Kamis, 01 Maret 2012

TUNGKEK NAN MAMBAOK RABAH

Kecewa, sedih dan mungkin juga jengkel. Itulah perasaan yang muncul ketika masyarakat membaca atau pun mendengar kabar tentang kurenah buruk Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kayu Tanam, Padang Pariaman berinisial Az (40). Ia terjaring razia polisi di Jalan Adinegoro, depan Mapolsek Koto Tangah, Padang pada Selasa (21/2). Az mengendarai mobil sedan Toyota Starlet.

Kepala KUA Kayu Tanam ini terjaring razia, bukan karena tak ada Surat Izin Mengemudi (SIM) atau pun Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (STNK). Mobil sedan tersebut juga bukan mobil curian. Yang jadi masalah, Az di mobil itu setengah telanjang bersama dengan Ls (17). Di mobil tersebut polisi juga menemukan beberapa keping VCD/DCD porno. Parahnya lagi, bersama mereka juga ditemukan sejumlah kondom. Ls ternyata adalah siswi salah satu Madrasah Awaliyah Negeri (MAN).

Peristiwa terjaringnya Az dan Ls diberitakan semua surat kabar harian terbitan Padang. Berita tentang kurenah Az dan Ls bikin heboh. Ini menjadi tamparan bagi Ismail Usman, Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Sumbar. Jajaran Kemenag merasa sangat malu atas perilaku Az. Tak mau berlama-lama, Kemenag Sumbar pun langsung menjatuhkan sanksi pecat kepada Az. Pelaku juga telah di tahan di Polres Pariaman. Tungkek nan mambao rabah. Itulah yang terjadi pada Az. Selaku Kepala KUA, Az seharusnya memberikan contoh tauladan kepada masyarakat. Padahal pekerjaan rutin Az setiap hari adalah memberi nasehat kepada orang yang akan menikah. Seperti biasanya, seorang Kepala KUA memberi nasehat tentang keutamaan berumah tangga. Kepala KUA biasanya juga menerangkan bahwa zinah adalah haram, karena itu jika telah memenuhi persyaratan, Kepala KUA mengimbau agar jangan menunda-nunda pernikahan.

Sebagaimana dikutip dari salah satu website Kantor Kemenag di daerah, tugas-tugas Kepala KUA selain pencatatan nikah dan bimbingan perkawinan, KUA juga diberi tugas dalam bidang pembinaan keluarga sakinah, produk halal, penyuluhan agama, hisab rukyat, dan bimbingan jemaah haji. Selain itu Kepala KUA secara ex officio adalah merupakan Panitia Pencatat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW) serta sebagai Mufti.

Dari uraian tugas-tugas Kepala KUA seperti di atas, dapat diketahui bahwa peran mereka sangat besar dan sangat strategis di tengah-tengah masyarakat. Mereka semestinya memberi contoh yang baik kepada masyarakat. Tapi yang dilakukan oleh Az justru sebaliknya. Ia nekad mengangkangi tupoksi yang harusnya ia jalankan. Az dapat dikenakan UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Sanksi sebagaimana yang terdapat di dalam pasal 81 UU Nomor 23 Tahun 2002 sangat jelas dan tegas. “Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah). Hukum harus ditegakkan. Pelaku Az mesti diganjar dengan hukuman yang setimpal. Hukuman pecat saja tidak cukup. Ia juga mesti diadili secara pidana, karena melanggar UU 23 Tahun 2002.

Inilah pentingnya menyamakan antara perkataan dengan perbuatan. Az, mantan Kepala KUA Kayu Tanam secara teori dan konsep tentu sangat memahami perihal halal-haram, persoalan perintah dan larangan Allah terhadap hambaNya. Bahkan itu menjadi hal rutin bagi Az menyampaikan kepada calon mempelai yang akan menikah. Namun, dalam pelaksanaannya ternyata Az, alfa. Ucapan Az ternyata tak sejalan dengan perbutannya.

Melihat dari umur, bisa jadi Az tengah puber kedua. Puber kedua adalah kondisi dimana terdapatnya beberapa kesamaan perilaku seperti yang dialami anak-anak yang memasuki masa puber, seperti lebih memperhatikan penampilan, lebih memperhatikan lawan jenis, dan sebagainya. Puber kedua dialami pria maupun wanita yang memasuki usia 40 tahun ke atas.

Sementara itu, Ls yang berumur 17 tahun juga berada pada usia puber pertama. Di usia itu dorongan dan keinginan alamiah yang datang dari dalam diri seorang wanita untuk mendapatkan perhatian dari lawan jenisnya juga sangat tinggi. Secara alamiah inilah menyebabkan mereka lupa akan segalanya. Az lupa bahwa dia seorang Kepala KUA, seorang kepala rumah tangga dan lupa bahwa perbuatannya itu dilarang oleh Allah. Ls kurang lebih juga demikian. Terkait dengan Ls, fungsi pengawasan orang tua sangatlah penting. Perkembangan jiwa anak mesti dipahami dan jadi perhatian bagi orang tuanya. Ketika ada tanda-tanda atau perkembangan baru pada anak, terutama tentang perkembangan jiwanya mesti jadi perhatian. Apalagi di usia puberitas. Kasus Az dan Ls ini harus menjadi pelajaran bagi kita semua, agar tidak lengah dan lebih memberikan perhatian dan pengawasan terhadap anak. ***

Kita Dekat Dengan Bencana

Selasa, 28 Februari 2012 02:23

Sumatera Barat sangat rawan dengan bencana alam. Bencana di daerah ini datang silih berganti. Belum selesai lagi rehabilitasi kerusakan akibat musibah gempa, 30 September 2009 oleh pemerintah daerah dan pusat, bencana kembali lagi terjadi di berbagai daerah di Ranah Minang ini. Pada Rabu (22/2), terjadi galodo atau banjir bandang di Kecamatan Simpati, Kabupaten Pasaman. Tiga nagari di kecamatan itu disapu air bah bercampur batu, tanah dan pohon-pohon berukuran besar. Adalah Nagari Simpang, Nagari Alahan Mati, dan Nagari Kaciak yang diporak-porandakan oleh galodo tersebut.

Puluhan rumah rusak berat dan hanyut. Jalan pada sejumlah titik rusak berat dan putus. Lahan pertanian juga rusak berat. Masih untung tidak ada korban jiwa. Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) memperkirakan kerugian mencapai Rp115 miliar. Hingga kemarin, upaya penanganan dampak bencana di lokasi bencana masih berlangsung. Jalur transportasi belum lagi pulih. Belum tuntas penanganan bencana banjir bandang di Kecamatan Simpati, Kabupaten Pasaman, bencana serupa terjadi pula di kawasan Singkuang Jorong Tangah XX Nagari Padang Laweh Malalo Kecamatan Batipuh Selatan Kabupaten Tanah Datar. Banjir bandang atau yang disebut juga dengan galodo di daerah ini terjadi pada Minggu (26/2) pulu 22.30 WIB. Peristiwa galodo berlangsung cepat, sekitar satu jam.

