asbab al-Nuzul
5. Memahami korelasi (munasabah) ayat-ayat tersebut dalam suratnya masing-masing
6. Menyusun pembahasan dalam kerangka yang sempurna (outline)
7. Melengkapi pembahasan dengan hadits-hadits yang relevan dengan pokok bahasan
8. Mempelajari ayat-ayat tsb secara keseluruhan dengan cara menghimpun ayat-ayat yang mempunyai pengertian yang sama atau mengkompromikan antara yang 'Amm (umum) dan yang Khas (khusus), mutlaq dan muqayyad atau yang pada lahirnya bertentangan, sehingga kesemuanya bertemu dalam satu muara tanpa perbedan atau pemaksaan.
Sementara itu Model Pengembangan Ilmu keislaman yang dikemukakan oleh Isma’il al-Faruqi adalah sebagai berikut.
1. Langkah-langkahnya sebagai berikut:
2. Similarisasi, yaitu pencarian kesamaan antara konsep-konsep sains dan konsep-konsep Islam
3. Paralelisasi, yaitu pencarian hal-hal yang identik antara konsep Islam dan konsep sains
4. Komplementasi , yaitu saling mengisi antara konsep sains dan konsep Islam
5. Komparasi, yaitu membandingkan antara konsep sains dan konsep Islam sampai menemukan gejala-gejala yang sama
6. Induktifikasi, yaitu asumsi-asumsi dasar dari teori-teori ilmiah yang didukung oleh temuan-temuan emperi dilanjutkan pemikirannya secara teori abstrak ke arah pemikiran metafisik/gaib.
7. Verifikasi, yaitu mengungkapkan hasil-hasil penelitian ilmiah yang menunjang dan membuktikan kebenaran wahyu.
HARI KIAMAT
Seorang muslim beriman dan percaya bahwa kehidupan di dunia ini akan habis dan mempunyai batas waktu berakhirnya, kemudian akan berganti dengan kehidupan kedua di alam akhirat.
"Ilahmu adalah Ilah yang satu. Maka, bagi orang-orang yang tidak beriman kepada Hari Akhirat, adalah mereka yang hatinya ingkar (akan keesaan Allah dan Hari Kiamat) sedangkan mereka itu adalah orang-orang yang sombong" (Q.S. An-Nahl 22).
Pada saat dan hari itu, Allah yang Mahakuasa akan membang¬kitkan segenap makhluk ciptaanNya. Semua akan dikumpulkan untuk menghadap mahkamah pengadilan Allah yang Mahatinggi. Setiap orang diperhitungkan amal perbuatannya. Orang yang taat dan shaleh, pasti menerima pahala kebahagiaan dalam kehidupan jannah yang penuh kenikmatan abadi. Sedangkan orang-orang yang maksiat kepada Allah, pasti merasakan siksa yang pedih di dalam jahannam.
Bukti-bukti adanya Hari Kiamat adalah berasal wahyu (ayat-ayat) Allah dan hadits rasul. Dasar pemahamannya adalah berdasar¬kan dalil nakli, bukan dalil akli. Sebab, Hari Kiamat adalah sesuatu yang tidak terjangkau panca indera manusia. Oleh karena itu, akal tidak mampu menemukannya dengan pasti berdasarkan usaha penginderaan terhadap sesuatu. Tanpa adanya berita tentang Hari Kiamat dari Al-Wahyu, maka manusia tidak mengetahui apakah ada atau tidak hari kebangkitan sesudah mati, untuk apa ada hari kebangkitan itu, juga apakah masih ada atau tidak kehidupan sesu¬dah mati, serta bagaimana bentuk kehidupan sesudah mati itu? Dalil-dalil nakli yang menjelaskan tentang Hari Kiamat tersebut di antaranya adalah:
"Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak dibangkitkan. Katakanlah, 'Tidak demikian. Demi Tuhanku, kalian benar-benar pasti dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan'. Hal demikian adalah mudah bagi Allah" (Q.S. At Taghaabun 7).
Hadits ketika jibril mengajarkan kepada Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Muslim dari Umar bin Khattab:
"Ketika Jibril menanyakan kepada Rasulullah tentang iman, maka Rasulullah menjawab: 'Hendaklah engkau beriman kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para RasulNya, juga kepada Hari Kiamat. Dan hendaklah engkau beriman kepada Qadla-Qadar yang baik dan buruk (dari Allah)".
Iman kepada Hari Kiamat adalah iman kepada hari berbangkit, yaitu waktu berakhirnya seluruh kehidupan makhluk di alam semesta yang fana ini, kemudian Allah pasti menghidupkan kembali semua makhluk yang telah mati, membangkithidupkan tulang belulang yang telah hancur, mengembalikan jasad yang telah menjadi tanah seba¬gaimana asalnya, dan mengembalikan ruh pada jasad seperti sedia kala.
Menurut faham Ahlussunnah, yang dihidupkan kembali (bangkit) dari kubur adalah badan (wadag) yang telah menjadi tanah (membu¬suk) ditinggalkan oleh nyawanya (roh) dahulu ketika manusia hidup di bumi. Keterangan ini berdasarkan firman Allah:
"Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami, dan dia lupa kepada kejadiannya. Ia katakan: 'Siapa pula yang sanggup menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh itu?' Katakanlah: 'Ia akan dihidupkan oleh Ilah yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Mahatahu tentang segala makhluk" (QS. Yasin 78-79).
Juga berdasarkan sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ibnu Madjah dari Jabir ra:
"Setiap hamba akan dibangkitkan menurut keadaan ketika ia mati (di dunia)".
Menurut Maulana Muhammad Ali (seorang tokoh Ahmadiyah1)), yang dibangkitkan dari kubur itu bukanlah badan manusia ketika ia ditinggalkan oleh nyawanya, melainkan badan baru dan berbeda sama sekali dengan yang terdahulu. Ia merujuk kepada keadaan langit dan bumi pada hari akhir nanti, bahwa ia bukanlah bumi dan langit dunia yang dahulu. Ayat-ayat Al-Qur'an yang dijadikan sandarannya adalah surat Ibrahim 48, Al-Israa' 99, dan Al-Waqi'ah 58-62.
Ketiga ayat pada surat, menurut takwilnya, menunjukkan bahwa pada hari akhir bumi langit dan manusia diganti dengan yang lain, tetapi serupa dengan bentuk terdahulu dalam kondisi yang berbeda pula dengan kondisi di dunia. Dengan kata lain menurut Maulana Muhammad Ali, nyawa seseorang nanti tidak kembali kepada badannya yang lama (di dunia) tetapi akan masuk kepada badan baru di akhi¬rat2).
Pendapat tersebut tidak dapat diterima. Sebab, ia berten¬tangan dengan nash-nash Al-Qur'an dan Sunnah Rasul yang menjelas¬kan bahwa yang akan dibangkitkan dari alam kubur adalah nyawa manusia dari badan yang dahulunya hidup di dunia, bukan badan lainnya. Al-Qur'an menyatakan hal tersebut, misalnya dalam surat Ibrahim 48-50, Al Kahfi 48, dan An-Nisa 24, serta Sunnah Rasul:
"Sesungguhnya (ahli jahanam) kepadanya akan ditumpahkan air yang sangat mendidih ke atas kepala mereka, sampai-sampai itu menghancurkan tubuh bagian dalam mereka dan mengeluarkan segala organ bagian dalam. Setelah itu (tubuh rusak tersebut) diciptakan kembali (untuk selanjutnya menerima siksaan yang berulang-ulang" (HR. Ahmad, Tirmidzi, Al-Hakim dari Abi Hurairah. Lihat "Kanzul Ummal", oleh Al-Burhan Furi, pada hadits nomor 39515).
Seluruh ayat tersebut menunjukkan bahwa semua manusia ber¬kumpul di Padang Mahsyar dengan keadaan dan bentuk yang sama seperti ketika ia hidup di dunia. Sedangkan ayat-ayat yang dija¬dikan dasar bagi Maulana Muhammad Ali tidaklah dapat dijadikan dasar yang benar, terutama surat Ibrahim ayat 48:
"(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan demikian pula langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke Hadirat Allah Yang Mahaesa lagi Maha Perkasa" (QS. Ibrahim 48).
Ayat ini tidak dapat dijadikan dasar untuk menunjukkan ada¬nya perubahan bentuk manusia pada Hari Kiamat. Dalam ayat terse¬but hanya bumi dan langit saja yang berubah, sedangkan manusia tidak berubah sama sekali. Begitu pula dasar yang diambilnya dalam surat Al-Isra'ayat 99:
"Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Allahlah pen¬cipta langit dan bumi adalah kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan (Dia) telah (pula) menetapkan waktu tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka, orang-orang yang dzalim itu tidak menghendaki selain kekafiran (belaka)" (QS. Al-Isra' 99).
Bagi Allah, tidaklah sukar menciptakan langit dan bumi yang baru, apalagi manusia dalam bentuk terdahulu ketika ia mati. Sedangkan dasar surat Al-Waqi'ah 58-62; ayat ini bukanlah menje¬laskan penggantian bentuk badan manusia di akherat, tetapi ayat tersebut menjelaskan kekuasaan Allah untuk menggantikan manusia di dunia (mengganti suatu bangsa yang melanggar perintah Allah dengan bangsa yang patuh terhadap perintah Allah).
B. WAKTU HARI KIAMAT
Manusia selalu bertanya kapankah terjadinya Hari Kiamat. Jawabannya: hanya Allah yang tahu dengan pasti dan tepat, kapan terjadinya. Firman Allah SWT:
"Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: 'Bilakah terja¬dinya?Katakanlah: 'Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu ada pada sisi Rabbku. Tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-hara¬nya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba". Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: 'Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari Kiamat itu ada di sisi Allah'. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" (QS. Al A'raaf 187).
1. Tanda-tanda Hari Kiamat
Hadist-hadits Rasulullah saw yang bersumber pada wahyu Allah tidak pernah menerangkan dengan pasti kapan terjadinya Hari Kia¬mat. Namun tanda-tanda Hari Kiamat tersebut telah dikemukakan secara banyak dan rinci, antara lain:
Banyaknya mode pakaian telanjang. Jumlah orang beriman sedi¬kit. Zina dan minuman memabukkan serta kejahatan-kejahatan lain merajalela. Perhiasan masjid yang berlebihan dan suara hiruk-pikuk lebih sering terdengar di Masjid. Penyalahgunaan jabatan. Perpecahan umat Islam /negeri-negeri Islam akibat fitnah oleh musuh-musuh Islam. Kehancuran pemerintah Khilafah Islamiyah dan akan kembali jaya dan berkuasa Khilafah dikemudiann hari sehingga kaum Muslimin menguasai pusat kekuasaan Katholik Nasrani di Roma dan tersebarnya Islam ke seluruh dunia. Peperangan antara umat Islam dengan Yahudi yang berakhir dengan kemenangan di fihak kaum muslimin.
Munculnya Dajjal di tengah umat Islam untuk menyesatkan manusia. Munculnya Muhammad Al-Mahdi di bumi untuk menegakkan keadilan dan kekuasaan umat Islam. Turunnya Nabi Isa as untuk meluruskan ajaran Nasrani (ajaran Trinitas, yakni menuhankan Nabi Isa), mengislamkan orang Nasrani, menhancurkan salib-salib, mene¬gakkan kebenaran dan keadilan berdasarkan syariat Islam, membunuh Dajjal, kemudian beliau kawin lalu meninggal dan dikuburkan dekat makam Rasulullah saw. munculnya Daabbah (binatang ajaib) yang dapat berbicara kepada manusia untuk menunjukkan kepalsuan dan ketidakbenaran ajaran semua agama selain Islam, serta memper¬i¬ngatkan orang-orang yang tidak percaya dengan ayat-ayat Allah (tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah). Matahari akan ter¬bit dari arah barat dan itu terjadi setelah Nabi Isa wafat; pada saat itulah pintu taubat tertutup. Munculnya Ya'juj dan Ma'juj (dua bangsa dari sebelah Timur) menyerang kaum muslimin bagaikan air bah, tetapi peperangan itu akan berakhir dengan kehancuran tentara Ya'juj dan Ma'juj oleh Allah dengan kemenangan di fihak kaum Muslimin (ini terjadi pada masa Nabi Isa masih hidup). kemu¬
dian Allah akan mengirimkan kabut tipis yang menyebabkan kematian seluruh kaum muslimin dan tinggallah orang-orang kafir (jahat). Terjadi gempa bumi di Timur /Barat dan seluruh Jazirah Arab, disertai munculnya api di daerah Yaman, sehingga orang-orang berlari ke arah Syam dan di sini mereka mati setelah ditiup sang¬kakala. Pada saat itulah Kiamat yang sesungguhnya terjadi.
2. Nasib Manusia pada Hari Kiamat
Al-Qur'an menerangkan bahwa Hari Kiamat terjadi setelah ditiupnya sangkakala pertama oleh Malaikat Isrofil. Pada saat ini, semua makhluk binasa kecuali mereka yang dikehendaki oleh Allah. Kemudian ditiupkan sangkakala untuk kedua kalinya agar semua makhluk berdiri dan menuju Padang Mahsyar untuk perhitungan amalnya. Firman Allah SWT:
"Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah apa yang ada di langit dan bumi kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)" (QS. Az-Zumar 68).
Orang-orang atheisme telah meragukan Hari Kiamat setelah tergambar dalam otaknya bagaimana kesulitan yang akan dihadapi Allah ketika akan menghitung amal perbuatan manusia yang begitu banyak. Sikap ini tumbuh karena mereka tidak berfikir bagaimana Allah menciptakan langit dan bumi tanpa merasa lelah sedikitpun. Firman Allah SWT:
"Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan" (QS. Qaaf 38).
Allah Mahatahu berapa jumlah tetes hujan yang jatuh ke bumi, serta tidak satu lembar daunpun yang jatuh ke tanah melainkan diketahuiNya (QS. Al-An'aam 59). Sedangkan manusia telah terbukti tidak sanggup menghitung tetes hujan yang turun ke bumi, berapa jumlah butir pasir di sepanjang pantai dunia, serta berapa jumlah bayi yang lahir ke dunia sejak dahulu sampai sekarang.
Semua jumlah bilangan yang banyak itu hanya Allah SWT saja yang sanggup menghitungnya. Sebab, Dia Yang Mahatahu, Mahakuasa dan Mahakaya. Dia tahu jumlah makhluk sebelum diciptakan sesuatu diciptakan. Apakah adanya hisab menjadi sesuatu yang menyusahkan baginya, misalnya untuk menghitung semua amal manusia ketika hidup; kejahatannya dan keburukan yang pernah dikerjakan. Segala gerak yang dilakukan mamusia mulai dari mata, mulut, hidung, telinga, kaki, tangan dan segala sifat jasmani dan rohani (hati), semuanya mendapat penilaian dari Allah dan akan dibalas.
Pada hari hisab, segala sesuatu akan disaksikan oleh Allah SWT, para Rasul dan Nabi, para Malaikat, seluruh manusia, bina¬tang dan semua makhluk, sejak nabi Adam hingga makhluk terakhir. Ia juga akan disaksikan oleh ayah-ibunya, neneknya dan kawan-kawannya. Allah SWT berfirman :
"Bacalah kitabmu sendiri yang pada hari itu cukuplah menjadi saksi" (QS. Al-Isra' 14).
"Pada hari itu semua berita akan bercerita sendiri" (QS. Al-Zalzalah 4).
Orang-orang yang beriman kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, maka ia pasti diampuni dosa-dosa-Nya. Sebab, Allah mengampuni semua dosa manusia kecuali dosa syirik.
"Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap diri¬nya bersih? Sesungguhnya Allah membersihkan siapa saja yang dike¬hendakiNya dan mereka tidak dianiaya sedikitpun" (QS.An-Nisaa'48).
"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik (menyekutu¬kan Dia). Dan Dia mengampuni dosa selain syirik itu bagi siapa saja yang dikehendakiNya. Siapa saja yang menyekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia tersesat sejauh-jauhnya" (QS. An-Nisaa' 116).
"(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan per¬buatan keji selain kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Rabbmu Mahaluas ampunanNya. Dan Dia lebih mengetahui (keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka, janganlah kamu mengatakan dirimu suci. (Kare¬na) Dialah yang Mahatahu siapa yang bertaqwa" (QS. An-Najm 32).
Adapun orang-orang kafir yang menyekutukan-Nya, maka mereka termasuk orang-orang berdosa. Mereka tidak diampuni dosa-dosanya, sesuai dengan firman Allah SWT:
"Dan tidaklah mereka tahu bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendakiNya? Sesungguhnya pada yang demikian terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang beriman" (QS. Az-Zumar 53).
Betapa mudahnya seseorang terlepas dari api jahanam, sesuai dengan hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Ahmad, Bukha¬ri dan Muslim dari Adiy:
"Jauhkan dirimu dari api jahanam walaupun dengan bersedekah sebiji korma. Dan jika tidak mendapatkannya, maka cukuplah dengan perkataan yang baik".
Kedzaliman antar manusia di dunia merupakan dosa yang tidak terhindarkan. Namun, ia akan diadili dengan seadil-adilnya. Mere¬ka yang merampas harta orang lain, mencuri, memperkosa, membunuh, menganiaya. Mereka yang mengetahui di kanan kirinya banyak orang miskin, tersiksa dan memerlukan bantuan tetapi ia membiarkannya. Mereka yang bekerja tidak benar ketika bergaul, berpolitik, mau¬pun berdagang. Mereka yang berdosa besar maupun kecil, berjual beli secara bathil, membuka aurat di depan umum dan berteriak-teriak di jalanan, mengomel, berbisik, mengukur dan menimbang secara curang, hubungan antara majikan dengan buruh yang buruk, serta berbagai persoalan keluarga. Semua bentuk perbuatan itu pasti diadili. Ketika itu tidak ada partai dan golongan, kebang¬saan, kesukuan. Semua hal diketahui Allah.
Segala caci maki, tuduhan yang semena-mena tanpa bukti, menyakiti orang lain, bergunjing, mengkritik dengan maksud buruk, kata-kata yang keluar tanpa makna, menyia-nyiakan waktu, berhu¬tang tetapi tidak mau membayar, berjudi dan berzina, serta 1001 macam persoalan kehidupan manusia, semua pasti diadili dan menda¬pat hukuman Allah pada Kahri Kiamat. Rasulullah saw bersabda yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Tarmidzi dari Abu Hurairah:
"Tahukah engkau siapakah orang-orang miskin itu? Mereka adalah umatku yang datang pada Hari Kiamat dengan shalat, shaum, zakatnya, tetapi mereka telah mencaci maki, menuduh seseorang tanpa bukti, sehingga semua perbuatannya itu menyebabkannya ia telah menghilangkan kebaikannya. Kemudian ia ditenggelamkan ke dalam jahanam".
Orang-orang yang jumlah dosanya lebih banyak daripada amal kebajikannya, maka mereka pasti disiksa dalam api jahanam. Se¬dangkan orang-orang yang jumlah amal kebajikannnya lebih banyak daripada amal kejahatannya, maka mereka akan mendapat balasan kenikmatan di Hari Kiamat. Tetapi akan berbeda terhadap orang-orang yang jumlah amal kebajikan seimbang dengan amal bejahatan, maka mereka akan ditangguhkan, tidak dimasukkan ke dalam jannah atau jahanam. Mereka akan ditempatkan di suatu lokasi yang dise¬but Al-Araaf, sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Dari tempat ini, mereka dapat menyaksikan bagaimana pedihnnya siksa jahanam dan bagaimana pula kenikmatan yang diperoleh oleh penghu¬ni jannah. Namun, penghuni Al-Araaf ini suatu waktu pasti dima¬sukkan Allah ke dalam jannah. (QS Al Araaf 46-47).
"Dan di antara keduanya (penghuni jannah dan jahanam), ada batas (Al-A'raaf). Dan di atas Al-A'raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing kedua golongan itu dengan ciri-ciri (ke¬nikmatan yang) mereka (peroleh). Dan mereka berseru (kepada) warga jannah: 'Salaamun 'alaikum'. Mereka belum boleh memasuki¬nya, padahal mereka ingin (sekali) segera (ma¬suk ke dalam¬nya). Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghu¬ni jahanam, maka mereka berkata: 'Ya Rabbi kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang yang dzalim itu'" (QS Al-A'raaf 46-47).
C. KENIKMATAN JANNAH
Kehidupan di dalam jannah adalah abadi, penuh kesenangan dan kenikmatan. Allah SWT berfirman:
"Masukilah jannah itu dengan aman. Itulah hari kekekalan" (QS Qaaf 34).
Penghuni jannah akan bertemu dengan ayah, suami, istri, para famili, dan para cucunya yang beramal shalih dengan penuh kegem¬biraan dan kebahagiaan. Para malaikat akan masuk dari segala penjuru dengan menyampaikan salam.
"(yaitu) jannah 'Adn, tempat mukim mereka, bersama orang-orang shalih dari para bapak, istri dan anak cucu mere¬ka. Semen-tara itu, para malaikat masuk ke tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan): 'Sejahtera atas kalian selu¬ruhnya karena kesabaran kalian' (Salaamun 'alaikum bimaa shabar¬tum). Maka, alangkah baiknya tempat terakhir itu" (QS Ar Raad 23-24).
Tentang sifat-sifat jannah, Rasulullah saw bersabda yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah:
"Siapa saja yang masuk jannah, maka ia pasti merasakan se¬nang dan tidak pernah putusasa. Ia berpakaian yang tidak lepas, masa remaja yang tidak pernah pudar, matanya melihat sesuatu yang tidak pernah dilihat sebelumnya, telinganya mendengar sesuatu yang tidak pernah didengar sebelumnya, dan hati manusia tidak pernah menghayalkan sesuatu hal yang ada sebelumnya".
Pada waktu itu manusia akan melihat Rabbinya, yang dinyata¬kan Rasulullah saw sebagai bentuk yang Mahaindah. Juga di dalam jannah berlimpah buah-buahan yang tidak putus-putusnya dan tidak pernah terhalang.
"Dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (berbuah) dan tidak dilarang mengambilnya" (QS Al-Waaqi'ah 32-33).
D. SIKSAAN JAHANAM
Tentang siksaan terhadap orang kafir dan dzalim di dalam jahanam, Allah SWT berfirman:
"Hai orang-orang beriman, peliharalah diri dan keluargamu dari api jahanam yang bahan bakarnya adalah (tubuh) manusia dan bebatuan; penjaganya para malaikat yang kasar, keras, (dan) tidak (pernah) membantah kepada Allah terhadap apa yang diperintahkan¬Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" (QS At-Tahriim 6).
Sedang kedudukan orang-orang munafik, mereka berada di kerak jahanam yang paling bawah.
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (tempat mereka) berada pada tingkatan yang paling bawah dari jahanam, dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka" (QS. An-Nisaa' 145).
Allah SWT juga mengingatkan kepada manusia bahwa siksa jaha¬nam amatlah pedih.
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, maka kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam jahanam. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain (baru) supaya mereka merasakan adzab. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana" (QS An-Nisaa' 56).
E. ADZAB JAHANAM ADALAH SIKSAAN FISIK
KENIKMATAN JANNAH ADALAH KESENANGAN SEMPURNA
Siksaan jahanam adalah abadi dan kekal. Siksaan di jahanam maupun kenikmatan di jannah merupakam akibat perbuatan manusia di dunia. Semua itu dirasakan secara fisik, bukan secara roh.
Tentang pendapat bahwa kenikmatan maupun siksaan pada kedua tempat tersebut dirasa¬kan manusia dalam bentuk roh, maka pernya¬taan tersebut terbantah dengan memperhatikan firman Allah SWT:
"Ketika (itu) belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret. (Kemudian mereka dimasukkan) ke dalam air yang sangat panas, lalu mereka dibakar di dalam api (yang menya¬la-nyala)" (QS. Al-Mukmin 71-72).
"Pada hari itu dipanaskan emas perak di dalam jahanam, lalu lelehan (emas dan perak) itu (dipakai) untuk membakar dahi, lam¬bung dan punggung mereka. Kepada mereka (dikatakan): 'Inilah harta benda yang engkau simpan untuk dirimu sendiri. Maka, rasa¬kanlah sekarang (siksaan akibat dari) tabunganmu itu" (QS At-Taubah 35).
"Sekali-kali tidak. Sesungguhnya jahanam itu api yang berge¬jolak, yang mengelupaskan kulit kepala" (QS Al-Ma"aarij 15-16).
"(Bagi mereka adalah) jannah 'adn. Mereka masuk ke dalamnya. Di dalamnya, mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang yang terbuat dari emas, dan mutiara, serta pakaian mereka di sana adalah sutra" (QS Faathir 33).
Bagaimana mungkin siksaan yang disebutkan pada ayat-ayat Al-Qur'an tersebut bentuknya adalah siksaan yang bersifat ruh. Bah¬kan, patut pula diketahui bahwa kehidupan akhir tesebut mempunyai persamaan dengan kehidupan dunia, yaitu adanya perasaan, penger¬tian, kepuasaan dan adanya makhluk (hewan dan tumbuhan) yang akan menemani kehidupan manusia di jannah. Allah SWT berfirman:
"Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini" (QS Ath-Thuur 22).
Rasulullah saw bersabda:
"Ahli jannah makan dan minum di dalam jannah tetapi mereka tidak buang air besar, tidak buang ingus dan tidak kencing" (HR. Muslim dari Jabir ra).
Dari Nu'man bin Basyir ra, ia berkata: "Aku telah mendengar Rasulallah SAW berkata:
"Seringan-ringannya siksa pada Hari Kiamat ialah orang yang padanya diletakkan dua bara api di bawah tumitnya yang mampu mendidihkan otaknya. Pada saat itu ia merasa bahwa tidak seorang¬pun yang lebih berat siksaan yang diterimanya dibandingkan dengan orang lain. Padahal sesungguhnya itulah siksa seringan-ringannya" (HR. Bukhari Muslim).
F. Dampak Iman Kepada Hari Kiamat
Iman pada Hari Kiamat akan mampu mendorong setiap mukmin untuk berfikir sebelum melakukan sebuah tindakan. Sebab ia yakin bahwa semua amal perbuatannya akan dimintai pertangungjawabannya dan ia akan menerima balasannya, baik atau buruk sesuai dengan perbuatannya itu. Allah SWT berfirman:
"Siapa saja yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, maka pasti ia melihat (balasan)nya, dan siapapun yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah, juga pasti ia melihat (balasan)nya" (QS Al-Zalzalah 7-8).
1. Karena itu iman kepada hari akhir mempunyai dampak positif bagi kehidupan seseorang, yakni3):
a. Senantiasa menjaga diri untuk selalu taat kepada Allah SWT dan senantiasa mengharapkan pahala pada Hari Kiamat. Ia akan berusaha menjauhi segala laranganNya karena takut siksaan kelak di kemudian hari.
b. Menghibur dan mendorong agar bershabar bagi mukmin bahwa kebahagian (kesenangan, kesejahteraan) yang belum diperoleh¬nya di dunia akan diterimanya di kemudian hari.
G. CATATAN AMAL PERBUATAN MANUSIA PADA HARI KIAMAT
Iman kepada Hari Kiamat membawa konsekuensi yang logis untuk iman juga kepada adanya catatan amal perbuatan manusia. Setiap manusia akan menerimanya pada Hari Pembalasan itu. Allah SWT berfirman:
"Dan setiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatan¬nya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan kami berikan kepadanya pada Hari Kiamat sebuah kitab (catatan amal perbuatan) yang dijumpainya terbuka: 'Bacalah kitabmu. Maka, Cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab'" (QS Al-Israa' 13-14).
Al-Qur'an menjelaskan bahwa orang-orang mukmin akan diberikan catatan amal perbuatan mereka melalui tangan kanannya dari depan, sedangkan orang-orang mukmin yang melakukan dosa besar akan menerimanya melalui tangan kanannya tetapi dari belakang.
Hal itu akan berbeda terhadap orang-orang kafir. Mereka pasti menerima catatan amal perbuatannya melalui tangan kirinya. Allah SWT berfirman:
"Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitab (amal perbuatan)nya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: 'Ambilah. Bacalah kitabku (ini). Sesungguhnya aku yakin bahwa aku pasti menemui hisab terhadap diriku'. Maka, orang itu berada dalam kehidupan yang diridhoi dalam jannah yang tinggi, buah-buahannya dekat. (Kepada mereka dikatakan): 'Makan dan minumlah dengan sesukamu sebagai balasan terhadap amal perbuatan yang telah eng¬kau kerjakan pada hari-hari yang lalu. Adapun orang yang diberi¬kan kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: 'Wahai, alangkah baiknya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak tahu apa hisab terhadap diriku. Wahai, kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala-galanya. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat bagiku. Telah hilang kekuasaanku'. (Allah berfirman): 'Peganglah dia, lalu belenggulah tangannya ke leher¬nya. Masukan dia ke dalam api jahanam yang menyala-nyala itu. Juga, belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. (Sebab), sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah yang Mahabesar, dan juga tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Maka, tiada seorang temanpun baginya pada hari itu di sana, dan tidak ada makanan sedikitpun (baginya) selain darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya selain orang-orang yang berdosa" (QS. Al-Haaqqah 19-37).
"Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka ia akan berteriak: 'Celaka aku!'. Dan ia pasti masuk ke dalam api yang menyala-nyala (jahanam). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguh¬nya dia menyangka bahwa sekali-kali ia tidak kembali (kepada Tuhannya). (Bukan demikian. Sebeliknya) yang benar adalah Rabbi¬nya selalu melihatnya" (QS. Al-Insyiqaaq 10-15).
H. P E N U T U P
Demikianlah pokok pembahasan iman kepada Hari Kiamat. Orang-orang yang beriman kepada adanya Hari Pembalasan akan selalu ingat kepada setiap perbuatan yang akan dilakukannya. Pada setiap langkahnya, ia akan berfikir apakah perbuatannya telah sesuai dengan perintah Allah SWT, ataukah perbuatannya justru telah melangggar laranganNya.
Bagi kaum Muslimin, iman kepada Hari Kiamat sesungguhnya akan berdampak kuat bagi setiap amal perbuatannya. Bagi mereka yang iman, maka mereka pasti akan berlomba-lomba menjalankan semua perintah Allah berupa syariat yang telah diturunkan kepada RasulNya, Muhammad saw, yaitu Syariat Islam.
Hari Kiamat adalah suatu hari yang pasti datang. Sesungguh¬nya siksaan maupun kenikmatan yang diterima setiap manusia adalah akibat logis dari seluruh amal perbuatannya selama ia hidup di dunia. Wallahu'aklam
1) istilah "Ahmadiyah" tidak cocok untuk aliran agama ini. Ia lebih cocok dengan nama "Qadiyani" atau "Ghulamiyah". Lihat Dr. Fuad Mohd. Fachruddin, "Sejarah Perkembangan Pemikiran Islam: Khawarij - Syi'ah - Mu'tazilah - Murji'ah - Ahlussunnah Waljama'ah - Baha'i - Ahmadiyah", Jakarta (CV. Yasaguna), 1989. Halaman 129.
2) Lihat Maulana Muhammad Ali dalam "The Religion of Islam", Pakistan 1950 (p.281-283)
3) Lihat buku "Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah" oleh Muhammad Shahih Al-Uthaimin, ter¬jemahan Moeslim Abdul Ma'ani, Bina Ilmu, 1985 hal 89).
"Ilahmu adalah Ilah yang satu. Maka, bagi orang-orang yang tidak beriman kepada Hari Akhirat, adalah mereka yang hatinya ingkar (akan keesaan Allah dan Hari Kiamat) sedangkan mereka itu adalah orang-orang yang sombong" (Q.S. An-Nahl 22).
Pada saat dan hari itu, Allah yang Mahakuasa akan membang¬kitkan segenap makhluk ciptaanNya. Semua akan dikumpulkan untuk menghadap mahkamah pengadilan Allah yang Mahatinggi. Setiap orang diperhitungkan amal perbuatannya. Orang yang taat dan shaleh, pasti menerima pahala kebahagiaan dalam kehidupan jannah yang penuh kenikmatan abadi. Sedangkan orang-orang yang maksiat kepada Allah, pasti merasakan siksa yang pedih di dalam jahannam.
Bukti-bukti adanya Hari Kiamat adalah berasal wahyu (ayat-ayat) Allah dan hadits rasul. Dasar pemahamannya adalah berdasar¬kan dalil nakli, bukan dalil akli. Sebab, Hari Kiamat adalah sesuatu yang tidak terjangkau panca indera manusia. Oleh karena itu, akal tidak mampu menemukannya dengan pasti berdasarkan usaha penginderaan terhadap sesuatu. Tanpa adanya berita tentang Hari Kiamat dari Al-Wahyu, maka manusia tidak mengetahui apakah ada atau tidak hari kebangkitan sesudah mati, untuk apa ada hari kebangkitan itu, juga apakah masih ada atau tidak kehidupan sesu¬dah mati, serta bagaimana bentuk kehidupan sesudah mati itu? Dalil-dalil nakli yang menjelaskan tentang Hari Kiamat tersebut di antaranya adalah:
"Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak dibangkitkan. Katakanlah, 'Tidak demikian. Demi Tuhanku, kalian benar-benar pasti dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan'. Hal demikian adalah mudah bagi Allah" (Q.S. At Taghaabun 7).
Hadits ketika jibril mengajarkan kepada Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Muslim dari Umar bin Khattab:
"Ketika Jibril menanyakan kepada Rasulullah tentang iman, maka Rasulullah menjawab: 'Hendaklah engkau beriman kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para RasulNya, juga kepada Hari Kiamat. Dan hendaklah engkau beriman kepada Qadla-Qadar yang baik dan buruk (dari Allah)".
Iman kepada Hari Kiamat adalah iman kepada hari berbangkit, yaitu waktu berakhirnya seluruh kehidupan makhluk di alam semesta yang fana ini, kemudian Allah pasti menghidupkan kembali semua makhluk yang telah mati, membangkithidupkan tulang belulang yang telah hancur, mengembalikan jasad yang telah menjadi tanah seba¬gaimana asalnya, dan mengembalikan ruh pada jasad seperti sedia kala.