Banjir bandang yang menghantam Padang Laweh ini merusak dua rumah warga dan dua mushalla. Puluhan hektare sawah tertimbun tanah dan bebatuan. Jalan Singkuang juga ikut amblas, sehingga akses jalan menuju Singkuang terputus. Tidak ada korban jiwa dan luka-luka, tapi bencana itu membuat suplai air bersih jadi terputus, sebab pipa sambungan air bersih ikut patah diterjang banjir bandang. Sebanyak 11 kepala keluarga (KK) terpaksa mengungsi ke rumah sanak keluarganya, karena takut akan terjadi banjir bandang susulan. Hingga Senin (27/2), beberapa petugas Tim SAR dikerahkan untuk mengevakuasi warga dan barang-barang berharga milik warga. Namun satu unit alat berat yang dikerahkan belum bisa berbuat banyak, karena akses jalan yang rumit.

Terjadinya musibah banjir bandang di Pasaman dan di Tanah Datar semakin meyakinkan kepada kita, bahwa negeri kita ini memang rawan dengan bencana alam. Bencana alam bisa terjadi kapan saja dan di daerah mana saja. Sejak terjadinya musibah gempa 30 September 2009 di Padang dan wilayah pesisir pantai Sumatera Barat, orang-orang takut tinggal di kawasan pantai. Banyak orang yang selama ini berumah di kawasan pantai di Kota Padang, pindah ke daerah yang lebih tinggi seperti di daerah seberang jalan By Pass. Dampak dari itu, harga tanah dan bangunan di daerah by pass dan sekitarnya melonjak drastis. Sedangkan harga tanah dan bangunan di daerah pantai turun juah. Bahkan di dekat daerah-daerah pantai Kota Padang banyak rumah yang kosong, karena ditinggal pemilik. Ada juga sebagian orang yang pindah ke kota lain atau pulang ke kampung ke daerah asalnya, menyusul keluarnya kajian ilmuan yang memprediksi akan terjadi gempa dan tsunami dahsyat di Kota Padang.

Namun ketika orang-orang pindah dari kawasan pantai yang rawan gempa dan tsunami ke daerah ketinggian, ternyata juga tidak sepenuhnya aman. Musibah banjir bandang di Pasaman dan Tanah Datar sebagai buktinya. Selama ini orang sama sekali tidak pernah memperkirakan di wilayah tiga nagari Kecamatan Simpati Pasaman rawan banjir, tanah longsor atau banjir bandang. Namun nyatanya, peristiwa yang tak terduga tersebut justru datang memporak-porandakan wilayah tiga nagari tersebut. Kini pun Gunung Marapi sudah mulai batuk-batuk, mengeluarkan asap. Aktifitas Marapi fluktuatif. Kadang meningkat dan kadang turun lagi. Tak ada yang bisa memastikan apakah Marapi akan aman-aman saja atau justru sebaliknya. Masyarakat Sumbar mesti menyadari bahwa sesung­guhnya ancaman bencana alam ada di sekitar kita. Kapan saja bisa terjadi. Kita tak ubahnya seperti berteman dengan bencana.

Kita tak mungkin melawan bencana alam. Yang mungkin kita lakukan adalah upaya mitigasi bencana. Artinya kita bisa berupaya mengurangi dampak dari satu bencana yang dapat dilakukan sebelum bencana itu terjadi, termasuk kesiapan dan tindakan-tindakan pengurangan resiko jangka panjang. Menyebut mitigasi bencana sangatlah gampang. Tapi merealisasikannya tidak mudah. Perlu kesungguh-sungguhan dari semua pihak. Jika dievaluasi secara jujur, proyek-proyek mitigasi bencana gempa dan tsunami di Padang dan daerah pesisir lainnya di Sumbar masih jauh dari harapan. ***

Munculnya Ateis, Ada yang Salah dalam Pendidikan Agama

PENGANTAR — Terungkapnya keyakinan ateis Aleksander Aan,salah seorang calon pegawai
negeri sipil (CPNS) Kabupaten Dharmasraya, beberapa waktu lalu, membuat ranah Minang
buncah. Keyakinan ateis itu, ternyata dioposisikannya dengan menafikan dan menjelekkan agama Islam. Malah membuat grup di jejaring sosial dengan nama Ateis
Minang.

Ajaran yang dinilai sangat menyesatkan ini, dikhawatirkan mengispirasi generasi muda lainnya di Ranah Minang. “Kita mencemaskan keyakinan ateis ini menyebar luas dan merasuki generasi muda,” kata Buya Masoed Abidin, ulama Sumatera Barat. Wartawan Harian Umum Haluan Rahmat Hidayat mewawancarainya, Minggu (22/1). Berikut petikannya.

Apa yang dimaksud
dengan ateis?
Ajaran ateis sebagai satu paham sudah lama ada. Sudah ada sejak zaman dulu. Paham ini tidaklah aneh, jika dilihat dari sisi pendekatan keilmuan sejarah agama. Berdasarkan ajaran samawy, keyakinan atheis telah tertolak. Para nabi diutus untuk melakukan risalah dakwah. Hal tersebut semata-mata menghapus pemahaman ateis. Penghapusan paham ini sudah dilakukan sejak Nabi Adam. Kemudian dilanjutkan Nabi Nuh. Ia berdakwah kepada umat dan anak kandungnya yang tidak mengakui adanya Tuhan. Hingga yang terakhir ke Nabi Muhammad SAW, yang berdakwah kaum kafir Qurais. Dalam kasus ini ateis Aleksander Aan, sebenarnya yang terhina tidak hanya umat Islam, tetapi semua agama. Sebab, semua agama di dunia ini mengenal adanya Tuhan. Dan semua agama itu mengajak kepada bertuhan. Terserah bagaimana langkah dan cara yang dipakai agama itu dalam menyatakan pengabdian kepada Tuhan. Bagi agama Islam jelas Tuhan itu Yang Maha Esa. Jangankan meniadakan tuhan, menyatakan Tuhan itu berserikat dengan makhluk saja, tidak diterima dalam ajaran Islam.

Bagaimana posisi Ateis
dalam Islam?
Pada dasarnya setiap manusia, dilahirkan membawa fitrah beragama. Tidak ada satu pun manusia yang tidak membawanya. Fitrah dapat dikatakan sebagai potensi yang dibawa manusia sejak lahir. Allah berfirman dalam surat Ar-Rum ayat 30, yang artinya, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” Maksudnya adalah, manusia diciptakan Allah mempunyai naluri
beragama yaitu agama tauhid. Ini artinya, membawa kepada agama yang lurus yaitu Islam. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, hanyalah lantaran pengaruh lingkungan.