Menurut faham Ahlussunnah, yang dihidupkan kembali (bangkit) dari kubur adalah badan (wadag) yang telah menjadi tanah (membu¬suk) ditinggalkan oleh nyawanya (roh) dahulu ketika manusia hidup di bumi. Keterangan ini berdasarkan firman Allah:
"Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami, dan dia lupa kepada kejadiannya. Ia katakan: 'Siapa pula yang sanggup menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh itu?' Katakanlah: 'Ia akan dihidupkan oleh Ilah yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Mahatahu tentang segala makhluk" (QS. Yasin 78-79).
Juga berdasarkan sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ibnu Madjah dari Jabir ra:
"Setiap hamba akan dibangkitkan menurut keadaan ketika ia mati (di dunia)".
Menurut Maulana Muhammad Ali (seorang tokoh Ahmadiyah1)), yang dibangkitkan dari kubur itu bukanlah badan manusia ketika ia ditinggalkan oleh nyawanya, melainkan badan baru dan berbeda sama sekali dengan yang terdahulu. Ia merujuk kepada keadaan langit dan bumi pada hari akhir nanti, bahwa ia bukanlah bumi dan langit dunia yang dahulu. Ayat-ayat Al-Qur'an yang dijadikan sandarannya adalah surat Ibrahim 48, Al-Israa' 99, dan Al-Waqi'ah 58-62.
Ketiga ayat pada surat, menurut takwilnya, menunjukkan bahwa pada hari akhir bumi langit dan manusia diganti dengan yang lain, tetapi serupa dengan bentuk terdahulu dalam kondisi yang berbeda pula dengan kondisi di dunia. Dengan kata lain menurut Maulana Muhammad Ali, nyawa seseorang nanti tidak kembali kepada badannya yang lama (di dunia) tetapi akan masuk kepada badan baru di akhi¬rat2).
Pendapat tersebut tidak dapat diterima. Sebab, ia berten¬tangan dengan nash-nash Al-Qur'an dan Sunnah Rasul yang menjelas¬kan bahwa yang akan dibangkitkan dari alam kubur adalah nyawa manusia dari badan yang dahulunya hidup di dunia, bukan badan lainnya. Al-Qur'an menyatakan hal tersebut, misalnya dalam surat Ibrahim 48-50, Al Kahfi 48, dan An-Nisa 24, serta Sunnah Rasul:
"Sesungguhnya (ahli jahanam) kepadanya akan ditumpahkan air yang sangat mendidih ke atas kepala mereka, sampai-sampai itu menghancurkan tubuh bagian dalam mereka dan mengeluarkan segala organ bagian dalam. Setelah itu (tubuh rusak tersebut) diciptakan kembali (untuk selanjutnya menerima siksaan yang berulang-ulang" (HR. Ahmad, Tirmidzi, Al-Hakim dari Abi Hurairah. Lihat "Kanzul Ummal", oleh Al-Burhan Furi, pada hadits nomor 39515).
Seluruh ayat tersebut menunjukkan bahwa semua manusia ber¬kumpul di Padang Mahsyar dengan keadaan dan bentuk yang sama seperti ketika ia hidup di dunia. Sedangkan ayat-ayat yang dija¬dikan dasar bagi Maulana Muhammad Ali tidaklah dapat dijadikan dasar yang benar, terutama surat Ibrahim ayat 48:
"(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan demikian pula langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke Hadirat Allah Yang Mahaesa lagi Maha Perkasa" (QS. Ibrahim 48).
Ayat ini tidak dapat dijadikan dasar untuk menunjukkan ada¬nya perubahan bentuk manusia pada Hari Kiamat. Dalam ayat terse¬but hanya bumi dan langit saja yang berubah, sedangkan manusia tidak berubah sama sekali. Begitu pula dasar yang diambilnya dalam surat Al-Isra'ayat 99:
"Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Allahlah pen¬cipta langit dan bumi adalah kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan (Dia) telah (pula) menetapkan waktu tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka, orang-orang yang dzalim itu tidak menghendaki selain kekafiran (belaka)" (QS. Al-Isra' 99).
Bagi Allah, tidaklah sukar menciptakan langit dan bumi yang baru, apalagi manusia dalam bentuk terdahulu ketika ia mati. Sedangkan dasar surat Al-Waqi'ah 58-62; ayat ini bukanlah menje¬laskan penggantian bentuk badan manusia di akherat, tetapi ayat tersebut menjelaskan kekuasaan Allah untuk menggantikan manusia di dunia (mengganti suatu bangsa yang melanggar perintah Allah dengan bangsa yang patuh terhadap perintah Allah).
B. WAKTU HARI KIAMAT
Manusia selalu bertanya kapankah terjadinya Hari Kiamat. Jawabannya: hanya Allah yang tahu dengan pasti dan tepat, kapan terjadinya. Firman Allah SWT:
"Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: 'Bilakah terja¬dinya?Katakanlah: 'Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu ada pada sisi Rabbku. Tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-hara¬nya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba". Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: 'Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari Kiamat itu ada di sisi Allah'. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" (QS. Al A'raaf 187).
1. Tanda-tanda Hari Kiamat
Hadist-hadits Rasulullah saw yang bersumber pada wahyu Allah tidak pernah menerangkan dengan pasti kapan terjadinya Hari Kia¬mat. Namun tanda-tanda Hari Kiamat tersebut telah dikemukakan secara banyak dan rinci, antara lain:
Banyaknya mode pakaian telanjang. Jumlah orang beriman sedi¬kit. Zina dan minuman memabukkan serta kejahatan-kejahatan lain merajalela. Perhiasan masjid yang berlebihan dan suara hiruk-pikuk lebih sering terdengar di Masjid. Penyalahgunaan jabatan. Perpecahan umat Islam /negeri-negeri Islam akibat fitnah oleh musuh-musuh Islam. Kehancuran pemerintah Khilafah Islamiyah dan akan kembali jaya dan berkuasa Khilafah dikemudiann hari sehingga kaum Muslimin menguasai pusat kekuasaan Katholik Nasrani di Roma dan tersebarnya Islam ke seluruh dunia. Peperangan antara umat Islam dengan Yahudi yang berakhir dengan kemenangan di fihak kaum muslimin.
Munculnya Dajjal di tengah umat Islam untuk menyesatkan manusia. Munculnya Muhammad Al-Mahdi di bumi untuk menegakkan keadilan dan kekuasaan umat Islam. Turunnya Nabi Isa as untuk meluruskan ajaran Nasrani (ajaran Trinitas, yakni menuhankan Nabi Isa), mengislamkan orang Nasrani, menhancurkan salib-salib, mene¬gakkan kebenaran dan keadilan berdasarkan syariat Islam, membunuh Dajjal, kemudian beliau kawin lalu meninggal dan dikuburkan dekat makam Rasulullah saw. munculnya Daabbah (binatang ajaib) yang dapat berbicara kepada manusia untuk menunjukkan kepalsuan dan ketidakbenaran ajaran semua agama selain Islam, serta memper¬i¬ngatkan orang-orang yang tidak percaya dengan ayat-ayat Allah (tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah). Matahari akan ter¬bit dari arah barat dan itu terjadi setelah Nabi Isa wafat; pada saat itulah pintu taubat tertutup. Munculnya Ya'juj dan Ma'juj (dua bangsa dari sebelah Timur) menyerang kaum muslimin bagaikan air bah, tetapi peperangan itu akan berakhir dengan kehancuran tentara Ya'juj dan Ma'juj oleh Allah dengan kemenangan di fihak kaum Muslimin (ini terjadi pada masa Nabi Isa masih hidup). kemu¬
dian Allah akan mengirimkan kabut tipis yang menyebabkan kematian seluruh kaum muslimin dan tinggallah orang-orang kafir (jahat). Terjadi gempa bumi di Timur /Barat dan seluruh Jazirah Arab, disertai munculnya api di daerah Yaman, sehingga orang-orang berlari ke arah Syam dan di sini mereka mati setelah ditiup sang¬kakala. Pada saat itulah Kiamat yang sesungguhnya terjadi.
2. Nasib Manusia pada Hari Kiamat
Al-Qur'an menerangkan bahwa Hari Kiamat terjadi setelah ditiupnya sangkakala pertama oleh Malaikat Isrofil. Pada saat ini, semua makhluk binasa kecuali mereka yang dikehendaki oleh Allah. Kemudian ditiupkan sangkakala untuk kedua kalinya agar semua makhluk berdiri dan menuju Padang Mahsyar untuk perhitungan amalnya. Firman Allah SWT:
"Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah apa yang ada di langit dan bumi kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)" (QS. Az-Zumar 68).
Orang-orang atheisme telah meragukan Hari Kiamat setelah tergambar dalam otaknya bagaimana kesulitan yang akan dihadapi Allah ketika akan menghitung amal perbuatan manusia yang begitu banyak. Sikap ini tumbuh karena mereka tidak berfikir bagaimana Allah menciptakan langit dan bumi tanpa merasa lelah sedikitpun. Firman Allah SWT:
"Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan" (QS. Qaaf 38).
Allah Mahatahu berapa jumlah tetes hujan yang jatuh ke bumi, serta tidak satu lembar daunpun yang jatuh ke tanah melainkan diketahuiNya (QS. Al-An'aam 59). Sedangkan manusia telah terbukti tidak sanggup menghitung tetes hujan yang turun ke bumi, berapa jumlah butir pasir di sepanjang pantai dunia, serta berapa jumlah bayi yang lahir ke dunia sejak dahulu sampai sekarang.
Semua jumlah bilangan yang banyak itu hanya Allah SWT saja yang sanggup menghitungnya. Sebab, Dia Yang Mahatahu, Mahakuasa dan Mahakaya. Dia tahu jumlah makhluk sebelum diciptakan sesuatu diciptakan. Apakah adanya hisab menjadi sesuatu yang menyusahkan baginya, misalnya untuk menghitung semua amal manusia ketika hidup; kejahatannya dan keburukan yang pernah dikerjakan. Segala gerak yang dilakukan mamusia mulai dari mata, mulut, hidung, telinga, kaki, tangan dan segala sifat jasmani dan rohani (hati), semuanya mendapat penilaian dari Allah dan akan dibalas.
Pada hari hisab, segala sesuatu akan disaksikan oleh Allah SWT, para Rasul dan Nabi, para Malaikat, seluruh manusia, bina¬tang dan semua makhluk, sejak nabi Adam hingga makhluk terakhir. Ia juga akan disaksikan oleh ayah-ibunya, neneknya dan kawan-kawannya. Allah SWT berfirman :
"Bacalah kitabmu sendiri yang pada hari itu cukuplah menjadi saksi" (QS. Al-Isra' 14).
"Pada hari itu semua berita akan bercerita sendiri" (QS. Al-Zalzalah 4).
Orang-orang yang beriman kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, maka ia pasti diampuni dosa-dosa-Nya. Sebab, Allah mengampuni semua dosa manusia kecuali dosa syirik.
"Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap diri¬nya bersih? Sesungguhnya Allah membersihkan siapa saja yang dike¬hendakiNya dan mereka tidak dianiaya sedikitpun" (QS.An-Nisaa'48).
"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik (menyekutu¬kan Dia). Dan Dia mengampuni dosa selain syirik itu bagi siapa saja yang dikehendakiNya. Siapa saja yang menyekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia tersesat sejauh-jauhnya" (QS. An-Nisaa' 116).
"(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan per¬buatan keji selain kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Rabbmu Mahaluas ampunanNya. Dan Dia lebih mengetahui (keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka, janganlah kamu mengatakan dirimu suci. (Kare¬na) Dialah yang Mahatahu siapa yang bertaqwa" (QS. An-Najm 32).
Adapun orang-orang kafir yang menyekutukan-Nya, maka mereka termasuk orang-orang berdosa. Mereka tidak diampuni dosa-dosanya, sesuai dengan firman Allah SWT:
"Dan tidaklah mereka tahu bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendakiNya? Sesungguhnya pada yang demikian terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang beriman" (QS. Az-Zumar 53).
Betapa mudahnya seseorang terlepas dari api jahanam, sesuai dengan hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Ahmad, Bukha¬ri dan Muslim dari Adiy:
"Jauhkan dirimu dari api jahanam walaupun dengan bersedekah sebiji korma. Dan jika tidak mendapatkannya, maka cukuplah dengan perkataan yang baik".
Kedzaliman antar manusia di dunia merupakan dosa yang tidak terhindarkan. Namun, ia akan diadili dengan seadil-adilnya. Mere¬ka yang merampas harta orang lain, mencuri, memperkosa, membunuh, menganiaya. Mereka yang mengetahui di kanan kirinya banyak orang miskin, tersiksa dan memerlukan bantuan tetapi ia membiarkannya. Mereka yang bekerja tidak benar ketika bergaul, berpolitik, mau¬pun berdagang. Mereka yang berdosa besar maupun kecil, berjual beli secara bathil, membuka aurat di depan umum dan berteriak-teriak di jalanan, mengomel, berbisik, mengukur dan menimbang secara curang, hubungan antara majikan dengan buruh yang buruk, serta berbagai persoalan keluarga. Semua bentuk perbuatan itu pasti diadili. Ketika itu tidak ada partai dan golongan, kebang¬saan, kesukuan. Semua hal diketahui Allah.
Segala caci maki, tuduhan yang semena-mena tanpa bukti, menyakiti orang lain, bergunjing, mengkritik dengan maksud buruk, kata-kata yang keluar tanpa makna, menyia-nyiakan waktu, berhu¬tang tetapi tidak mau membayar, berjudi dan berzina, serta 1001 macam persoalan kehidupan manusia, semua pasti diadili dan menda¬pat hukuman Allah pada Kahri Kiamat. Rasulullah saw bersabda yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Tarmidzi dari Abu Hurairah:
"Tahukah engkau siapakah orang-orang miskin itu? Mereka adalah umatku yang datang pada Hari Kiamat dengan shalat, shaum, zakatnya, tetapi mereka telah mencaci maki, menuduh seseorang tanpa bukti, sehingga semua perbuatannya itu menyebabkannya ia telah menghilangkan kebaikannya. Kemudian ia ditenggelamkan ke dalam jahanam".
Orang-orang yang jumlah dosanya lebih banyak daripada amal kebajikannya, maka mereka pasti disiksa dalam api jahanam. Se¬dangkan orang-orang yang jumlah amal kebajikannnya lebih banyak daripada amal kejahatannya, maka mereka akan mendapat balasan kenikmatan di Hari Kiamat. Tetapi akan berbeda terhadap orang-orang yang jumlah amal kebajikan seimbang dengan amal bejahatan, maka mereka akan ditangguhkan, tidak dimasukkan ke dalam jannah atau jahanam. Mereka akan ditempatkan di suatu lokasi yang dise¬but Al-Araaf, sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Dari tempat ini, mereka dapat menyaksikan bagaimana pedihnnya siksa jahanam dan bagaimana pula kenikmatan yang diperoleh oleh penghu¬ni jannah. Namun, penghuni Al-Araaf ini suatu waktu pasti dima¬sukkan Allah ke dalam jannah. (QS Al Araaf 46-47).
"Dan di antara keduanya (penghuni jannah dan jahanam), ada batas (Al-A'raaf). Dan di atas Al-A'raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing kedua golongan itu dengan ciri-ciri (ke¬nikmatan yang) mereka (peroleh). Dan mereka berseru (kepada) warga jannah: 'Salaamun 'alaikum'. Mereka belum boleh memasuki¬nya, padahal mereka ingin (sekali) segera (ma¬suk ke dalam¬nya). Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghu¬ni jahanam, maka mereka berkata: 'Ya Rabbi kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang yang dzalim itu'" (QS Al-A'raaf 46-47).
C. KENIKMATAN JANNAH
Kehidupan di dalam jannah adalah abadi, penuh kesenangan dan kenikmatan. Allah SWT berfirman:
"Masukilah jannah itu dengan aman. Itulah hari kekekalan" (QS Qaaf 34).
Penghuni jannah akan bertemu dengan ayah, suami, istri, para famili, dan para cucunya yang beramal shalih dengan penuh kegem¬biraan dan kebahagiaan. Para malaikat akan masuk dari segala penjuru dengan menyampaikan salam.
"(yaitu) jannah 'Adn, tempat mukim mereka, bersama orang-orang shalih dari para bapak, istri dan anak cucu mere¬ka. Semen-tara itu, para malaikat masuk ke tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan): 'Sejahtera atas kalian selu¬ruhnya karena kesabaran kalian' (Salaamun 'alaikum bimaa shabar¬tum). Maka, alangkah baiknya tempat terakhir itu" (QS Ar Raad 23-24).
Tentang sifat-sifat jannah, Rasulullah saw bersabda yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah:
"Siapa saja yang masuk jannah, maka ia pasti merasakan se¬nang dan tidak pernah putusasa. Ia berpakaian yang tidak lepas, masa remaja yang tidak pernah pudar, matanya melihat sesuatu yang tidak pernah dilihat sebelumnya, telinganya mendengar sesuatu yang tidak pernah didengar sebelumnya, dan hati manusia tidak pernah menghayalkan sesuatu hal yang ada sebelumnya".