Hal ini juga dibuktikan dengan persaksian manusia kepada Sang Pencipta, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-A’raaf ayat 172, yang artinya: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).

Selain itu, pernahkah Anda mendengar, bahwa orang yang paling sombong sedunia yaitu Fir’aun, kesombongannya yang amat sangat, membuat ia lupa. Ia tidak lagi mau menerima nasihat Rasul Musa, agar beriman kepada Allah. Hingga ia menyebut dirinya adalah Tuhan yang patut disembah. Fir’aun dengan semena-mena menjajah Bani Israil dengan sangat kejam. Ketika ia hendak mengejar Musa, dan Bani Israil, seketika itu pula Allah tenggelamkan Fir’aun dan bala tentara ke dalam laut merah. Saat sakratul maut, akhirnya Fir’aun mengakaui bahwa Tuhan Musa itulah adalah benar. Tobat Fir’aun tidak diterima, karena ia sudah sakratul maut. Ini artinya apa, bahwa pada dasarnya manusia itu diciptakan dengan membawah fitrah bertuhan. Kesombongan dan kecongkakalah yang membuat manusia itu tidak mengakui adanya Tuhan.

Lalu bagaimana dengan kasus
ateisme Aleksander Aan?
Kasus Alexander Aan terjadi di Indonesia, yang sudah jelas Negara bertuhan. Lihat dasar Pancasila Orang tidak mengakui adanya Tuhan sama dengan tidak beragama, tidak dibenarkan ada di Indonesia. Menurut pengakuannya, Alesander sudah tidak bertuhan sejak SD. Berdasarkan hal ini, ada yang salah dalam sistem pendidikan dan pengajaran agama kita. Kesalahan dan kesilapan yang wajib diperbaiki. Buya menganggap peristiwa ini mesti dijadikan langkah “mengatai diri”. Maknanya lebih jauh adalah melakukan koreksi, dimana yang salah, dan segera mengambil tindakan tindakan perbaikan. Hal tersebut harus dilakukan segera agar penyakit tidak bertuhan ini tidak terjadi secara dini. Kemudian pengawasan dan pembinaan PNS selama ini harus lebih diperhatikan. Saya tidak habis pikir dengan kejadian ini. Padahal keyakinan beragama termasuk bagian tak dapat dilepas dari pembinaan aparatur negara.

Lebih mengejutkan lagi, karena ini terjadi dalam etnis Minangkabau. Ini dapat menjadi indikator dari ketidakkemampuan pengendalian, dan pembinaan anak kemenakan oleh ninik mamak. Dapat pula dijadikan indikator bahwa sudah tidak ada bekas pengajaran yang dari alim ulama suluah bendang dalam nagari.

Untuk ke depan, apa yang
harus dilakukan?
Jika merujuk Rasulullah SAW, maka orang yang seperti sudah halal darahnya. Namun, di Negara yang menghormati hukum, tentu kita merujuk kepada hukum negara
kita. Bagi masyarakat Minangkabau, mengakui bahwa ada adat bersendi syarak, dan syarak bersendi kepada Kitabullah. Maka dalam hukum adat sudah adan ketegasan. Seperti, pribadi yang tidak mengakui adanya Tuhan, akan dibuang sepanjang adat. Walau banyak juga orang Minang yang tidak setuju dengan kaedah adat Minangkabau ini. Ada anggapan bahwa ketegasan adat Minangkabau seperti itu bertentangan dengan HAM. Sesungguhnya, peristiwa Alesander Aan, semestinya tidak dilihat dari Alesander saja. Mestinya, peristiwa ini disikapi sebagai adanya satu kerangka dasar terinci dan terselubung, yang sedang dipersiapkan terencana. Manakala ini dibiarkan akan berdampak lebih luas bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya Indonesia dengan filosofi Pancasila.

Mungkin pada awalnya Aleksander membuatnya sebagai guyon, tetapi bisa berkembang menjadi sebuah gerakan antiagama dan “anti-Tuhan. Lambat laun akan
berkembang menjadi kekuatan perlawanan yang lebih berbahaya dari gerakan sempalan. Jadi, perlu pencegahan agar perilaku seperti ini tidak terulang, dan memberikan penyadaran kepada Aleksander Aan. Sacara pribadi buya berpesan kepada Aan, sebelum nyawa dikerongkongan, secepatnyalah bertubat. Jangan sampai kita seperti Fir’aun. Mengakui Tuhan ketika ajal menjelang, hingga tobat kita tidak diterima.

Berharap rezeki Di Hari Imlek

MALAM kian hangat. Kelap-kelip lampion melantunkan Cecahaya bak kunang-kunang di kota lama. Kampung Pondok Padang, sebagian besar dihuni komunitas Tionghoa itu, seperti bersolek.

Wewarna merah dominan. Berpendar-pendar kilauannya. Bau hio pun menyeruak hidung. Langit tak kelam. Ada bebintang bercahaya tipis. Remajaremaja tampak sumbringah. Dari atas motor, mereka saling menyapa.


Di pusat aktivitas kawasan bisnis ini, suasana kemeriahan kian kental terasa di Tempat Ibadah Tridharma/Kelenteng (TITD) Kampung Pondok, Minggu (22/1) malam. Tempat ibadah itu semakin dipadati oleh warga Tionghoa yang ingin sembayang.

Selain itu, terlihat juga non-Tionghoa menikmati kemeriahan Imlek tersebut. Tak jauh dari kawasan tempat ibadah itu, tampak jejeran pengemis yang berharap memeroleh rezeki dari angpau yang dibagikan setelah komunitas Tionghoa
itu bersembahyang.

Pemandangan ini sudah menjadi hal yang lumrah. Setiap perayaan Imlek, jumlah pengemis tidak berkurang, malah kian banyak. Meraka berharap secercah harap, dari para warga Thionghoa yang datang.

Sudah rahasia umum, apabila ada perayaan-perayaan agama yang dilakukan oleh warga Thionghoa, biasanya mereka membagi- bagikan angpau, membagi rezeki kepada para pengemis, serta bermurah hati kepada pedagang.

Malam yang penuh berkah,begitulah para Pecinan memaknai malam Imlek itu. Tetapi, tanpa mereka sadari pegantian tahun itu juga merupakan hari yang sangat
penting bagi Ujang, seorang pengemis.

Tapi Ujang tidak sendiri. Ia hadir malam itu untuk mendapatkan angpau bersama puluhan
pengemis lain. Menurut pengakuannya, ketidakmampunnya untuk melihat, membuat Ujang harus melakoni aktivitas meminta-minta agar ia bisa hidup bersama keluarganya. Kendati ia harus menekan rasa malunya demi bertahan hidup. Sebelum jadi pengemis, ia sempat bekerja serabutan. Kini, mengemis telah menjadi pilihan hidupnya.