Pada waktu itu manusia akan melihat Rabbinya, yang dinyata¬kan Rasulullah saw sebagai bentuk yang Mahaindah. Juga di dalam jannah berlimpah buah-buahan yang tidak putus-putusnya dan tidak pernah terhalang.
"Dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (berbuah) dan tidak dilarang mengambilnya" (QS Al-Waaqi'ah 32-33).
D. SIKSAAN JAHANAM
Tentang siksaan terhadap orang kafir dan dzalim di dalam jahanam, Allah SWT berfirman:
"Hai orang-orang beriman, peliharalah diri dan keluargamu dari api jahanam yang bahan bakarnya adalah (tubuh) manusia dan bebatuan; penjaganya para malaikat yang kasar, keras, (dan) tidak (pernah) membantah kepada Allah terhadap apa yang diperintahkan¬Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" (QS At-Tahriim 6).
Sedang kedudukan orang-orang munafik, mereka berada di kerak jahanam yang paling bawah.
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (tempat mereka) berada pada tingkatan yang paling bawah dari jahanam, dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka" (QS. An-Nisaa' 145).
Allah SWT juga mengingatkan kepada manusia bahwa siksa jaha¬nam amatlah pedih.
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, maka kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam jahanam. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain (baru) supaya mereka merasakan adzab. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana" (QS An-Nisaa' 56).
E. ADZAB JAHANAM ADALAH SIKSAAN FISIK
KENIKMATAN JANNAH ADALAH KESENANGAN SEMPURNA
Siksaan jahanam adalah abadi dan kekal. Siksaan di jahanam maupun kenikmatan di jannah merupakam akibat perbuatan manusia di dunia. Semua itu dirasakan secara fisik, bukan secara roh.
Tentang pendapat bahwa kenikmatan maupun siksaan pada kedua tempat tersebut dirasa¬kan manusia dalam bentuk roh, maka pernya¬taan tersebut terbantah dengan memperhatikan firman Allah SWT:
"Ketika (itu) belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret. (Kemudian mereka dimasukkan) ke dalam air yang sangat panas, lalu mereka dibakar di dalam api (yang menya¬la-nyala)" (QS. Al-Mukmin 71-72).
"Pada hari itu dipanaskan emas perak di dalam jahanam, lalu lelehan (emas dan perak) itu (dipakai) untuk membakar dahi, lam¬bung dan punggung mereka. Kepada mereka (dikatakan): 'Inilah harta benda yang engkau simpan untuk dirimu sendiri. Maka, rasa¬kanlah sekarang (siksaan akibat dari) tabunganmu itu" (QS At-Taubah 35).
"Sekali-kali tidak. Sesungguhnya jahanam itu api yang berge¬jolak, yang mengelupaskan kulit kepala" (QS Al-Ma"aarij 15-16).
"(Bagi mereka adalah) jannah 'adn. Mereka masuk ke dalamnya. Di dalamnya, mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang yang terbuat dari emas, dan mutiara, serta pakaian mereka di sana adalah sutra" (QS Faathir 33).
Bagaimana mungkin siksaan yang disebutkan pada ayat-ayat Al-Qur'an tersebut bentuknya adalah siksaan yang bersifat ruh. Bah¬kan, patut pula diketahui bahwa kehidupan akhir tesebut mempunyai persamaan dengan kehidupan dunia, yaitu adanya perasaan, penger¬tian, kepuasaan dan adanya makhluk (hewan dan tumbuhan) yang akan menemani kehidupan manusia di jannah. Allah SWT berfirman:
"Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini" (QS Ath-Thuur 22).
Rasulullah saw bersabda:
"Ahli jannah makan dan minum di dalam jannah tetapi mereka tidak buang air besar, tidak buang ingus dan tidak kencing" (HR. Muslim dari Jabir ra).
Dari Nu'man bin Basyir ra, ia berkata: "Aku telah mendengar Rasulallah SAW berkata:
"Seringan-ringannya siksa pada Hari Kiamat ialah orang yang padanya diletakkan dua bara api di bawah tumitnya yang mampu mendidihkan otaknya. Pada saat itu ia merasa bahwa tidak seorang¬pun yang lebih berat siksaan yang diterimanya dibandingkan dengan orang lain. Padahal sesungguhnya itulah siksa seringan-ringannya" (HR. Bukhari Muslim).
F. Dampak Iman Kepada Hari Kiamat
Iman pada Hari Kiamat akan mampu mendorong setiap mukmin untuk berfikir sebelum melakukan sebuah tindakan. Sebab ia yakin bahwa semua amal perbuatannya akan dimintai pertangungjawabannya dan ia akan menerima balasannya, baik atau buruk sesuai dengan perbuatannya itu. Allah SWT berfirman:
"Siapa saja yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, maka pasti ia melihat (balasan)nya, dan siapapun yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah, juga pasti ia melihat (balasan)nya" (QS Al-Zalzalah 7-8).
1. Karena itu iman kepada hari akhir mempunyai dampak positif bagi kehidupan seseorang, yakni3):
a. Senantiasa menjaga diri untuk selalu taat kepada Allah SWT dan senantiasa mengharapkan pahala pada Hari Kiamat. Ia akan berusaha menjauhi segala laranganNya karena takut siksaan kelak di kemudian hari.
b. Menghibur dan mendorong agar bershabar bagi mukmin bahwa kebahagian (kesenangan, kesejahteraan) yang belum diperoleh¬nya di dunia akan diterimanya di kemudian hari.
G. CATATAN AMAL PERBUATAN MANUSIA PADA HARI KIAMAT
Iman kepada Hari Kiamat membawa konsekuensi yang logis untuk iman juga kepada adanya catatan amal perbuatan manusia. Setiap manusia akan menerimanya pada Hari Pembalasan itu. Allah SWT berfirman:
"Dan setiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatan¬nya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan kami berikan kepadanya pada Hari Kiamat sebuah kitab (catatan amal perbuatan) yang dijumpainya terbuka: 'Bacalah kitabmu. Maka, Cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab'" (QS Al-Israa' 13-14).
Al-Qur'an menjelaskan bahwa orang-orang mukmin akan diberikan catatan amal perbuatan mereka melalui tangan kanannya dari depan, sedangkan orang-orang mukmin yang melakukan dosa besar akan menerimanya melalui tangan kanannya tetapi dari belakang.
Hal itu akan berbeda terhadap orang-orang kafir. Mereka pasti menerima catatan amal perbuatannya melalui tangan kirinya. Allah SWT berfirman:
"Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitab (amal perbuatan)nya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: 'Ambilah. Bacalah kitabku (ini). Sesungguhnya aku yakin bahwa aku pasti menemui hisab terhadap diriku'. Maka, orang itu berada dalam kehidupan yang diridhoi dalam jannah yang tinggi, buah-buahannya dekat. (Kepada mereka dikatakan): 'Makan dan minumlah dengan sesukamu sebagai balasan terhadap amal perbuatan yang telah eng¬kau kerjakan pada hari-hari yang lalu. Adapun orang yang diberi¬kan kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: 'Wahai, alangkah baiknya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak tahu apa hisab terhadap diriku. Wahai, kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala-galanya. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat bagiku. Telah hilang kekuasaanku'. (Allah berfirman): 'Peganglah dia, lalu belenggulah tangannya ke leher¬nya. Masukan dia ke dalam api jahanam yang menyala-nyala itu. Juga, belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. (Sebab), sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah yang Mahabesar, dan juga tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Maka, tiada seorang temanpun baginya pada hari itu di sana, dan tidak ada makanan sedikitpun (baginya) selain darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya selain orang-orang yang berdosa" (QS. Al-Haaqqah 19-37).
"Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka ia akan berteriak: 'Celaka aku!'. Dan ia pasti masuk ke dalam api yang menyala-nyala (jahanam). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguh¬nya dia menyangka bahwa sekali-kali ia tidak kembali (kepada Tuhannya). (Bukan demikian. Sebeliknya) yang benar adalah Rabbi¬nya selalu melihatnya" (QS. Al-Insyiqaaq 10-15).
H. P E N U T U P
Demikianlah pokok pembahasan iman kepada Hari Kiamat. Orang-orang yang beriman kepada adanya Hari Pembalasan akan selalu ingat kepada setiap perbuatan yang akan dilakukannya. Pada setiap langkahnya, ia akan berfikir apakah perbuatannya telah sesuai dengan perintah Allah SWT, ataukah perbuatannya justru telah melangggar laranganNya.
Bagi kaum Muslimin, iman kepada Hari Kiamat sesungguhnya akan berdampak kuat bagi setiap amal perbuatannya. Bagi mereka yang iman, maka mereka pasti akan berlomba-lomba menjalankan semua perintah Allah berupa syariat yang telah diturunkan kepada RasulNya, Muhammad saw, yaitu Syariat Islam.
Hari Kiamat adalah suatu hari yang pasti datang. Sesungguh¬nya siksaan maupun kenikmatan yang diterima setiap manusia adalah akibat logis dari seluruh amal perbuatannya selama ia hidup di dunia. Wallahu'aklam
1) istilah "Ahmadiyah" tidak cocok untuk aliran agama ini. Ia lebih cocok dengan nama "Qadiyani" atau "Ghulamiyah". Lihat Dr. Fuad Mohd. Fachruddin, "Sejarah Perkembangan Pemikiran Islam: Khawarij - Syi'ah - Mu'tazilah - Murji'ah - Ahlussunnah Waljama'ah - Baha'i - Ahmadiyah", Jakarta (CV. Yasaguna), 1989. Halaman 129.
2) Lihat Maulana Muhammad Ali dalam "The Religion of Islam", Pakistan 1950 (p.281-283)
3) Lihat buku "Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah" oleh Muhammad Shahih Al-Uthaimin, ter¬jemahan Moeslim Abdul Ma'ani, Bina Ilmu, 1985 hal 89).
Sejarah syekh ahmad khatib al-minangkabawi
syekh Ahmad Khatib adalah turunan dari seorang hakim golongan Padri yang “benar-benar” anti penjajahan Belanda. Ia dilahirkan di Bukittinggi pada tahun 1855 oleh ibu bernama Limbak Urai.Limbak Urai adalah saudara dari Muhammad Shaleh Datuk Bagindo, Laras, Kepala Nagari Ampek Angkek yang berasal dari Koto Tuo Balaigurah, Kecamatan Ampek Angkek Candung.
Ayahnya adalah Abdullatief Khatib Nagari, saudara dari Datuk Rangkayo Mangkuto, Laras, Kepala Nagari Kotogadang, Kecamatan IV Koto, di seberang ngarai Bukittinggi. Baik dari pihak ibu ataupun pihak ayahnya, Ahmad Khatib adalah anak terpandang, dari kalangan keluarga yang mempunyai latar belakang agama dan adat yang kuat, anak dan kemenakan dari dua orang tuanku Laras dari Ampek Koto dan Ampek Angkek. Ditenggarai, bahwa ayah dan ibu Ahmad Khatib dipertemukan dalam pernikahan berbeda nagari ini, karena sama-sama memiliki kedudukan yang tinggi dalam adat, dari keluarga tuanku laras, dan latar belakang pejuang Paderi, dari keluarga Pakih Saghir dan Tuanku nan Tuo.
Ia meninggalkan kampung halamannya pergi ke Mekah pada tahun 1871 dibawa oleh ayahnya.Sampai dia menamatkan pendidikan, dan menikah pada 1879 dengan seorang putri Mekah Siti Khadijah, anak dari Syekh Shaleh al-Kurdi, maka Syekh Ahmad Khatib mulai mengajar dikediamannya di Mekah tidak pernah kembali ke daerah asalnya. Syekh Ahmad Khatib, mencapai derajat kedudukan yang tertinggi dalam mengajarkan agama sebagai imam dari Mazhab Syafei di Masjidil Haram, di Mekah. Semasa hidupnya, Beberapa karyanya tertulis dalam bahasa Arab dan Melayu, salah satunya adalah al-Jauhar al-Naqiyah fi al-A'mali al-Jaibiyah. Kitab tentang ilmu Miqat ini diselesaikan pada hari Senin 28 Dzulhijjah 1303 H. Karya lainnya adalah hsyiyatun Nafahat ala Syarh al-Waraqat. Syeikh Ahmad Khatib menyelesaikan penulisan kitab ini pada hari Kamis, 20 Ramadhan 1306 H, isinya tentang usul fiqih. Karyanya yang membahas ilmu matematika dan al-Jabar adalah Raudhatul Hussab fi A'mali Ilmil Hisab yang selesai dirulis pada hari Ahad 19 Dzulqaedah 1307 H di Makkah.
Syeikh Ahmad Khatib adalah tiang tengah dari mazhab Syafi'i dalam dunia Islam pada permulaan abad ke XIV. Ia juga dikenal sebagai ulama yang sangat peduli terhadap pencerdasan umat. Imam Masjidil Haram ini adalah ilmuan yang menguasai ilmu fiqih, sejarah, aljabar, ilmu falak, ilmu hitung, dan ilmu ukur (geometri).
Selain masalah teologi, dia juga pakar dalam ilmu falak. Hingga saat ini, ilmu falak digunakan untuk menentukan awal Ramadhan dan Syawal, perjalanan matahari termasuk perkiraan wahtu shalat, gerhana bulan dan matahari, serta kedudukan bintang-bintangtsabitah dan sayyarah, galaksi dan lainnya.
Syeikh Ahmad Khatib juga pakar dalam geometri dan tringonometri yang berfungsi untuk memprediksi dan menentukan arah kiblat, serta berfungsi untuk mengetahui rotasi bumi dan membuat kompas yang berguna saat berlayar. Kajian dalam bidang geometri ini tertuan dalam karyanya yang bertajuk Raudat al-Hussab dan Alam al-Hussab
Keunggulan dari Syekh Ahmad Khatib dalam memberikan pelajaran kepada muridnya, selalu menghindari sikap taqlid. Salah seorang dari muridnya, yakni H.Abdullah Ahmad, yang kemudian menjadi salah seorang di antara para ulama dan zuama, pemimpin kaum pembaru di Minangkabau, pendiri Sumatera Thawalib, yang berawal dari pengajian di Masjid Zuama, Jembatan Besi, Padangpanjang, dan kemudian mendirikan pula Persatuan Guru Agama Islam (PGAI), di Jati, Padang, telah mengembangkan ajaran gurunya melalui pendidikan dan pencerahan tradisi ilmu dan mendorong pula para muridnya untuk mempergunakan akal yang sesungguhnya adalah kurnia Allah yang harus dimaksimalkan.
Pemahaman dan pendalaman dari Syekh Ahmad Khatib el Minangkabawy ini, kemudian dilanjutkan oleh gerakan pembaruan di Minangkabau, melalui tabligh, diskusi, dan muzakarah ulama dan zu’ama, penerbitan brosur dan surat-kabar pergerakan, pendirian sekolah-sekolah seperti madrasah-madrasah Sumatera Thawalib, dan Diniyah Puteri, sampai ke nagari-nagari di Minangkabau, sehingga menjadi pelopor pergerakan merebut kemerdekaan Republik Indonesia.
B. MURID-MURID SYEKH AHMAD KHATIB
1. Karim Amarullah
Haji Abdul Karim Amrullah, disebut pula sebagai Haji Rasul, dilahirkan di desa Kepala Kabun, Nagari Sungai Batang, Maninjau, Agam, Sumatera Barat pada tanggal 10 Februari 1879, dengan nama kecil Muhammad Rasul. Ayahnya bernama Syekh Muhammad Amrullah, seorang syekh dari tarekat Naqsyabandiyah. Ibunya bernama Andung Tarawas. Pada tahun 1894 beliau dikirim ayahnya ke Mekah untuk menimba ilmu, dan berguru pada Syeh Ahmad Khatib yang pada waktu itu menjadi guru dan imam Masjidil Haram. Pada tahun 1925, sepulangnya dari perjalanan ke Jawa, beliau mengembangkan cabang organisasi Muhammadiyah di Minangkabau, yaitu di Sungai Batang, kampung halamannya.
Haji Abdul Karim Amrullah wafat pada tanggal 2 Juni 1945.Salah satu puteranya, yaitu Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), dikenal banyak orang sebagai ulama besar dan sastrawan Indonesia angkatan Balai Pustaka.
2. Muhammad Jamil Jambek
Syekh Muhammad Jamil Jambek adalah ulama pelopor pembaruan Islam dari Sumatra Barat awal abad ke-20, dikenal juga sebagai ahli ilmu falak terkemuka. Nama Syekh Muhammad Jamil Jambek lebih dikenal dengan sebutan Syekh Muhammad Jambek, dilahirkan dari keluarga bangsawan. Dia juga merupakan keturunan penghulu. Ayahnya bernama Saleh Datuk Maleka, seorang kepala nagari Kurai, sedangkan ibunya berasal dari Sunda.
Masa kecilnya tidak banyak diketahui. Namun, yang jelas Syekh Muhammad Jambek mendapatkan pendidikan dasarnya di Sekolah Rendah yang khusus mempersiapkan pelajar untuk masuk ke sekolah guru. Kemudian, dia dibawa ke Mekkah oleh ayahnya pada usia 22 tahun, untuk menimba ilmu.