Pada hari-hari biasa, ia mengemis di Pasar Raya Padang, dan di beberapa jalan yang ada di Kota Padang. Biasanya ia didampingi kawannya sebagai penuntun jalan. “Kadang rasa malu memang datang mendera, tetapi apa mau dikata, kita juga butuh hidup. Jadi, saya harus menepis jauh-jauh rasa itu, jika ingin tetap bertahan dan memperoleh rezeki,” ungkapnya.

Ninik, salah seorang penegemis, datang dengan putrinya yang masih kecil. Sambil menyusuai anaknya, ia duduk di Gerbang Kelenteng tanpa beralaskan apapun. Bagianya, keramain semacam ini momen penting mendapatkan rezeki. Padahal, ia sendiri mengakui aktivitasnya sehari-hari tidak sebagai pengemis, biasanya ia berjulan kecil-kecilan di Pasar Raya Padang. Keramaian di Kelenteng dan angpau telah negundangnnya untuk datang.

Tidak seperti halnya Ujang dan Ninik, yang mengharapkan rezeki dari belas kasihan orang lain. Uan lebih senang menghidupi keluarganya dengan keringat, buah dari ushanya. Keramaian di Kelenteng pada malam itu, memang dimanfaatkannya, tetapi tidak dengan cara meminta-minta. Pagi-pagi benar ia sudah berangkat dari kediamannya di Gunung Pangilun Padang, untuk menangkap ratusan burung-burung.

Burung-burung itu ia tangkap di sawah kawasan Balimbing, dengan menggunakan jaring khusus, yang ia buat sendiri. Menurutnya, semua itu dilakukan demi menghidupkan anak istri, dinginnya udara pagi tak ia hiraukan.

“Alhamdulillah, sebelum matahari terbenam saya sudah dapatkan empat ratus burung gereja. Semuanya saya bawa ke Kelenteng ini,” katanya. “Saya juga tidak tahu persis apa makna yang tersirat dari kebiasan orang-orang Thionghoa itu, mereka sengaja membeli burung-burung yang kami tangkap, untuk mereka lepaskan kembali. Sepertinya, mereka memiliki kepuasan tersendiri setelah melepas burung-burung yang telah mereka beli itu,” tambah Uan.

Biasanya, Uan menjual satu ekor burung dengan harga seribu rupiah. Tetapi harga tersebut tidak baku. Terkadang, untuk satu sangkar yang berisi 50 ekor burung dihargai lebih daripada yang semestinya. Tetapi juga tidak jarang dihargai hanya dengan harga sekadarnya. “Tergantung niat mereka saja, yang penting burung-burung yang saya jual habis,” jelasnya.

Uan hanya berjulan burung pada pada jadwal sembayang, atau ada acara-acara khusus seperti Imlek. “Waktu sembayang tidak menentu, kadang dua hingga tiga kali dalam sebulan. Salain itu, saya juga mengerjakan pekerjaan yang lain, yang penting halal dan tidak meminta-minta,” katanya.

Malampun semakin larut, warga Thionghoa dan masyarakat pun satu persatu telah meninggalkan tempat peribadatan itu. Ujang, Ninik, dan yang lain pun berkemas, bersiap siap untuk pulang. (Laporan Rahmat Hidayat).

Minggu, 05 Februari 2012

MOMENTUM UNAND BERBENAH

Jumat, 03 Februari 2012 03:34

Tiga hari terakhir, suasana kampus di Universitas Andalas cukup tegang. Ratusan mahasiswa terancam dikeluarkan dari lingkungan kampus karena selama empat semester Indeks Prestasi Kamulatif (IPK) di bawah 2.00.

Menurut versi Rektorat mahasiswa yang akan dikeluarkan jumlahnya mencapai 156 mahasiswa, sedangkan versi mahasiswa berjumlah 198 mahasiswa.

Keputusan Rektor yang tertuang di dalam Surat Edaran No 655/UN16/PP/2012 perihal DO (drop out) mendapat “perlawanan” dari mahasiswa dengan melakukan aksi unjuk rasa. Sementara, pihak rektorat sendiri, bergeming. Tetap kepada keputusan untuk menjalankan surat edaran itu. Rektorat telah menetapkan batas akhir pengurusan surat pindah mahasiswa yang terancam DO itu pada Jumat (3/2) ini.

Kita bersetuju aturan ditegakkan demi ketertiban dan kelancaran jalannya proses pendidikan di lingkungan kampus Unand. Dan kita tak bisa pula menutup mata, setiap aturan yang diterapkan, tentu ada konsekuensinya. Menjalankan aturan DO itu jelas memiliki dampak besar terhadap “hak” memperoleh pendidikan setiap anak bangsa di negeri ini, kendati mereka diarahkan untuk masuk perguruan tinggi swasta atau negeri lainnya.

Menurut mahasiswa, anjloknya IPK mereka sebagian besar karena problem sistem online dan portal yang diterapkan. Secara teknis, mahasiswa sering dirugikan. Selain itu, peran dan fungsi pembimbing akademik (PA), tentu tak bisa diabaikan begitu saja.

Banyak keluhan mahasiswa, PA mereka tak berperan seperti seorang dosen yang membimbing mahasiswanya. Tetapi perannya lebih banyak hanya “menandatangani” lembaran-lembaran yang diserahkan mahasiswa tanpa memberikan advis dan konseling.

Di sini kita perlu sangat-sangat menyoroti peran PA ini. Ratusan mahasiswa angkatan 2009 yang terancam DO itu, sesungguhnya, kami berpendapat, bukan semata kesalahan dari mahasiswa semata. Banyak faktor penyebabnya. Salah satu mungkin kesibukan para dosen yang mobilitas mengajarnya sangat tinggi. Mengajar di regular dan juga non regular. Sehingga menjadi PA sesungguhnya tak berjalan. Dan mahasiswa yang jadi korban. Maka IPK sebenarnya tak bisa dijadikan patokan untuk melemparkan mahasiswa ke luar kampus.

Kita bersepakat dengan pendapat salah seorang pengajar di Unand, faktor ICT yang dikeluhkan mahasiswa, dosen Pembimbing Akademik (PA) yang hanya tandatangan tanpa memperhatikan perkembangan mahasiswanya, dan sebagainya, merupakan faktor pendukung yang tidak bisa diabaikan.

Selain itu pula, komunikasi antara rektorat, dekan, dan jurusan, serta mahasiswa tampaknya tak berjalan benar. Surat Edaran yang mengeluarkan mahasiswa dari kampus, sesungguhnya bisa didialogkan dan dikomunikasikan secara baik dan terbuka. Tapi, ini tak berjalan. Uji publiknya belum terpenuhi.