Ketika itu dia berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Selama belajar di tanah suci, banyak ilmu agama yang dia dapatkan. Antara lain yang dipelajari secara intensif adalah tentang ilmu tarekat serta memasuki suluk di Jabal Abu Qubais.
Dengan pendalaman tersebut Syekh Muhammad Jambek menjadi seorang ahli tarekat dan bahkan memperoleh ijazah dari tarekat Naqsabandiyyah-Khalidiyah. Namun, dari semua ilmu yang pernah didalami yang pada akhirnya membuatnya terkenal adalah tentang ilmu falak. Keahliannya di bidang ilmu falak mendapat pengakuan luas di Mekkah. Oleh sebab itu, ketika masih berada di tanah suci, Syekh Muhammad Jambek pun mengajarkan ilmunya itu kepada para penuntut ilmu dari Minangkabau yang belajar di Mekkah. Seperti, Ibrahim Musa Parabek (pendiri perguruan Tawalib Parabek) serta Syekh Abbas Abdullah (pendiri perguruan Tawalib Padang Panjang).
Pada tahun 1903, dia kembali ke tanah air. Ia pun memilih mengamalkan ilmunya secara langsung kepada masyarakat; mengajarkan ilmu tentang ketauhidan dan mengaji. Di antara murid-muridnya terdapat beberapa guru tarekat. Lantaran itulah Syekh Muhammad Jambek dihormati sebagai Syekh Tarekat.
Seiring perjalanan waktu, sikap dan pandangannya terhadap tarekat mulai berubah. Syekh Muhammad Jambek kini tidak lagi tertarik pada tarekat. Pada awal tahun 1905, ketika diadakan pertemuan ulama guna membahas keabsahan tarekat yang berlangsung di Bukit Surungan, Padang Panjang, Syekh Muhammad berada di pihak yang menentang tarekat. Dia "berhadapan" dengan Syekh Bayang dan Haji Abbas yang membela tarekat.
Kemudian dia menulis buku mengenai kritik terhadap tarekat berjudul Penerangan Tentang Asal Usul Thariqatu al-Naksyabandiyyah dan Segala yang Berhubungan dengan Dia, terdiri atas dua jilid. Salah satu penjelasan dalam buku itu, yakni tarekat Naksyabandiyyah diciptakan oleh orang dari Persia dan India. Syekh Muhammad Jambek menyebut orang-orang dari kedua negeri itu penuh takhayul dan khurafat yang makin lama makin jauh dari ajaran Islam. Akan tetapi secara umum dia bersikap tidak ingin bermusuhan dengan adat istiadat Minangkabau. Tahun 1929, Syekh Muhammad Jambek mendirikan organisasi bernama Persatuan Kebangsaan Minangkabau dengan tujuan untuk memelihara, menghargai, dan mencintai adat istiadat setempa.
Walaupun beliu pada awal-awal nya sebagai guru tarekat akhirnya termasuk salah satu ulama yang membebaskan masyarakat dari kemusyrikan.
3. SULAIMAN ARRASULI
Pendidikan terakhir Syeikh Sulaiman ar-Rasuli al-Minankabawi adalah di Mekkah. Ulama yang seangkatan dengannya antara lain adalah Kiyai Haji Hasyim Asyari dari Jawa Timur (1287 H/1871 M - 1366 H/1947 M), Syeikh Hasan Maksum, Sumatra Utara (wafat 1355 H/1936 M), Syeikh Khathib Ali al-Minankabawi, Syeikh Muhammad Zain Simabur al-Minankabawi (sempat menjadi Mufti Kerajaan Perak tahun 1955 dan wafat di Pariaman pada 1957), Syeikh Muhammad Jamil Jaho al-Minankabawi, Syeikh Abbas Ladang Lawas al-Minankabawi dll. sementara ulama Malaysia yang seangkatan dan sama-sama belajar di Mekkah dengannya antara lain adalah Syeikh Utsman Sarawak (1281 H/1864 M - 1339 H/1921 M), Tok Kenali (1287 H/1871 M - 1352 H/1933 M) dll.
Ketika tinggal di Mekah, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli al-Minankabawi selain belajar dengan Syeikh Ahmad Khatib Abdul Lathif al-Minankabawi, beliau juga mendalami ilmu-ilmu dari pada ulama Kelantan dan Patani. Antaranya, Syeikh Wan Ali Abdur Rahman al-Kalantani, Syeikh Muhammad Ismail al-Fathani dan Syeikh Ahmad Muhammad Zain al-Fathani. Pada tahun 1928 itu juga, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli bersama sahabat-sahabatnya Syeikh Abbas Ladang Lawas dan Syeikh Muhammad Jamil Jaho mengasaskan Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Kemudian persatuan tersebut menjadi sebuah parti politik yang mempunyai singkatan nama PERTI. Baik dalam sistem pendidikan mahupun perjuangan dalam parti politik, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli dan kawan-kawannya secara tegas dan berani mempertahankan dan berpegang dengan satu mazhab, iaitu Mazhab Syafie.
Beberapa orang ahli sejarah telah mencatatkan bahawa Syeikh Sulaiman ar-Rasuli adalah memang seorang ulama besar yang berpengaruh terhadap kawan dan lawan. Sejak zaman pemerintah Belanda, pembesar-pembesar Belanda datang menziarahi beliau. Demikian juga pemimpin-pemimpin setelah kemerdekaan Indonesia. Soekarno sejak belum menjadi Presiden Indonesia hingga setelah berkuasa memang sering berkunjung ke rumah Syeikh Sulaiman ar-Rasuli. Pada hari pengkebumian beliau, dianggarkan 30,000 orang hadir termasuk ramai pemimpin dari Jakarta, bahkan juga dari Malaysia.
4. HASYIM ANSYA'ARI
Kyai Haji Mohammad Hasyim Asy'arie (bagian belakangnya juga sering dieja Asy'ari atau Ashari) (10 April 1875 (24 Dzulqaidah 1287H)–25 Juli 1947; dimakamkan di Tebu Ireng, Jombang) adalah pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia.
KH Hasyim Asyari adalah putra ketiga dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Kyai Asyari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, Hasyim merupakan keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir (Sultan Pajang).
Berikut silsilah lengkapnya[rujukan?]: Ainul Yaqin (Sunan Giri), Abdurrohman (Jaka Tingkir), Abdul Halim (Pangeran Benawa), Abdurrohman (Pangeran Samhud Bagda), Abdul Halim, Abdul Wahid, Abu Sarwan, KH. Asy'ari (Jombang), KH. Hasyim Asy'ari (Jombang)
KH Hasyim Asyari belajar dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga pemimpin Pesantren Nggedang di Jombang. Sejak usia 15 tahun, beliau berkelana menimba ilmu di berbagai pesantren, antara lain Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren Kademangan di Bangkalan dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo.
Pada tahun 1892, KH Hasyim Asyari pergi menimba ilmu ke Mekah, dan berguru pada Syeh Ahmad Khatib dan Syekh Mahfudh at-Tarmisi. Pada tahun 1899, sepulangnya dari Mekah, KH Hasyim Asyari mendirikan Pesantren Tebu Ireng, yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad 20. Pada tahun 1926, KH Hasyim Asyari menjadi salah satu pemrakarsa berdirinya Nadhlatul Ulama (NU), yang berarti kebangkitan ulama.
Walaupun sama-sama berguru kepada syeikh khatib al-minangkabawi KH hasyim asysri juga memiliki pandangan berbeda dengan murid-murid syeikh khatib yang lain seperti ahmad dahlan pendiri organisasi muhamadiyah , walaupun demikian mereka tetap saling menghargai satu sama lain, pada pembahasan selanjutnya akan saya coba membahas perbedaan pandangan para murid-murid syaikh khatib al-minagkabawi
5. AHMAD DAHLAN
Kyai Haji Ahmad Dahlan (lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868 – meninggal di Yogyakarta, 23 Februari 1923 pada umur 54 tahun) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kasultanan Yogyakarta pada masa itu. Nama kecil KH. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwisy.
Nama kecil KH. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwisy. Ia merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhanya saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, salah seorang yang terkemuka di antara Walisongo, yaitu pelopor penyebaran agama Islam di Jawa.[1] Silsilahnya tersebut ialah Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq, Maulana 'Ainul Yaqin, Maulana Muhammad Fadlullah (Sunan Prapen), Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom), Demang Djurung Djuru Sapisan, Demang Djurung Djuru Kapindo, Kyai Ilyas, Kyai Murtadla, KH. Muhammad Sulaiman, KH. Abu Bakar, dan Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan).
Pada umur 15 tahun, ia pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, ia berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Pada tahun 1903, ia bertolak kembali ke Mekah dan menetap selama dua tahun. Pada masa ini, ia sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU, KH. Hasyim Asyari. Walaupun pernah satu guru tapi tak selamanya cara padang orang tersebut sama ini terbukti dengan perbedaan yang terjadi antra pendiri NU hasyim Asyari dan ahmad dahlan pendiri muhamadiyah.
C. PENGARUH SYEIKH KHATIB AL-MINANGKABAWI
Syeikh Ahmad Khatib al Minangkabawi ini boleh dikatakan menjadi tiang tengah dari Madzhab Syafi’i dalam dunia Islam pada permulaan abad ke XIV. Beliau banyak sekali mengarang kitab dalam bahasa Arab dan bahasa Melayu (Indonesia), di antaranya yang banyak tersiar di Indonesia, adalah:
l. Riyadathul Wardhiyah dalam ilmu fiqih.
2. Al Khitathul Mardhiah, soal membaca “Ushalli”.
3. Al Minhajul Masyru’, soal faraidh (harta pusaka).
4. Ad Dalilul Masmu’, soal hukum pembagian harta pusaka.
5. An Nafahaat, Syarah waraqaat. (usul fiqih).
Perhatiannya terhadap hukum waris juga sangat tinggi, kepakarannya dalam mawarits (hukum waris) telah membawa pembaharuan adat Minang yang bertentangan dengan Islam. Martin van Bruinessen mengatakan, karena sikap reformis inilah akhirnya al-Minangkabawi semakin terkenal. Salah satu kritik Syeikh Ahmad Khatib yang cukup keras termaktub di dalam kitabnya Irsyadul Hajara fi Raddhi 'alan Nashara. Di dalam kitab ini, ia menolak doktrin trinitas Kristen yang dipandangnya sebagai konsep Tuhan yang ambigu.
Cara berpikir seorang beragama Islam bertolak dari anggapan keyakinan, bahwa Islam itu tidak mungkin memusuhi kebudayaan. Dengan kemajuan cara berpikir orang berusaha menemukan kembali cita-citanya dalam Islam. Timbul pertanyaan, apakah di dalam Islam ada unsur yang menyangkut kepada cita-cita persamaan, kebangsaan, hasrat untuk maju dan rasionalisme.Keunggulan dari Syekh Ahmad Khatib dalam memberikan pelajaran kepada muridnya, selalu menghindari sikap taqlid.
Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawy menyebarkan pikiran-pikirannya dari Mekah melalui tulisan-tulisannya di majalah atau buku-buku agama Islam, dan melalui murid-murid yang belajar kepadanya.Dengan cara itu, beliau memelihara hubungan dengan daerah asalnya Minangkabau, melalui murid-muridnya yang menunaikan ibadah haji ke Mekah, dan yang belajar padanya. Mereka inilah kemudian menjadi guru di daerah asalnya masing-masing.
Sejak berangkat ke tanah suci mekah ahmad khatib tidak pernah kembali ke tanah air, tetapi pengaruh nya cukup besar di minangkabau, tanah asalnya pengaruh ahmad khatib di di indonesia agak terbatas
Tetapi pengaruh ahmad khatib teradap murid-muridnya yangberasl dari daerah minang kabau tidak dapat di sangkal lagi, umumnya murid-murid ahmad khatib menolak hukum waris adat minang kabau yang berpusaka kepada kemenakan, khusus dikalangan pembaharu, penolakan ahmad khatib terhadap tarikat naqsybandiah di teruskan oleh murid- muridnya kemudian, ahmad khatib juga berjasa dalam mendidik murid-murid yang datang dari indoensia yang belajar kepadanya, sebagian mereka menjadi ulama dan tokoh dakwah terkemuka di indonesia
Penolakan ahmad khatib terhadap hukum waris adat di minang kabau di perjuangkan dengan sangat gigih oleh muridnya yahya, yang terkenal dengan tuanku simabur berasal dari tanah datar sekarang kabupaten, dalam tulisan, khutbah, dan pengajian karang kabupaten, simabur mengumumkan perang kepada kaum adat serta ulama ikut membantu menegakkan hukum adat mengenai waris.
Penolakan terhadap tarekat naqsyabandiah di suarakan oleh muridnya Dr. haji abdul karim amarullah, Dr. haji abdullah ahmad, dan syeikh muhammad jamil jambek. Dr. haji karim Amarullah dan Dr haji abdullah ahmad bersama dua orang muridnya pernah terlibat perdebatan dengan tokoh tarekat naqsyabandiah dipdang pada tahun 1906. tokoh naqsyabandiah tersebut adalah itu adalah syeikh khatib ali, salah seorang murid ahmad khatib penentang adat, khatib saidina, tuanku syeikh bayang, dan tuanku syeikh seberang pandang, imam mesjid ganting dalam perdebatan ini pihak pembela tarekat naqsyabandi kewalahan menghadap ulama muda yang didik oleh ahmad khatib, mereka dapat mengemukakan keterangan dan dasar-dasar yang kuat dalam menentang tarekat, sejak peritiwa itu timbullah sebutan "kaum muda" dan "kaum tua"golongan yang disebut pertama adalah mereka yang terdiri ulama yang setuju dengan pendapat ahmad khatib dalam menolak tarekat, walaupun di pihak pembela tarekat juga ada murid ahmad khatib, namun beliau tidak dapat mematahkan mematahkan argumentasi kawan-kawan seperguruannya
D. POLEMIK MURID-MURID DAN MURAKAZAH SYAIKH AHMAD KHATIB AL-MINANGKABAWI
Kecamannya mengenai tarekat, telah dijawab oleh Syekh Muhamamad Saat bin Tanta’ dari Mungkar dan Syekh Khatib Ali di Padang jang menerbitkan beberapa tulisan tentang itu.Kecamannya dalam harta warisan, menumbuhkan kesadaran banyak orang Minangkabau memahami, bahwa tidak dapat disesuaikan hukum waris matrilineal dengan hukum agama.Di antara guru agama banyak juga yang tidak dapat menyetujui pendirian Ahmad Khatib, yang dianggap tidak kenal damai. Walaupun pikiran-pikiran itu mendapat tantangan dari kaum adat, maupun muridnya yang tidak menyetujui pemikiran demikian, namun perbedaan pendapat ini telah melahirkan hasrat untuk lebih berkembang, menghidupkan kembali kesadaran untuk pengenalan kembali diri sendiri, yaitu kesadaran untuk meninggalkan keterbelakangan.
Syeikh ahmad khatib al-minangkabawi berkontroversi dengan sayid utsman (mufti betawi) dan beberapa ulama yang berasal dari palembang dan ulama-ulama yang lainya. Polimik yang paling hebat adalah pandangan tentang tarekat naqsyabandiyah. Syekh khatib al-minang kabawi telah disanggah ramai ulama ulama minagkabau sendiri terutama oleh ulama besar, sahabatnya, beliu adalah syeikh muhammad sa'ad mungka yang berasal dari mungkar tua, minangkabau
Dalam beberapa karya Ahmad Khatib menunjukkan bahwa barang siapa masih mematuhi lembaga-lembaga “kafir”, adalah kafir dan akan masuk neraka. Kemudian, semua harta benda yang diperoleh menurut hukum waris kepada kemenakan, menurut pendapat Ahmad Khatib harus dianggap sebagai harta rampasan.Pemikiran-pemikiran yang disampaikan Ahmad Khatib memicu pembaruan pemikiran Islam di Minangkabau. Di pihak lain perlawanan yang berarti terhadap pemikiran Ahmad Khatib datang dari kalangan Islam tradisi yang adakalanya disebut kaum tua. Pemahaman dan pendalaman dari Syekh Ahmad Khatib el Minangkabawy ini, kemudian dilanjutkan oleh gerakan pembaruan di Minangkabau, melalui tabligh, diskusi, dan muzakarah ulama dan zu’ama, penerbitan brosur dan surat-kabar pergerakan, pendirian sekolah-sekolah seperti madrasah-madrasah Sumatera Thawalib,
Syeikh khatib al-minangkabawi juga mendapatkan terhadap kesuksesannya sebagai guru, muhammad sa'id babsil, seorang ulama arab dan mufti mazhab syafi'i yang juga guru masjidil haram merasa iri terhadap kemajuan yang dicapai oleh ahmad khatib di negeri arab. Ia merasa tidak senang melihat non arab memperoleh tempat mengajar di pusat pengajaran kota mekah. Maka atas hasutannya, ketika ahmad khatib baru mengajar di masjidil haram, beliu di lempari batu, mufti ini tidak dapat berbuat lain, karena ahmad khatib mendapat ijin syarief awn al-rafiq untuk mengajar di situ. Peistiwa yang sama juga dialami oleh muridnya haji abdul karim amarullah di tempat yang sama. Karena gagal gagal mematahkan semangat dan membatasi ahmad khatib di mekah, a lalu bertindak sesuka hatinya kepada haji abdul karim amarullah murid kesayangan ahmad khatib. Ketika abdul karimamarullah datang kedua kalinya ke mekah beliu lebih banyak maengajar dari pada belajar. Setelah tempatnya mengajar penuh oleh murid, beliu disuruh ahmad khatib mengajar di masjidil haram. Beberapa hari haji abdul karim amarullah datanglah mufti itu mengusirnya, iajengkel sekali bahwa yang meyuruh mengajar dimasjidil haram adalah syeikh ahmad khatib.
Rasa tidak senang syeikh muhammad sa'id babsil kepada ahmad khatib bermula dari dari permusuhannya dengan guru syeikh ahmad khati yaitu syeikh bakr al-syatta. Kemudia ditambah lagi denga iri hati atas sukses ulama asal indonesia it di kota mekah dan tanah hijaz.
Sifat ahmad khatib dalam menentang adat juga mendapat tantangan dari banyak guru agama diatara yang mengemukakan tanggapannya kepada ahmad khatib adalah syeikh sa'ad mukadalam tulisannya tabih al-awam, yang telah saya sampaikan juga di atas dalam buku itu ia menyinggung hal ini sambil lalu dengan nada sinis ia menganatakan …jika harta orang minang dianggab haram maka haram pulalah juga pemberian yang berasal dari suku bangsa ini, tilsan diatas tidak lebih pelampiasab rasa benci belaka keada ulama penentang tarekat itu
Semua tantangan yang di hadapi oleh ahmad khatib tersebut tidak megurangi kemasyhuranya, bahkan sebaliknya menambah popularitasnya dan menambah penghormatan kaum pembaharu/kaum muda di minangkabau kepadanya.
Majalah Sabili No. 13 tahun XVI 15 Januari 2009, Special Edition
Ricklefs, M.C. (1994). A History of Modern Indonesia Since c. 1300, 2nd ed. Stanford: Stanford University Press. Seri terjemah
noer, Deliar, (1942), gerakan modrn islam di indonesia,
Ayahnya adalah Abdullatief Khatib Nagari, saudara dari Datuk Rangkayo Mangkuto, Laras, Kepala Nagari Kotogadang, Kecamatan IV Koto, di seberang ngarai Bukittinggi. Baik dari pihak ibu ataupun pihak ayahnya, Ahmad Khatib adalah anak terpandang, dari kalangan keluarga yang mempunyai latar belakang agama dan adat yang kuat, anak dan kemenakan dari dua orang tuanku Laras dari Ampek Koto dan Ampek Angkek. Ditenggarai, bahwa ayah dan ibu Ahmad Khatib dipertemukan dalam pernikahan berbeda nagari ini, karena sama-sama memiliki kedudukan yang tinggi dalam adat, dari keluarga tuanku laras, dan latar belakang pejuang Paderi, dari keluarga Pakih Saghir dan Tuanku nan Tuo.
Ia meninggalkan kampung halamannya pergi ke Mekah pada tahun 1871 dibawa oleh ayahnya.Sampai dia menamatkan pendidikan, dan menikah pada 1879 dengan seorang putri Mekah Siti Khadijah, anak dari Syekh Shaleh al-Kurdi, maka Syekh Ahmad Khatib mulai mengajar dikediamannya di Mekah tidak pernah kembali ke daerah asalnya. Syekh Ahmad Khatib, mencapai derajat kedudukan yang tertinggi dalam mengajarkan agama sebagai imam dari Mazhab Syafei di Masjidil Haram, di Mekah. Semasa hidupnya, Beberapa karyanya tertulis dalam bahasa Arab dan Melayu, salah satunya adalah al-Jauhar al-Naqiyah fi al-A'mali al-Jaibiyah. Kitab tentang ilmu Miqat ini diselesaikan pada hari Senin 28 Dzulhijjah 1303 H. Karya lainnya adalah hsyiyatun Nafahat ala Syarh al-Waraqat. Syeikh Ahmad Khatib menyelesaikan penulisan kitab ini pada hari Kamis, 20 Ramadhan 1306 H, isinya tentang usul fiqih. Karyanya yang membahas ilmu matematika dan al-Jabar adalah Raudhatul Hussab fi A'mali Ilmil Hisab yang selesai dirulis pada hari Ahad 19 Dzulqaedah 1307 H di Makkah.
Syeikh Ahmad Khatib adalah tiang tengah dari mazhab Syafi'i dalam dunia Islam pada permulaan abad ke XIV. Ia juga dikenal sebagai ulama yang sangat peduli terhadap pencerdasan umat. Imam Masjidil Haram ini adalah ilmuan yang menguasai ilmu fiqih, sejarah, aljabar, ilmu falak, ilmu hitung, dan ilmu ukur (geometri).
Selain masalah teologi, dia juga pakar dalam ilmu falak. Hingga saat ini, ilmu falak digunakan untuk menentukan awal Ramadhan dan Syawal, perjalanan matahari termasuk perkiraan wahtu shalat, gerhana bulan dan matahari, serta kedudukan bintang-bintangtsabitah dan sayyarah, galaksi dan lainnya.
Syeikh Ahmad Khatib juga pakar dalam geometri dan tringonometri yang berfungsi untuk memprediksi dan menentukan arah kiblat, serta berfungsi untuk mengetahui rotasi bumi dan membuat kompas yang berguna saat berlayar. Kajian dalam bidang geometri ini tertuan dalam karyanya yang bertajuk Raudat al-Hussab dan Alam al-Hussab
Keunggulan dari Syekh Ahmad Khatib dalam memberikan pelajaran kepada muridnya, selalu menghindari sikap taqlid. Salah seorang dari muridnya, yakni H.Abdullah Ahmad, yang kemudian menjadi salah seorang di antara para ulama dan zuama, pemimpin kaum pembaru di Minangkabau, pendiri Sumatera Thawalib, yang berawal dari pengajian di Masjid Zuama, Jembatan Besi, Padangpanjang, dan kemudian mendirikan pula Persatuan Guru Agama Islam (PGAI), di Jati, Padang, telah mengembangkan ajaran gurunya melalui pendidikan dan pencerahan tradisi ilmu dan mendorong pula para muridnya untuk mempergunakan akal yang sesungguhnya adalah kurnia Allah yang harus dimaksimalkan.
Pemahaman dan pendalaman dari Syekh Ahmad Khatib el Minangkabawy ini, kemudian dilanjutkan oleh gerakan pembaruan di Minangkabau, melalui tabligh, diskusi, dan muzakarah ulama dan zu’ama, penerbitan brosur dan surat-kabar pergerakan, pendirian sekolah-sekolah seperti madrasah-madrasah Sumatera Thawalib, dan Diniyah Puteri, sampai ke nagari-nagari di Minangkabau, sehingga menjadi pelopor pergerakan merebut kemerdekaan Republik Indonesia.
B. MURID-MURID SYEKH AHMAD KHATIB
1. Karim Amarullah
Haji Abdul Karim Amrullah, disebut pula sebagai Haji Rasul, dilahirkan di desa Kepala Kabun, Nagari Sungai Batang, Maninjau, Agam, Sumatera Barat pada tanggal 10 Februari 1879, dengan nama kecil Muhammad Rasul. Ayahnya bernama Syekh Muhammad Amrullah, seorang syekh dari tarekat Naqsyabandiyah. Ibunya bernama Andung Tarawas. Pada tahun 1894 beliau dikirim ayahnya ke Mekah untuk menimba ilmu, dan berguru pada Syeh Ahmad Khatib yang pada waktu itu menjadi guru dan imam Masjidil Haram. Pada tahun 1925, sepulangnya dari perjalanan ke Jawa, beliau mengembangkan cabang organisasi Muhammadiyah di Minangkabau, yaitu di Sungai Batang, kampung halamannya.
Haji Abdul Karim Amrullah wafat pada tanggal 2 Juni 1945.Salah satu puteranya, yaitu Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), dikenal banyak orang sebagai ulama besar dan sastrawan Indonesia angkatan Balai Pustaka.
2. Muhammad Jamil Jambek
Syekh Muhammad Jamil Jambek adalah ulama pelopor pembaruan Islam dari Sumatra Barat awal abad ke-20, dikenal juga sebagai ahli ilmu falak terkemuka. Nama Syekh Muhammad Jamil Jambek lebih dikenal dengan sebutan Syekh Muhammad Jambek, dilahirkan dari keluarga bangsawan. Dia juga merupakan keturunan penghulu. Ayahnya bernama Saleh Datuk Maleka, seorang kepala nagari Kurai, sedangkan ibunya berasal dari Sunda.
Masa kecilnya tidak banyak diketahui. Namun, yang jelas Syekh Muhammad Jambek mendapatkan pendidikan dasarnya di Sekolah Rendah yang khusus mempersiapkan pelajar untuk masuk ke sekolah guru. Kemudian, dia dibawa ke Mekkah oleh ayahnya pada usia 22 tahun, untuk menimba ilmu.
Ketika itu dia berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Selama belajar di tanah suci, banyak ilmu agama yang dia dapatkan. Antara lain yang dipelajari secara intensif adalah tentang ilmu tarekat serta memasuki suluk di Jabal Abu Qubais.
Dengan pendalaman tersebut Syekh Muhammad Jambek menjadi seorang ahli tarekat dan bahkan memperoleh ijazah dari tarekat Naqsabandiyyah-Khalidiyah. Namun, dari semua ilmu yang pernah didalami yang pada akhirnya membuatnya terkenal adalah tentang ilmu falak. Keahliannya di bidang ilmu falak mendapat pengakuan luas di Mekkah. Oleh sebab itu, ketika masih berada di tanah suci, Syekh Muhammad Jambek pun mengajarkan ilmunya itu kepada para penuntut ilmu dari Minangkabau yang belajar di Mekkah. Seperti, Ibrahim Musa Parabek (pendiri perguruan Tawalib Parabek) serta Syekh Abbas Abdullah (pendiri perguruan Tawalib Padang Panjang).
Pada tahun 1903, dia kembali ke tanah air. Ia pun memilih mengamalkan ilmunya secara langsung kepada masyarakat; mengajarkan ilmu tentang ketauhidan dan mengaji. Di antara murid-muridnya terdapat beberapa guru tarekat. Lantaran itulah Syekh Muhammad Jambek dihormati sebagai Syekh Tarekat.
Seiring perjalanan waktu, sikap dan pandangannya terhadap tarekat mulai berubah. Syekh Muhammad Jambek kini tidak lagi tertarik pada tarekat. Pada awal tahun 1905, ketika diadakan pertemuan ulama guna membahas keabsahan tarekat yang berlangsung di Bukit Surungan, Padang Panjang, Syekh Muhammad berada di pihak yang menentang tarekat. Dia "berhadapan" dengan Syekh Bayang dan Haji Abbas yang membela tarekat.
Kemudian dia menulis buku mengenai kritik terhadap tarekat berjudul Penerangan Tentang Asal Usul Thariqatu al-Naksyabandiyyah dan Segala yang Berhubungan dengan Dia, terdiri atas dua jilid. Salah satu penjelasan dalam buku itu, yakni tarekat Naksyabandiyyah diciptakan oleh orang dari Persia dan India. Syekh Muhammad Jambek menyebut orang-orang dari kedua negeri itu penuh takhayul dan khurafat yang makin lama makin jauh dari ajaran Islam. Akan tetapi secara umum dia bersikap tidak ingin bermusuhan dengan adat istiadat Minangkabau. Tahun 1929, Syekh Muhammad Jambek mendirikan organisasi bernama Persatuan Kebangsaan Minangkabau dengan tujuan untuk memelihara, menghargai, dan mencintai adat istiadat setempa.
Walaupun beliu pada awal-awal nya sebagai guru tarekat akhirnya termasuk salah satu ulama yang membebaskan masyarakat dari kemusyrikan.
3. SULAIMAN ARRASULI
Pendidikan terakhir Syeikh Sulaiman ar-Rasuli al-Minankabawi adalah di Mekkah. Ulama yang seangkatan dengannya antara lain adalah Kiyai Haji Hasyim Asyari dari Jawa Timur (1287 H/1871 M - 1366 H/1947 M), Syeikh Hasan Maksum, Sumatra Utara (wafat 1355 H/1936 M), Syeikh Khathib Ali al-Minankabawi, Syeikh Muhammad Zain Simabur al-Minankabawi (sempat menjadi Mufti Kerajaan Perak tahun 1955 dan wafat di Pariaman pada 1957), Syeikh Muhammad Jamil Jaho al-Minankabawi, Syeikh Abbas Ladang Lawas al-Minankabawi dll. sementara ulama Malaysia yang seangkatan dan sama-sama belajar di Mekkah dengannya antara lain adalah Syeikh Utsman Sarawak (1281 H/1864 M - 1339 H/1921 M), Tok Kenali (1287 H/1871 M - 1352 H/1933 M) dll.
Ketika tinggal di Mekah, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli al-Minankabawi selain belajar dengan Syeikh Ahmad Khatib Abdul Lathif al-Minankabawi, beliau juga mendalami ilmu-ilmu dari pada ulama Kelantan dan Patani. Antaranya, Syeikh Wan Ali Abdur Rahman al-Kalantani, Syeikh Muhammad Ismail al-Fathani dan Syeikh Ahmad Muhammad Zain al-Fathani. Pada tahun 1928 itu juga, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli bersama sahabat-sahabatnya Syeikh Abbas Ladang Lawas dan Syeikh Muhammad Jamil Jaho mengasaskan Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Kemudian persatuan tersebut menjadi sebuah parti politik yang mempunyai singkatan nama PERTI. Baik dalam sistem pendidikan mahupun perjuangan dalam parti politik, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli dan kawan-kawannya secara tegas dan berani mempertahankan dan berpegang dengan satu mazhab, iaitu Mazhab Syafie.
Beberapa orang ahli sejarah telah mencatatkan bahawa Syeikh Sulaiman ar-Rasuli adalah memang seorang ulama besar yang berpengaruh terhadap kawan dan lawan. Sejak zaman pemerintah Belanda, pembesar-pembesar Belanda datang menziarahi beliau. Demikian juga pemimpin-pemimpin setelah kemerdekaan Indonesia. Soekarno sejak belum menjadi Presiden Indonesia hingga setelah berkuasa memang sering berkunjung ke rumah Syeikh Sulaiman ar-Rasuli. Pada hari pengkebumian beliau, dianggarkan 30,000 orang hadir termasuk ramai pemimpin dari Jakarta, bahkan juga dari Malaysia.
4. HASYIM ANSYA'ARI
Kyai Haji Mohammad Hasyim Asy'arie (bagian belakangnya juga sering dieja Asy'ari atau Ashari) (10 April 1875 (24 Dzulqaidah 1287H)–25 Juli 1947; dimakamkan di Tebu Ireng, Jombang) adalah pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia.
KH Hasyim Asyari adalah putra ketiga dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Kyai Asyari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, Hasyim merupakan keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir (Sultan Pajang).
Berikut silsilah lengkapnya[rujukan?]: Ainul Yaqin (Sunan Giri), Abdurrohman (Jaka Tingkir), Abdul Halim (Pangeran Benawa), Abdurrohman (Pangeran Samhud Bagda), Abdul Halim, Abdul Wahid, Abu Sarwan, KH. Asy'ari (Jombang), KH. Hasyim Asy'ari (Jombang)
KH Hasyim Asyari belajar dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga pemimpin Pesantren Nggedang di Jombang. Sejak usia 15 tahun, beliau berkelana menimba ilmu di berbagai pesantren, antara lain Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren Kademangan di Bangkalan dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo.
Pada tahun 1892, KH Hasyim Asyari pergi menimba ilmu ke Mekah, dan berguru pada Syeh Ahmad Khatib dan Syekh Mahfudh at-Tarmisi. Pada tahun 1899, sepulangnya dari Mekah, KH Hasyim Asyari mendirikan Pesantren Tebu Ireng, yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad 20. Pada tahun 1926, KH Hasyim Asyari menjadi salah satu pemrakarsa berdirinya Nadhlatul Ulama (NU), yang berarti kebangkitan ulama.
Walaupun sama-sama berguru kepada syeikh khatib al-minangkabawi KH hasyim asysri juga memiliki pandangan berbeda dengan murid-murid syeikh khatib yang lain seperti ahmad dahlan pendiri organisasi muhamadiyah , walaupun demikian mereka tetap saling menghargai satu sama lain, pada pembahasan selanjutnya akan saya coba membahas perbedaan pandangan para murid-murid syaikh khatib al-minagkabawi
5. AHMAD DAHLAN
Kyai Haji Ahmad Dahlan (lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868 – meninggal di Yogyakarta, 23 Februari 1923 pada umur 54 tahun) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kasultanan Yogyakarta pada masa itu. Nama kecil KH. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwisy.
Nama kecil KH. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwisy. Ia merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhanya saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, salah seorang yang terkemuka di antara Walisongo, yaitu pelopor penyebaran agama Islam di Jawa.[1] Silsilahnya tersebut ialah Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq, Maulana 'Ainul Yaqin, Maulana Muhammad Fadlullah (Sunan Prapen), Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom), Demang Djurung Djuru Sapisan, Demang Djurung Djuru Kapindo, Kyai Ilyas, Kyai Murtadla, KH. Muhammad Sulaiman, KH. Abu Bakar, dan Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan).