Dari berita yang dilansir Haluan, surat edaran pertama yang dikeluarkan Unand terkait proses pindah angkatan 2009 dikeluarkan pada 19 Januari 2012 yang menyebutkan batas akhir mengurus surat pindah pada 26 Januari 2012. Namun diundur sampai 31 Januari 2012 karena desakan mahasiswa, dan Jumat (3/2) ini.

Tolak angsur seperti itu, telah menggambarkan kepada kita bahwa semangat dari surat itu bukanlah harga mati yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Pihak rektorat diharapkan mampu menerapkannya secara arif dan cerdas. Jikapun dipaksakan, masalahnya akan panjang. Tak ada masalah yang tak terselesaikan.

Masalah ancaman DO ini memang telah meluas. DPRD Sumatera Barat telah mencoba menengahi, kendati gagal menurunkan petinggi Unand dari menara gading di Kampus Limau Manih itu. Gagal digelar pertemuan yang dijadwalkan pada Rabu (2/1) lalu.

DPRD berpendapat masih banyak cara lain untuk menyelesaikan persoalan ini, misalnya dengan adanya semester pendek.

Dari penelusuran Haluan, sebagian mahasiswa Unand mengeluhkan hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak, kenyamanan dalam menjalankan pendidikan tidak didapatkan mahasiswa. Pihak Unand harus merespons ini sebagai masukan penting dari mahasiswa.

“Pihak rektorat sebaiknya membereskan dulu sistem portal sampai pada cara pembimbingan akedemik dengan baik. Sebab, ini sistem berantai. Persoalan akademik mahasiswa tidak berhak diputuskan oleh pihak rektorat saja, sebelum diketahui pembimbing akademik (PA) mereka.” Begitu mahasiswa mengkritisi kampusnya.

KEADILAN DIBALIK DO RATUSAN MAHASISWA UNAND

Ratusan mahasiswa Universitas Andalas (Unand) menuntut keadilan. Mereka melakukan unjuk rasa di Gedung Rektorat Unand, Senin (30/1) dan Selasa (31/1) di Kantor DPRD Sumbar di Jalan Khatib Sulaiman, Padang. Mahasiswa yang tergabung dalam Forum Musyawarah Unand (Formus Unand) tersebut meminta agar keputusan rektor men-drop out mereka ditinjau ulang, bahkan dibatalkan.

Menurut Rektor Unand Dr Werry Darta Taifur, SE. MA, jumlah mahasiswa Unand yang terancam DO sebanyak 156 orang. Keputusan rektorat itu tertuang di dalam Surat Edaran No. 655/UN16/PP/2012. Keputusan DO dikeluarkan karena selama empat semester nilai indeks prestasi komulatif (IPK) mahasiswa yang bersangkutan selalu di bawah 2.00.

Sedangkan versi Formus Unand, jumlah total mahasiswa yang terancam DO sebanyak 198 orang. Sebagian besar mahasiswa Fakultas Teknik. Koordinator aksi, Aulia Rizal mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk penolakan dan kekecewaan atas kebijakan yang menghakimi mahasiswa. Menurut Aulia, rektorat Unand meminta mahasiswa yang nilai IPK selalu di bawah 2.00 selama empat semester untuk pindah kuliah ke kampus lain. Jika tidak, maka akan di-DO.

Formus Unand menilai pihak kampus ikut perperan menyebabkan nilai IPK mahasiswa rendah. Ada lima kelalaian pihak kampus yang sangat merugikan mahasiswa. Pertama sistem Portal dan ICT Unand yang masih kacau, sehingga banyak nilai mahasiswa yang ganda dan tidak dibagi dengan baik. Kedua, sarana dan prasarana dalam perkuliahan tatap muka dan pratikum sangat minim. Keterbatasan sarana transportasi ke kampus juga dikeluhkan.

Ketiga, doses pembimbing akademik (PA) tidak begitu peduli dengan perkembangan akademik mahasiswa. Keempat, sistem remedial belum diterapkan di seluruh fakultas kecuali di FMIPA, dan kelima jadwal kuliah yang sering dempet. Akumulasi dari semua itu menyebabkan capaian hasil kuliah sebagian mahasiswa tidak maksimal.

Rektor Unand Werry Darta Taifur mengatakan sebelum merealisasikan kebijakan DO, pihak universitas sudah memberitahukan kepada mahasiswa semester lalu. Werry mengklaim keputusan pihak kampus sudah bijaksana. Menurutnya, pihak kampus tidak langsung men-DO mahasiswa, hanya menyuruh kepada mahasiswa yang memiliki IPK di bawah 2.00 agar mengurus surat pindah dan mencari universitas lain untuk melanjutkan studi.

Langkah itu diambil untuk menyeleksi mahasiswa yang benar-benar serius dalam menuntut ilmu dan menyeimbangi input dan output mahasiswa di kampus Unand. Sebab, input dengan output mahasiswa Unand tidak sebanding. Yang masuk sangat banyak, sedangkan yang keluar sedikit. Setiap tahun Unand harus mengurangi jumlah penerimaan mahasiswa karena mahasiswa senior masih banyak yang belum menuntaskan perkuliahan.

Kebijakan ini diambil bukan tanpa pertimbangan. Jika dalam empat semester saja IPK mahasiswa itu masih di bawah 2.00, pasti akan sulit untuk mengejar perkuliahan dan akhirnya mereka terpaksa menempuh perkuliahan lebih dari empat tahun. Werry menyebut bahwa pihak kampus justru memberikan solusi bagi mahasiswa terkait agar bisa menyelesaikan studi, meskipun di kampus lain, bukan kampus Unand.

Untuk mencegah terjadinya DO lagi, Werry mengimbau seluruh orang tua mahasiswa untuk terus memonitor anaknya dan jangan hanya menyerahkan segala urusan akademik dan pengembangan diri anak kepada pihak kampus.

Tidak puas dengan tanggapan Rektor Unand, para mahasiswa pun melanjutkan aksi unjuk rasa ke DPRD Sumbar, Selasa (31/1). Mereka meminta agar DPRD Sumbar menyampaikan aspirasi mereka kepada Rektor Unand untuk membatalkan keputusan DO yang dijatuhkan terhadap mereka. Anggota Komisi IV DPRD Sumbar Sukriadi Syukur berjanji akan mengundang Rektor Unand untuk berdialog dengan anggota dewan, Kamis 2 Februari 2012 untuk membahas persoalan ini.

Mengingat kampus adalah ruang ilmiah, tempat tumbuh suburnya proses diskusi, demokratisasi dan perubahan, maka seyogyaanya aspirasi mahasiswa tersebut ditampung, dibahas, dipelajari dan dipertimbangkan sebelum diputuskan dengan sebaik-baiknya. Sistem dan aturan di kampus mesti ditegakkan. Di sisi lain, proses penjalanan sistem dan aturan itu juga perlu dievaluasi.