Pada umur 15 tahun, ia pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, ia berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Pada tahun 1903, ia bertolak kembali ke Mekah dan menetap selama dua tahun. Pada masa ini, ia sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU, KH. Hasyim Asyari. Walaupun pernah satu guru tapi tak selamanya cara padang orang tersebut sama ini terbukti dengan perbedaan yang terjadi antra pendiri NU hasyim Asyari dan ahmad dahlan pendiri muhamadiyah.
C. PENGARUH SYEIKH KHATIB AL-MINANGKABAWI
Syeikh Ahmad Khatib al Minangkabawi ini boleh dikatakan menjadi tiang tengah dari Madzhab Syafi’i dalam dunia Islam pada permulaan abad ke XIV. Beliau banyak sekali mengarang kitab dalam bahasa Arab dan bahasa Melayu (Indonesia), di antaranya yang banyak tersiar di Indonesia, adalah:
l. Riyadathul Wardhiyah dalam ilmu fiqih.
2. Al Khitathul Mardhiah, soal membaca “Ushalli”.
3. Al Minhajul Masyru’, soal faraidh (harta pusaka).
4. Ad Dalilul Masmu’, soal hukum pembagian harta pusaka.
5. An Nafahaat, Syarah waraqaat. (usul fiqih).
Perhatiannya terhadap hukum waris juga sangat tinggi, kepakarannya dalam mawarits (hukum waris) telah membawa pembaharuan adat Minang yang bertentangan dengan Islam. Martin van Bruinessen mengatakan, karena sikap reformis inilah akhirnya al-Minangkabawi semakin terkenal. Salah satu kritik Syeikh Ahmad Khatib yang cukup keras termaktub di dalam kitabnya Irsyadul Hajara fi Raddhi 'alan Nashara. Di dalam kitab ini, ia menolak doktrin trinitas Kristen yang dipandangnya sebagai konsep Tuhan yang ambigu.
Cara berpikir seorang beragama Islam bertolak dari anggapan keyakinan, bahwa Islam itu tidak mungkin memusuhi kebudayaan. Dengan kemajuan cara berpikir orang berusaha menemukan kembali cita-citanya dalam Islam. Timbul pertanyaan, apakah di dalam Islam ada unsur yang menyangkut kepada cita-cita persamaan, kebangsaan, hasrat untuk maju dan rasionalisme.Keunggulan dari Syekh Ahmad Khatib dalam memberikan pelajaran kepada muridnya, selalu menghindari sikap taqlid.
Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawy menyebarkan pikiran-pikirannya dari Mekah melalui tulisan-tulisannya di majalah atau buku-buku agama Islam, dan melalui murid-murid yang belajar kepadanya.Dengan cara itu, beliau memelihara hubungan dengan daerah asalnya Minangkabau, melalui murid-muridnya yang menunaikan ibadah haji ke Mekah, dan yang belajar padanya. Mereka inilah kemudian menjadi guru di daerah asalnya masing-masing.
Sejak berangkat ke tanah suci mekah ahmad khatib tidak pernah kembali ke tanah air, tetapi pengaruh nya cukup besar di minangkabau, tanah asalnya pengaruh ahmad khatib di di indonesia agak terbatas
Tetapi pengaruh ahmad khatib teradap murid-muridnya yangberasl dari daerah minang kabau tidak dapat di sangkal lagi, umumnya murid-murid ahmad khatib menolak hukum waris adat minang kabau yang berpusaka kepada kemenakan, khusus dikalangan pembaharu, penolakan ahmad khatib terhadap tarikat naqsybandiah di teruskan oleh murid- muridnya kemudian, ahmad khatib juga berjasa dalam mendidik murid-murid yang datang dari indoensia yang belajar kepadanya, sebagian mereka menjadi ulama dan tokoh dakwah terkemuka di indonesia
Penolakan ahmad khatib terhadap hukum waris adat di minang kabau di perjuangkan dengan sangat gigih oleh muridnya yahya, yang terkenal dengan tuanku simabur berasal dari tanah datar sekarang kabupaten, dalam tulisan, khutbah, dan pengajian karang kabupaten, simabur mengumumkan perang kepada kaum adat serta ulama ikut membantu menegakkan hukum adat mengenai waris.
Penolakan terhadap tarekat naqsyabandiah di suarakan oleh muridnya Dr. haji abdul karim amarullah, Dr. haji abdullah ahmad, dan syeikh muhammad jamil jambek. Dr. haji karim Amarullah dan Dr haji abdullah ahmad bersama dua orang muridnya pernah terlibat perdebatan dengan tokoh tarekat naqsyabandiah dipdang pada tahun 1906. tokoh naqsyabandiah tersebut adalah itu adalah syeikh khatib ali, salah seorang murid ahmad khatib penentang adat, khatib saidina, tuanku syeikh bayang, dan tuanku syeikh seberang pandang, imam mesjid ganting dalam perdebatan ini pihak pembela tarekat naqsyabandi kewalahan menghadap ulama muda yang didik oleh ahmad khatib, mereka dapat mengemukakan keterangan dan dasar-dasar yang kuat dalam menentang tarekat, sejak peritiwa itu timbullah sebutan "kaum muda" dan "kaum tua"golongan yang disebut pertama adalah mereka yang terdiri ulama yang setuju dengan pendapat ahmad khatib dalam menolak tarekat, walaupun di pihak pembela tarekat juga ada murid ahmad khatib, namun beliau tidak dapat mematahkan mematahkan argumentasi kawan-kawan seperguruannya
D. POLEMIK MURID-MURID DAN MURAKAZAH SYAIKH AHMAD KHATIB AL-MINANGKABAWI
Kecamannya mengenai tarekat, telah dijawab oleh Syekh Muhamamad Saat bin Tanta’ dari Mungkar dan Syekh Khatib Ali di Padang jang menerbitkan beberapa tulisan tentang itu.Kecamannya dalam harta warisan, menumbuhkan kesadaran banyak orang Minangkabau memahami, bahwa tidak dapat disesuaikan hukum waris matrilineal dengan hukum agama.Di antara guru agama banyak juga yang tidak dapat menyetujui pendirian Ahmad Khatib, yang dianggap tidak kenal damai. Walaupun pikiran-pikiran itu mendapat tantangan dari kaum adat, maupun muridnya yang tidak menyetujui pemikiran demikian, namun perbedaan pendapat ini telah melahirkan hasrat untuk lebih berkembang, menghidupkan kembali kesadaran untuk pengenalan kembali diri sendiri, yaitu kesadaran untuk meninggalkan keterbelakangan.
Syeikh ahmad khatib al-minangkabawi berkontroversi dengan sayid utsman (mufti betawi) dan beberapa ulama yang berasal dari palembang dan ulama-ulama yang lainya. Polimik yang paling hebat adalah pandangan tentang tarekat naqsyabandiyah. Syekh khatib al-minang kabawi telah disanggah ramai ulama ulama minagkabau sendiri terutama oleh ulama besar, sahabatnya, beliu adalah syeikh muhammad sa'ad mungka yang berasal dari mungkar tua, minangkabau
Dalam beberapa karya Ahmad Khatib menunjukkan bahwa barang siapa masih mematuhi lembaga-lembaga “kafir”, adalah kafir dan akan masuk neraka. Kemudian, semua harta benda yang diperoleh menurut hukum waris kepada kemenakan, menurut pendapat Ahmad Khatib harus dianggap sebagai harta rampasan.Pemikiran-pemikiran yang disampaikan Ahmad Khatib memicu pembaruan pemikiran Islam di Minangkabau. Di pihak lain perlawanan yang berarti terhadap pemikiran Ahmad Khatib datang dari kalangan Islam tradisi yang adakalanya disebut kaum tua. Pemahaman dan pendalaman dari Syekh Ahmad Khatib el Minangkabawy ini, kemudian dilanjutkan oleh gerakan pembaruan di Minangkabau, melalui tabligh, diskusi, dan muzakarah ulama dan zu’ama, penerbitan brosur dan surat-kabar pergerakan, pendirian sekolah-sekolah seperti madrasah-madrasah Sumatera Thawalib,
Syeikh khatib al-minangkabawi juga mendapatkan terhadap kesuksesannya sebagai guru, muhammad sa'id babsil, seorang ulama arab dan mufti mazhab syafi'i yang juga guru masjidil haram merasa iri terhadap kemajuan yang dicapai oleh ahmad khatib di negeri arab. Ia merasa tidak senang melihat non arab memperoleh tempat mengajar di pusat pengajaran kota mekah. Maka atas hasutannya, ketika ahmad khatib baru mengajar di masjidil haram, beliu di lempari batu, mufti ini tidak dapat berbuat lain, karena ahmad khatib mendapat ijin syarief awn al-rafiq untuk mengajar di situ. Peistiwa yang sama juga dialami oleh muridnya haji abdul karim amarullah di tempat yang sama. Karena gagal gagal mematahkan semangat dan membatasi ahmad khatib di mekah, a lalu bertindak sesuka hatinya kepada haji abdul karim amarullah murid kesayangan ahmad khatib. Ketika abdul karimamarullah datang kedua kalinya ke mekah beliu lebih banyak maengajar dari pada belajar. Setelah tempatnya mengajar penuh oleh murid, beliu disuruh ahmad khatib mengajar di masjidil haram. Beberapa hari haji abdul karim amarullah datanglah mufti itu mengusirnya, iajengkel sekali bahwa yang meyuruh mengajar dimasjidil haram adalah syeikh ahmad khatib.
Rasa tidak senang syeikh muhammad sa'id babsil kepada ahmad khatib bermula dari dari permusuhannya dengan guru syeikh ahmad khati yaitu syeikh bakr al-syatta. Kemudia ditambah lagi denga iri hati atas sukses ulama asal indonesia it di kota mekah dan tanah hijaz.
Sifat ahmad khatib dalam menentang adat juga mendapat tantangan dari banyak guru agama diatara yang mengemukakan tanggapannya kepada ahmad khatib adalah syeikh sa'ad mukadalam tulisannya tabih al-awam, yang telah saya sampaikan juga di atas dalam buku itu ia menyinggung hal ini sambil lalu dengan nada sinis ia menganatakan …jika harta orang minang dianggab haram maka haram pulalah juga pemberian yang berasal dari suku bangsa ini, tilsan diatas tidak lebih pelampiasab rasa benci belaka keada ulama penentang tarekat itu
Semua tantangan yang di hadapi oleh ahmad khatib tersebut tidak megurangi kemasyhuranya, bahkan sebaliknya menambah popularitasnya dan menambah penghormatan kaum pembaharu/kaum muda di minangkabau kepadanya.
Majalah Sabili No. 13 tahun XVI 15 Januari 2009, Special Edition
Ricklefs, M.C. (1994). A History of Modern Indonesia Since c. 1300, 2nd ed. Stanford: Stanford University Press. Seri terjemah
noer, Deliar, (1942), gerakan modrn islam di indonesia,
SEJARAH SINGKAT DINASTI ABBASIYAH
dinasti abbasiyyah didirikan oleh Abdullah as saffah bin Muhammad bin ali bin bin abdillah bin abbas. Dinamakan khilafah abbasiyyah karena pendiri dari penguasa negri ini adalah keturunan al- abbas paman nabi saw dalam kekuasan dinasti abbasiyyah pusat pemerintahan di pindahkan ke kuffah dan akhirnya ke bagdad sampai runtuhnya daulah abbasiyyah. Bagdad dijuluki sebagai "madinah as salam"
Mereka Berpendapat bahwa Periode awal merupakan periode keemasan dalam ilmu, sastra, pemerintahan , politik periode ini dikenal dengan khalifah yang agung, sedangkan periode kedua merupakan kemunduran, periode ini di tandai dengan melemahnya pemimpin, hilangnya wibawa khalifah, terpecahnya negri - negri dan berkuasanya hawa nafsu
Ada juga yang membagi periode abbasiyyah berdasarkan golongan yang memerintah di bagi menjadi lima periode
1. Periode I (132 H/750 M-232/847 M) Pengaruh Persia
2. periode II (232 H/874 M-334 H/9445 M) Pengaruh turki pertama
3. periode III (334 H/9445 M-447 H/1055 M) pengaruh Persia dua
4. periode IV (447 H/1055-M-334 H/1055 M), pengaruh turki dua
5. periode V (590 H/1194 M-656 H-1258 M) kekuasaan aktif sekitar bagdad
B. KEHIDUPAN DAKWAH DIMASA DAULAH ABBASIYYAH
Daulah abbasiyyah adalah daulah yang berdiri dengan tegas di atas panji- panji islam. Selama lima abad perjalanannya, daulah ini senjadi sarana dakwah dan pendukung dakwah islam, dengan semangat dakwah yang tinggi, daulah ini menjadi kerajaan islam yang telah dapat mengubah dunia dari gelap menjadi terang: dari mundur menjadi maju sehingga menciptakan peradapan yang gilang – gemilang yang penuh dengan penuh dengan kemajuan yang luar biasa pada saat itu.
Dakwah pada masa ini dapat dibagi menjadi dua level, yaitu Negara / pengusa dan level masarakat, sehingga dakwah tidak hanya di emban oleh pribadi tapi juga diemban oleh Negara, sehingga dakwah islam tersebar secara lebih luas dan menyeluruh keseluruh penjuru dunia
1. LEVEL NEGARA DAN PENGUASA
a. para khalifah pada masa keemasannya adalah seorang ulama yang cinta ilmu. Mereka memuliakan ulama dan pujangga, serta membuka pintu - pintu istana selebar-lebarnya buat mereka. Putra-putra khalifah juga dapat pendidikan khusus tantang agama dan kesusastraan, agar mereka menjadi ulama dan pujangga.
b. mendorong dan memfasilitasi upaya penerjemahan bebagai ilmu dari berbagai bahasa ke bahasa arab, seperti filsafat, ilmu kedokteran, ilmu bintang, ilmu pasti, ilmu fisika, ilmu musik, dan lain-lain
c. melakukan perluasan dan pembinaan wilayah dakwah, dakwah perluasan wilayah pada masa ini dibilang hampir - hampir tidak ada, yang hanyalah pembinaan wilayah-wilayah yang sudah berada di pangkuan islam sejak zaman umayyaah. Ada upaya untuk menundukkan konstantinopel, tapi belum berhasil.
d. Mendorong dan memfasilitasi pembaruan system pendidikan dengan munculnya madrasah nidzamul muluk dan madrasah nidzamiyyah di bagdad. Dari madrasah inilah lahir ulama-ulama besar
e. Setelah cahaya daulah abbasiyyah mulai redup secara politik, peran dakwahnya pun menjadi tidak kuat.
2. LEVEL MASARAKAT
Mekipun islam pada level Negara menunjukkan kelesuan, tetapai dengan rahmat allah, pada level masarakat aktivitas tidak tidur, dan tidak terpengaruh oleh kelemahan dan kerusakan yang tejadi pada level negara. Barangsiapa menelusuri kitab- kitab thabagat dan tarajin (kitab yang berisi biografi para ulama) akan menemukan bagaimana aktivitas ilmiah dan dakwah menjamur di Baghdad ketika itu Menjadi – menjadi dan sekolah – sekolah penuh dengan kajian ilmiah. Materinya sangat bervariasi, diantaranya kajian kitab, membaca al-qur'an, meriwayatkan hadis, mendengarkan ceramah agama, dan lain-lain. Para ulama pada masa ini memiliki paran dan pengaruh yang sangat besar, bahkan kadang mengalahkan paengaruh para khalifah. Ketika harun ar-rasyid tiba disebuah tempat, dia melihat sebuah tempat- orang-orang sedang bergegas menemui al-mubarak, hingga lokasi tersebut menerbangkan debu dari banyaknya kaki – kaki yang bekerumun di sekitar ibnu al-mubarak, melihat pemandangan itu, istri harun ar-rasyid berkata: " ada apa ini? Rombongan tersebut menjawab " ada seorang ulama datang dari khurasan di sini". Dan ia berkata " demi allah inilah raja yang sebenarya, karena harun ketika ingin mengumpulkan masarakat tersebut, ia harus menggunakan para pembantunya untuk mengumumkan acara pertemuan tersebut" jika seorang khalifah meninggal maka tidak begitu banyak orang yang mengantar kekuburan, tetapi jika ulama yang meninggal masarakat berbondong – bondong mengucapkan bela sungkawa dan mengantarnya ke pekuburan. Di saat imam ahmad meninggal dunia jenazah beliau di antar jemaah yang tak terhitung jumlahnya. Inilah perbedaan orang yang menguasai hati dan orang menguasai dunia.