Ketika sistem dan aturan kampus belum berjalan sebagaimana mestinya, sebagaimana lima poin yang dikeluhkan mahasiswa, maka kurang adil kiranya jika vonis DO dijatuhkan kepada mahasiswa yang IPK-nya tidak memenuhi ketentuan yang telah diterapkan kampus Unand. Namun, sepanjang sistem dan aturan telah dijalankan pihak kampus, tugas pokok dan fungsi (tupoksi) juga telah dijalankan sesuai aturan, maka mahasiswa juga mesti legowo menerima keputusan tersebut.

AMUK, NEGERI YANG TAK LAGI RAMAH

Sabtu, 04 Februari 2012 03:57

Prihatin, itulah kata yang paling pas jadi pembuka tajuk rencana ini tatkala kita simak kejadian amuk massa di kantor Bupati Agam Kamis lalu. Bersamaan dengan itu, di Simpang Ampek Pasaman Barat peristiwa serupa nyaris terjadi, kalau saja tidak cepat-cepat ditangani oleh aparat keamanan.

Sebelum itu di Sawahlunto terjadi amuk serupa yang membuat hancur dan terbakarnya Markas Kepolisian RI di Polresta Sawahlunto. Di Maligi, kerusuhan dipicu juga oleh akibat lahan pertanian yang tak beres-beres juga.

Amuk, adalah frasa dalam bahasa Indonesia. Secara etimologis di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dinyatakan dalam salah satu lema (entry) sebagai “kerusuhan yg melibatkan banyak orang (spt perang saudara)”

Tetapi agaknya itu adalah kata yang sangat erat dengan budaya nusantara. Atau boleh jadi sangat ‘indonesia’. Karena dalam kamus bahasa Inggris pun, kata amuk diinggriskan menjadi amok. Jadi dapat ditarik kesimpulan, kalau bukan karena melihat perilaku itu di sepanjang wilayah Nusantara, tentu para penyusun kamus bahasa Inggris tidak akan memasukkan kata amok ke dalam salah satu lema dalam kamus mereka.

Okelah, perkara amuk adalah berkaitan dengan budaya nusantara kita taruh sebagai sebuah catatan saja. Akan tetapi kenapa amuk mesti terjadi bagai tak berkesudahan di negeri ini. Sepanjang Aceh hingga Papua, peristiwa amuk massa sungguh membuat kita miris. Ada kantor gubernur yang dibakar, kampus yang diperakporandakan, markas polisi yang dibumihanguskan, gereja yang dirusak, rumah warga yang dihancurkan. Bahkan tak sedikit yang menimbulkan korban nyawa. Di Maluku hampir tiap sebentar terjadi amuk. Di Makassar, tak boleh dipicu oleh sebab apapun maka serta merta amuk akan terjadi.

Maraknya amuk massa yang disertai dengan kekerasan merupakan akibat dari pemerintah daerah dan Kepolisian yang tidak mampu untuk melihat akar permasalahan dari amuk massa tersebut.

Seperti disebut Koordinator Institut Perdamaian, Ihsan Malik, dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumat (3/2), mengatakan, selama ini baik pemda maupun aparat Kepolisian lebih mengedepankan penyelesaian secara fisik, bukan penyelesaian dengan pendekatan sosial dan kultur yang memiliki akar sejarah.

Ibarat penyakit, baik pemda maupun kepolisian salah dalam mendiagnosa, sehingga berakibat salah pukla dalam penyelesaian masalah. Di sini akan menyebar luas karena terjangkit infeksi eskalasi, salah menganalisis aktor, tidak mampu mengkoordinator aktor, dan stakeholder tidak mempu berkoordinasi.

Maka solusi yang terbaik dari konflik adalah dengan pendekatan sosial atau mengintensifkan melalui dialog bersama. Dengan demikian pula maka fungsi-fungsi yang melekat pada kepolisian kita lebih banyak fungsi Binmas (pembinaan masyarakat) yang dilaksanakan oleh Biro Bina Mitra di setiap Polda. Kalau ini dilakukan maka, polisi tidak lagi seperti pemadam kebakaran yang terlalu reaktif dalam menangani kerumunan massa. Jika Polri seperti pemadam kebakaran maka masalah tidak akan pernah selesai.

Dalam kasus yang banyak terjadi di Sumatera Barat, selain salah paham antarkampung, maka masalah perebutan lahan antara masyarakat dan investor sering memicu konflik yang berakhir dengan amuk massa.

Seperti yang terjadi di Agam, amuk massa itu dipicu oleh ketidakpuasan masyarakat terhadap Pemerintah Kabupaten Agam dalam menyikapi tuntutan masyarakat seputar lahan sawit yang diklaim milik PT Minang Agro. Warga Tanjung Manggopoh juga menuntut pengembalian hak mereka seluas 3.400 hektare lahan yang dicaplok sebuah perusahaan perkebunan, 900 hektare di antaranya milik suku Piliang dan 2.500 hektare milik warga suku Tanjung.

Kemarin sebenarnya sangat dituntut kecepatan bertindak dari Pemda dan aparat keamanan. Saat dialog sudah sudah disepakati bahwa Bupati bersama perwakilan pengunjukrasa akan menemui manajemen PT Muatiara Agam.

Tapi rupanya rundingan itu terlalu lama, sementara warga yang masih bertahan di kantor Bupati Lubuk Basung menjadi tidak sabar. Aparat keamanan juga tidak mengantisipasi dampak keterlambatan itu terlebih dulu. Akibatnya tak terelakkan, warga mengamuk. Ini adalah salah satu masalah lahan yang juga banyak dialami warga dan investor di Kabupaten lain.

Semestinya masalah-masalah itu tidak dipendam begitu saja oleh pemerintah setempat, melainkan harus terus dibereskan supaya tidak lagi menjadi picu amuk massa berikutnya. Agar negeri ini tetap layak disebut negeri yang ramah tamah, remah repah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja, bumi sanang, jaguang maupiah, padi manjadi. ***

"INI PEMBUNUHAN BERENCANA"

TRAGEDI ADIK-KAKAK TEWAS DI POLSEK SIJUNJUNG

Sabtu, 04 Februari 2012 04:11

TRAGEDI ADIK-KAKAK TEWAS DI POLSEK SIJUNJUNG

PADANG, HALUAN—Keluarga korban tragedi tewasnya dua orang adik-kakak di sel Polsek Sijunjung mendesak kepolisian menghukum semua anggota kepolisian yang terlibat atas pembunuhan (alm) adik-kakak, Budri dan Faisal.

Menurut Ides, abang se­bapak beda ibu, hukuman terhadap mantan Kapolsek, Kanit Reskrim, dan Kanit Intel hanya rangkaian dari proses pembunuhan.

“Yang terjadi pada dua orang adik saya jelas pem­bunuhannya terencana,” kata Ides di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang, Jumat (3/2).

Karena itu, sebutnya, semua yang terlibat mesti dihukum. Keluarga, punya bukti. Misalnya, jenazah Faisal sudah mengeluarkan aroma busuk terlebih dahulu dibanding Budri. Artinya, jarak kematian mereka tidak bersamaan, seperti yang dikatakan polisi.

Pertemuan yang dihadiri juga mamak korban seperti Bataruddin, Syarial Bandaro Hitam, Pandji Alam, juga ibu kandung Budri dan Faisal itu untuk menyampaikan tun­tutan keluarga atas kematian yang mereka anggap dibunuh tersebut.

Belum Ada Saksi

Pandji Alam, salah seorang mamak korban, mengaku kecewa atas proses pengusutan kasus yang menyebabkan kemenakannya meninggal dunia. Menurutnya, saat Mabes Polri melakukan olah TKP, keluarga tidak dipanggil untuk dimintai keterangan. Hal yang sama juga terjadi saat Komisi III DPR me­lakukan investigasi.

“Kita telah menunggu hingga pukul 20.00 WIB di rumah, tapi tak ada panggilan. Mabes Polri dan Komisi III hanya meminta keterangan dari Kapolsek,” ujar Pandji Alam. Ini disesalkan pihak keluarga yang mengatakan informasi yang didapatkan tim tersebut tak berimbang.

Koordinator Divisi Pem­baharuan Hukum dan Pe­radilan LBH Padang Roni Saputra sebelumnya me­nga­takan, bila ingin mengungkap kasus tersebut secara terang benderang, saksi-saksi lain harus dipanggil.

“Ini untuk mengungkap keseluruhan persoalan,” se­but­nya di Padang, Rabu (2/2) lalu.

Menurut Roni, dalam pe­nye­lesaian kasus Sijunjung, hingga sekarang, baik Mabes Polri maupun Komisi III DPR be­lum satu pun memanggil sa­ksi-saksi dari masyarakat sipil.

Ditinjau dari hukum yang dibebankan kepada tersangka, juga tergolong ringan, yakni Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan. Menurut Koor­dinator Tim Advokasi LBH Padang Deddi Alparesi, pasal tersebut hanya memberikan ancaman pidana berkisar 2 tahun 8 bulan sampai 7 tahun.

“Bila mengacu kepada investigasi kita, pasal yang seharusnya dikenakan 340,” sebutnya. Pasal tersebut tentang pembunuhan be­rencana dengan ancama pi­dana mati atau seumur hidup atau paling lama 20 tahun.

Lebih jauh disebutkan, hukuman yang telah di­jatuh­kan tersebut belum memenuhi rasa keadilan bagi masyarakat.

Kejanggalan

Dari perjalanan kasus ini, Roni Saputra menilai banyak kejanggalannya. Misalnya, korban Faisal, 14 tahun, ia diamankan Darisman, warga Nagari Pamatang Panjang pada 21 Desember 2011, dan di­serahkan langsung pada hari yang sama kepada Polsek Sijunjung. Sesuai dengan KUHP, jelas Roni, maka saat itu juga pihak kepolisian wajib memberikan surat penang­kapan kepada orang tua Faisal.

“Tapi itu tak dilakukan polisi,” kata Roni.

Sama halnya dengan Budri M. Zen, ia ditangkap oleh Polisi Kepolisian Sektor Si­junjung pada 26 Desember 2011 di Kiliranjao. Ber­dasar­kan informasi dari Kopral, bahwa Budri adalah Gepeng. Penangkapan Budri dilakukan setelah sebelumnya ia diminta datang oleh Kopral ke Terminal Kiliran Jao. Budri ditangkap bukan karena tertangkap tangan melakukan pencurian sepeda motor, tidak ada Barang Bukti pada pe­nang­kapan Budri. Budri masih berusia 17 tahun, artinya kepadanya juga berlaku ke­tentuan UU Perlindungan Anak. Tetapi pihak kepolisian tetap melakukan pengabaian terhadap pemenuhan hak-hak Budri sebagai anak.

“Terhadap proses penang­kapan dan penahanan ter­hadap Faisal dan Budri, jelas pihak Kepolisian sudah me­langgar ketentuan dalam KUHAP dan UU Per­lin­dun­g­an Anak,” katanya.

Setelah dikonformasi ke Derisman panggilan Malin, ia tidak pernah menandatangani laporan Polisi No. lp/17/xii/2011/Sumbar/res sjj/sek sjj. Ia hanya menandatangani BAP dengan jumlah 7 (tujuh) rangkap. Selain itu, setelah diperlihatkan tanda tangan yang ada dalam laporan polisi itu, ia menyatakan bahwa itu bukan tanda tangannya. “De­ngan demikian jelaslah bahwa Polisi diduga sudah me­la­kukan pemalsuan tanda ta­ngan Derisman terkait dengan kasus Faisal. Hal ini jelas merupakan tindak pidana yang diatur dalam KUHAP,” papar Roni. (h/adk/yat)

Selasa, 29 November 2011

POLEMIK JIL, IAIN HARGAI DISKUSI ILMIAH

Selasa, 29 November 2011 02:56

POLEMIK JIL

PADANG, HALUAN—Terkait pemberitaan sepekan terakhir yang mengaitkan IAIN Imam Bonjol Padang dengan Jaringan Islam Liberal membuat Rektor IAIN IB Makmur Syarif, Rektor angkat bicara.

Sebelumnya, Selasa (22/11) lalu, Komunistas Epistemik Muslim Indonesia (KEMI) menggelar diskusi bedah buku Pembaruan Pemikiran Islam Indonesia di Aula Fakultas Dakwah, dengan menghadirkan pembicara Moqsith Gazali, salah seorang pentolan tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL).

“Acara bedah buku hanya sebuah diskusi menambah ilmu pengetahuan dan memberikan wacana baru di lingkungan kampus. Di samping itu, keterbukaan sangat diperlukan dalam mengembangkan khazanah pemikiran Islam. Tanpa diskusi ilmiah, ilmu pengetahuan tidak akan berkembang. Terlepas dari pro kontranya, masyarakatlah yang akan menilai,” kata Makmur Syarif kepada Haluan, Senin (28/11).

Ia menjelaskan, tidak ada maksud untuk menjadikan IAIN IB menjadi kampus yang liberal.

“Saya memahami tidak ada istilah liberal, Islam itu satu. Keberagaman cara pandanglah yang membuat sepertinya terjadi perbedaan dalam dunia Islam. Kemerdekaan berpikir sangat dituntut dalam mencerdaskan generasi muda Islam ke depan,” katanya.

Makmur Syarif menambahkan, permasalahan utama yang dialami umat Islam saat ini adalah terlalu fanatik dengan kelompok. Sehingga, sering memonis segala sesuatu itu berdasarkan dengan asumsi dasar pemikiran. Akibatnya, apabila sebuah pemikiran baru datang, beramai-ramai menolaknya. “Padahal belum tentu sesuatu yang baru tersebut salah, bahkan bisa saja gagasan baru tersebutlah yang akan membawa kepada kemajuan.”