Mesjid – mesjid di bagdad, basrah, kuffah, dan lainya dipenuhi oleh para ulama, penceramah, ahli hadis, dan lainnya. Mereka memiliki pengaruh besar dalam dalam pencerahan iman masarakat. Materi yang menonjol saat itu adalah tazkiyatun nufus (pembersihan hati), peringatan tentang negeri akhirat, serta seruan agar tidak terperdaya dengan kehidupan dunia, tampaknya materi - materi seperti ini mencuat ke permukaan sebagai reaksi atas kemewahan dan kemaksiatan yang terjadi di tingakat level penguasa.. dintara Da'i yang terkenal pada saat itu adalah ibnu simak yang lebih dikenal dengan sebutan "wa'idz rasyid" (Da'i yang bijak). Beliyau adalah ahli hadist yang menyentuh hati pendengarnya. Iman ahmad adalah diantara ulama hadist yang mengambil riwayat dari ibnu simak. Diantara hal yang cakup mengesankan adalah ketika pertemuan beliau dengan khalifah harun ar rasyid, Harun berkata kepadanya: wahai simak, nasehatilah aku. "beliyau berkata: "wahai amirul mukminin! Bertakwalah kepada allah yang tiada sekutu baginya. Sadarilah bahwa suatu hari, engkau akan berdiri di hadapan allah, lalu kamu diarahkan kepada salah satu dari dua tempat tinggal, yaitu surga atau neraka, tidak ada tempat lain."saat itu juga harun meneteskan air mata hingga basah jenggaotnya
Meskipun ada kelemahan yang nyata pada di level pimpinan dan banyak penyimpangan beragama, namun dengan rahmat allah, gerakan dakwah berjalan terus baik yang dilakukan oleh pribadi-pribadi maupun yang dilakukan oleh kelompok. Para da'i berangkat melaksakan kewajibannya ke berbagai tempat, dan diantara hasilnya adalah masuk islamnya sepertiga penduduk anak benua India dan masuk islamnya penduduk negeri cina dalam jumlah yang cukup besar.
Kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan juga tidak mengalami hambatan dan bahkan merambah berbagai bidang ilmu pengetahuan lain. Pada abad ke dua dan tiga, gerakan menulis ilmu-ilmu agama dan bahasa cukup bergairah. Diatara ilmu yang berkembang adalah hadist, fiqih, tafsir, tarikh, dan sirah.
C. ULAMA-ULAMA PADA MASA KHILAFAH ABBASIYYAH
Diantara kebanggaan pada periode pada masa ini adalah munculnya imam-imam besar dalam sejarah peradapan islam, yang menguasai berbagai diiplin ilmu hadist, ilmu fikih, juga hidup pakar-pakar nahu
1. Ulama Ilmu fiqih
adapun ulama ilmu fiqih yang hidup pada masa ini adalah imam fiqih empat mazhab yaitu:
• Abu Hanifah
• Imam malik bin anas
• Imam syafi'i
• Imam ahmad
kitab fikih paling terkenal pada masa itu adalah Mwattaha karya imam malik dan kitab Al-khraj karangan abu yusuf.
2. Ulama Ilmu Hadist
Diatara ulama hadist terkemuka saat itu adalah ulama – ulama yang sangat popular yang sangat di akui otoritasnya dalam ilmu hadist
• Imam Muhammad bin ismail al-bukhari
• Imam muslim bin hajjaj al-Qusyairi
• Abu daud as Sijistani
• Abu isa at tirmizi
• An nasa'i
• Dan ibnu majah
3. Ulama ilmu Nahu
hidup juga pakar-pakar nahu
• umar ats-tsaqafi
• abu umar bin al A'la'
• khalil bin ahmad
4. diantara ulama ilmu tafsir adalah
• abu ja'far ath- thabari
5. Ulama ilmu tarikh
• ibnu ishaq
• Al- Hisyam
• Al- Waqidi
• Ibnu sa'ad
• Al- baladzuri
D. SARANA PENDIDKAN DAN DAKWAH KHILAFAH ABBASIYYAH
maktab/kuttab dan mesjid, yaitu lembaga pendidikan terendah, tempat anak-anak mengenal dasar – dasar bacaan, hitung-hitungan dan tulisan: dan tempat para remaja belajar dasar – dasar bacaan ilmu agama, seperti tafsir, hadis, fiqih dan bahasa.
Tingkat pedalaman. para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya, pergi keluar daerah untut menuntut ilmu kepada seorang atau beberapa orang guru yang ahli dalam bidangnya masing – masing, ilmu yang di tuntut dalah ilmu –ilmu agama pengajaranya berlangsung di masjid masjid atau di rumah – rumah ulama bersangkutan. Bagi anak penguasa pendidikan dan dakwah islam berlangsung di istana penguasa tersebut memanggil ulama ke sana.
Lembaga seperti ini berkembanng pemerintahan bani abbas, dengan di bangunnya perpustakaan pada masa itu lebih merupakan universitas, karena di samping terdapat kitab-kitab disana orang juga dapat membaca, menulis dan bedikusi
Perkembangan lembaga pendidikan itu mencerminkan perkembangan ilmu pengetahuan, hal ini sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa arab, baik bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak zaman bani umayyah, maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Singkatnya pada masa khilafah islamiayah baik mulai dari masa Nabi Muhammad saw sampai pada ke khilafahan yang terakir yaitu daulah khilafah ustmaniah islam diterapkan dalam kehidupan kita dan menjadi kunci kecermelangan umat islam berabat-abat, ketika islam itu sudah tidak lagi menjadi dasar umat untuk beragama dan bernegara maka umat jatuh dalam lembah kemerosotan yang amat parah, maka tugas kitalah sebagai pengemban dakwah untuk mengembalin kejayaan islam itu kembali dengan berjuang untuk menerapkan islam ditengah-tengah kaehidupan.
Wahyu Ilaihi, S.Ag, Harjani Hefni, Lc.,MA, Pengantar Sejarah Dakwah, Jakarta: kencana, 2007
Alwi Sihab, Membedah islam di barat : menepis tudingan meluruskan ke salah pahaman, Jakarta: Gramedia pustaka utama, cetakan I, 2004
Abu a'la Al- Maududi, Khilafah dan kerajaan, Bandung: 1996
Badri yatim, Sejarah Peradapan Islam, "Dirasah Islamiyah II", Jakarta: PT Raja Gravido persada, 2002
Mereka Berpendapat bahwa Periode awal merupakan periode keemasan dalam ilmu, sastra, pemerintahan , politik periode ini dikenal dengan khalifah yang agung, sedangkan periode kedua merupakan kemunduran, periode ini di tandai dengan melemahnya pemimpin, hilangnya wibawa khalifah, terpecahnya negri - negri dan berkuasanya hawa nafsu
Ada juga yang membagi periode abbasiyyah berdasarkan golongan yang memerintah di bagi menjadi lima periode
1. Periode I (132 H/750 M-232/847 M) Pengaruh Persia
2. periode II (232 H/874 M-334 H/9445 M) Pengaruh turki pertama
3. periode III (334 H/9445 M-447 H/1055 M) pengaruh Persia dua
4. periode IV (447 H/1055-M-334 H/1055 M), pengaruh turki dua
5. periode V (590 H/1194 M-656 H-1258 M) kekuasaan aktif sekitar bagdad
B. KEHIDUPAN DAKWAH DIMASA DAULAH ABBASIYYAH
Daulah abbasiyyah adalah daulah yang berdiri dengan tegas di atas panji- panji islam. Selama lima abad perjalanannya, daulah ini senjadi sarana dakwah dan pendukung dakwah islam, dengan semangat dakwah yang tinggi, daulah ini menjadi kerajaan islam yang telah dapat mengubah dunia dari gelap menjadi terang: dari mundur menjadi maju sehingga menciptakan peradapan yang gilang – gemilang yang penuh dengan penuh dengan kemajuan yang luar biasa pada saat itu.
Dakwah pada masa ini dapat dibagi menjadi dua level, yaitu Negara / pengusa dan level masarakat, sehingga dakwah tidak hanya di emban oleh pribadi tapi juga diemban oleh Negara, sehingga dakwah islam tersebar secara lebih luas dan menyeluruh keseluruh penjuru dunia
1. LEVEL NEGARA DAN PENGUASA
a. para khalifah pada masa keemasannya adalah seorang ulama yang cinta ilmu. Mereka memuliakan ulama dan pujangga, serta membuka pintu - pintu istana selebar-lebarnya buat mereka. Putra-putra khalifah juga dapat pendidikan khusus tantang agama dan kesusastraan, agar mereka menjadi ulama dan pujangga.
b. mendorong dan memfasilitasi upaya penerjemahan bebagai ilmu dari berbagai bahasa ke bahasa arab, seperti filsafat, ilmu kedokteran, ilmu bintang, ilmu pasti, ilmu fisika, ilmu musik, dan lain-lain
c. melakukan perluasan dan pembinaan wilayah dakwah, dakwah perluasan wilayah pada masa ini dibilang hampir - hampir tidak ada, yang hanyalah pembinaan wilayah-wilayah yang sudah berada di pangkuan islam sejak zaman umayyaah. Ada upaya untuk menundukkan konstantinopel, tapi belum berhasil.
d. Mendorong dan memfasilitasi pembaruan system pendidikan dengan munculnya madrasah nidzamul muluk dan madrasah nidzamiyyah di bagdad. Dari madrasah inilah lahir ulama-ulama besar
e. Setelah cahaya daulah abbasiyyah mulai redup secara politik, peran dakwahnya pun menjadi tidak kuat.
2. LEVEL MASARAKAT
Mekipun islam pada level Negara menunjukkan kelesuan, tetapai dengan rahmat allah, pada level masarakat aktivitas tidak tidur, dan tidak terpengaruh oleh kelemahan dan kerusakan yang tejadi pada level negara. Barangsiapa menelusuri kitab- kitab thabagat dan tarajin (kitab yang berisi biografi para ulama) akan menemukan bagaimana aktivitas ilmiah dan dakwah menjamur di Baghdad ketika itu Menjadi – menjadi dan sekolah – sekolah penuh dengan kajian ilmiah. Materinya sangat bervariasi, diantaranya kajian kitab, membaca al-qur'an, meriwayatkan hadis, mendengarkan ceramah agama, dan lain-lain. Para ulama pada masa ini memiliki paran dan pengaruh yang sangat besar, bahkan kadang mengalahkan paengaruh para khalifah. Ketika harun ar-rasyid tiba disebuah tempat, dia melihat sebuah tempat- orang-orang sedang bergegas menemui al-mubarak, hingga lokasi tersebut menerbangkan debu dari banyaknya kaki – kaki yang bekerumun di sekitar ibnu al-mubarak, melihat pemandangan itu, istri harun ar-rasyid berkata: " ada apa ini? Rombongan tersebut menjawab " ada seorang ulama datang dari khurasan di sini". Dan ia berkata " demi allah inilah raja yang sebenarya, karena harun ketika ingin mengumpulkan masarakat tersebut, ia harus menggunakan para pembantunya untuk mengumumkan acara pertemuan tersebut" jika seorang khalifah meninggal maka tidak begitu banyak orang yang mengantar kekuburan, tetapi jika ulama yang meninggal masarakat berbondong – bondong mengucapkan bela sungkawa dan mengantarnya ke pekuburan. Di saat imam ahmad meninggal dunia jenazah beliau di antar jemaah yang tak terhitung jumlahnya. Inilah perbedaan orang yang menguasai hati dan orang menguasai dunia.
Mesjid – mesjid di bagdad, basrah, kuffah, dan lainya dipenuhi oleh para ulama, penceramah, ahli hadis, dan lainnya. Mereka memiliki pengaruh besar dalam dalam pencerahan iman masarakat. Materi yang menonjol saat itu adalah tazkiyatun nufus (pembersihan hati), peringatan tentang negeri akhirat, serta seruan agar tidak terperdaya dengan kehidupan dunia, tampaknya materi - materi seperti ini mencuat ke permukaan sebagai reaksi atas kemewahan dan kemaksiatan yang terjadi di tingakat level penguasa.. dintara Da'i yang terkenal pada saat itu adalah ibnu simak yang lebih dikenal dengan sebutan "wa'idz rasyid" (Da'i yang bijak). Beliyau adalah ahli hadist yang menyentuh hati pendengarnya. Iman ahmad adalah diantara ulama hadist yang mengambil riwayat dari ibnu simak. Diantara hal yang cakup mengesankan adalah ketika pertemuan beliau dengan khalifah harun ar rasyid, Harun berkata kepadanya: wahai simak, nasehatilah aku. "beliyau berkata: "wahai amirul mukminin! Bertakwalah kepada allah yang tiada sekutu baginya. Sadarilah bahwa suatu hari, engkau akan berdiri di hadapan allah, lalu kamu diarahkan kepada salah satu dari dua tempat tinggal, yaitu surga atau neraka, tidak ada tempat lain."saat itu juga harun meneteskan air mata hingga basah jenggaotnya
Meskipun ada kelemahan yang nyata pada di level pimpinan dan banyak penyimpangan beragama, namun dengan rahmat allah, gerakan dakwah berjalan terus baik yang dilakukan oleh pribadi-pribadi maupun yang dilakukan oleh kelompok. Para da'i berangkat melaksakan kewajibannya ke berbagai tempat, dan diantara hasilnya adalah masuk islamnya sepertiga penduduk anak benua India dan masuk islamnya penduduk negeri cina dalam jumlah yang cukup besar.
Kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan juga tidak mengalami hambatan dan bahkan merambah berbagai bidang ilmu pengetahuan lain. Pada abad ke dua dan tiga, gerakan menulis ilmu-ilmu agama dan bahasa cukup bergairah. Diatara ilmu yang berkembang adalah hadist, fiqih, tafsir, tarikh, dan sirah.
C. ULAMA-ULAMA PADA MASA KHILAFAH ABBASIYYAH
Diantara kebanggaan pada periode pada masa ini adalah munculnya imam-imam besar dalam sejarah peradapan islam, yang menguasai berbagai diiplin ilmu hadist, ilmu fikih, juga hidup pakar-pakar nahu
1. Ulama Ilmu fiqih
adapun ulama ilmu fiqih yang hidup pada masa ini adalah imam fiqih empat mazhab yaitu:
• Abu Hanifah
• Imam malik bin anas
• Imam syafi'i
• Imam ahmad
kitab fikih paling terkenal pada masa itu adalah Mwattaha karya imam malik dan kitab Al-khraj karangan abu yusuf.
2. Ulama Ilmu Hadist
Diatara ulama hadist terkemuka saat itu adalah ulama – ulama yang sangat popular yang sangat di akui otoritasnya dalam ilmu hadist
• Imam Muhammad bin ismail al-bukhari
• Imam muslim bin hajjaj al-Qusyairi
• Abu daud as Sijistani
• Abu isa at tirmizi
• An nasa'i
• Dan ibnu majah
3. Ulama ilmu Nahu
hidup juga pakar-pakar nahu
• umar ats-tsaqafi
• abu umar bin al A'la'
• khalil bin ahmad
4. diantara ulama ilmu tafsir adalah
• abu ja'far ath- thabari
5. Ulama ilmu tarikh
• ibnu ishaq
• Al- Hisyam
• Al- Waqidi
• Ibnu sa'ad
• Al- baladzuri
D. SARANA PENDIDKAN DAN DAKWAH KHILAFAH ABBASIYYAH
maktab/kuttab dan mesjid, yaitu lembaga pendidikan terendah, tempat anak-anak mengenal dasar – dasar bacaan, hitung-hitungan dan tulisan: dan tempat para remaja belajar dasar – dasar bacaan ilmu agama, seperti tafsir, hadis, fiqih dan bahasa.
Tingkat pedalaman. para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya, pergi keluar daerah untut menuntut ilmu kepada seorang atau beberapa orang guru yang ahli dalam bidangnya masing – masing, ilmu yang di tuntut dalah ilmu –ilmu agama pengajaranya berlangsung di masjid masjid atau di rumah – rumah ulama bersangkutan. Bagi anak penguasa pendidikan dan dakwah islam berlangsung di istana penguasa tersebut memanggil ulama ke sana.
Lembaga seperti ini berkembanng pemerintahan bani abbas, dengan di bangunnya perpustakaan pada masa itu lebih merupakan universitas, karena di samping terdapat kitab-kitab disana orang juga dapat membaca, menulis dan bedikusi
Perkembangan lembaga pendidikan itu mencerminkan perkembangan ilmu pengetahuan, hal ini sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa arab, baik bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak zaman bani umayyah, maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Singkatnya pada masa khilafah islamiayah baik mulai dari masa Nabi Muhammad saw sampai pada ke khilafahan yang terakir yaitu daulah khilafah ustmaniah islam diterapkan dalam kehidupan kita dan menjadi kunci kecermelangan umat islam berabat-abat, ketika islam itu sudah tidak lagi menjadi dasar umat untuk beragama dan bernegara maka umat jatuh dalam lembah kemerosotan yang amat parah, maka tugas kitalah sebagai pengemban dakwah untuk mengembalin kejayaan islam itu kembali dengan berjuang untuk menerapkan islam ditengah-tengah kaehidupan.
Wahyu Ilaihi, S.Ag, Harjani Hefni, Lc.,MA, Pengantar Sejarah Dakwah, Jakarta: kencana, 2007
Alwi Sihab, Membedah islam di barat : menepis tudingan meluruskan ke salah pahaman, Jakarta: Gramedia pustaka utama, cetakan I, 2004
Abu a'la Al- Maududi, Khilafah dan kerajaan, Bandung: 1996
Badri yatim, Sejarah Peradapan Islam, "Dirasah Islamiyah II", Jakarta: PT Raja Gravido persada, 2002
Langganan:
Postingan (Atom)