Sementara itu, Makmur Syarif menilai tulisan Fachrul Rasyid yang terbit di Refleksi Sabtu (26/11) di Haluan, hanya sebagai sebuah pendapat yang tidak komprehensif. Persepsi itu hanya dibangun dari satu sudut pandang, dan hanya mengambil beberapa kasus, kemudian diangkat dan dijadikan generalisir. Sebagai seorang alumni IAIN IB Fakultas Adab, Makmur Syarif menghargai pendapat Fachrul Rasyid.

“Saya menghargai pendapatnya, mungkin saja ia bermaksud menjaga IAIN IB, tetapi saya menilai pendapat yang ia tulis seperti itu cenderung mendiskreditkan dan tidak komprehensif,” kata Makmur.Menurutnya menjadikan IAIN sebagai UIN merupakan sebuah cita-cita yang harus diwujudkan. Dengan diintegrasikannya pendididkan agama dengan umum, keselarasan pendidikan akan terjadi. Sudah banyak bukti yang memperlihatkan diubahnya IAIN menjadi UIN akan memperoleh sebuah kemajuan.

“Kita tidak perlu terjebak dengan opini yang dikembangkan oleh sebelah pihak. Mari kita berkerja sama, dan mendukung setiap program yang akan memajukan IAIN Imam Bonjol Padang,” imbuhnya.(h/yat)

JADIKAN 1 MUHARAM MOMEN PERBAIKAN DIRI

Senin, 28 November 2011 02:25

AMRI MANSYUR

“Tahun baru Hijriah merupakan moment yang perlu dimanfaatkan umat islam untuk memperoleh rido Allah dalam menempuh kehidupan,” kata Amri Mansyur pembantu Rektor Tiga Universitas Baiturrahmah Padang kepada Haluan, Jum’at (26/11) lalu.

Di samping sebagai dokter gigi, Amri Mansyur juga aktif dalam dunia dakwah di Su­matera Barat. Nuraninya ter­gerak karena melihat realitas masyarakat Islam, yang sudah tidak lagi mencerminkan sebagai khirul ummah (umat yang terbaik).

“Umat Islam menjadi khu­irul ummah berabad abad lamamnya, dari zaman Ra­sullah hingga Khilafah Us­manih pada tahun 1924. Ke­mulian itu didapat karena umat ini ta’at kepada perintah Allah, dan kehidupannya diatur me­lalui ajaran Islam, se­be­bagai­mana firman Allah dalam surat Ali Imran 103 yang artinya, Dan berpeganglah kamu se­muanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mem­persatukan hatimu, lalu men­jadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang ber­saudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu men­dapat petunjuk,” ungkap Amri Mansyur.

Baginya, pergantian tahun bukanlah hal yang mesti di­rayakan. Tetapi, bagaimana seharusnya menyikapi per­gantian tahun demi tahun tersebut. Dalam pandangannya, sudah selayaknya umat Islam sadar bahwa kita sekarang berada dalam perang pe­mi­kiran (ghozul fikri).

Tidak sedikit dari kita yang kalah dari pertempuran pe­mikiran itu. Buktinya, telah banyak dari kalangan cen­dikiawan kita memilih cara pandang barat dalam berfikir, dan menjalani hidup. “Bukan kita anti barat, tetapi ada hal-hal tidak bisa dicampurdukkan. Perkembangan ilmu penge­tahuan sience bisa diam­bil. Tetapi, cara pandang ke­hi­dupan, berprilaku, ber­pakaian, tidak bisa diterima karena ia adalah buah paradapan dan ideologi yang bertentangan dengan akidah,” katanya.

A­mri menambahkan, Ma­lalui 1 muharram, mari kita bersama-sama menginstropeksi diri, jika tidak Allah akan menimpakan azab kepada kita, dan mengganti kita dengan umat yang lain. Selain aktif dalam dunia pendidikan, buya Abi mansur sekarang aktif di Front Masyarakat Pembela Islam (FMPI).(h/yat)

Kamis, 24 November 2011

IAIN IB DIJAMAH JIL

Rabu, 23 November 2011 03:49

BEDAH BUKU KEMI

PADANG HALUAN — Bedah buku yang diselenggarakan Komunitas Epistemik Muslim Indonesia (KEMI), di aula Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang, Selasa (22/11), berjalan menarik, dan mengundang banyak komentar dari pihak civitas akdemika IAIN Sendiri, maupun dari luar lingkungnan kampus.

Acara dapat menyedot masa yang cukup banyak. Karena menghadirkan Moqsith Ghazali, yang dikenal sebagai tokoh Jaringan Islam Liberal, tampil sebagai pemateri tunggal.

Muqsith Gahazali menjelas­kan, kelemahan umat Islam saat ini selalu mengaitkan apapun dengan masa lalu. Ia berpendapat, mulai menjamurnya gerakan-gerakan konservatif dalam beraga­ma, akan menyebakan umat mengalami kemunduran kerena sifat jumud dalam beragama. Contohnya, penegakan agama menjadi dasar bernegara.

Salah seorang aktivis maha­siswa Fakultas Syari’ah IAIN IB, Adi kurniawan berpedapat, leberalisasi akan menjadikan agama tidak sakral lagi. Kebe­naran Islam akan menjadi relatif, hal tersebut akan menimbulkan kebimbangan dalam beragama.

Dia menambahkan, mema­hami Alquran dengan cara pan­dang liberal, akan memasung agama Islam menjadi sekedar informasi kajian intelektual, yang tidak perlu ada komitmen terha­dapnya. Padahal, agama Islam merupakan sebuah ajaran yang komplek, dan harus diterapkan dalam kehidupan umat. Baik secara individu maupun dalam bernegara, seperti yang dicon­tohkan Rasulullah.

Dekan Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang,Alkhendra turut hadir Dalam pertemuan mengatakan, setiap orang bisa-bisa saja berpendapat, tetapi jangan sampai sebuah kayakinan yang kita pahami malah menam­bah kebi­ngungan di tengah-tengah umat.

“Masyarakat kita sekarang ini butuh kesejahteraan, terlepas dari kemiskinan, bukan teori-teori yang masih mengawang. “Supaya tidak terjadi pertentangan yang lebih mendalam antara pihak JIL, dengan kelompok yang dimak­sudkan konservatif dalam bera­gama itu, ada baiknya kita saling berempati satu sama lain,” katanya.

Semetara itu, Irfianda Abidin ketua Komite Penegakan Syari’at Islam Sumbar, menyayangkan kedatangan pentolan Jaringan Islam Liberal tersebut di IAIN Imam Bonjol Padang.

Dikatakannya, umat Islam pada saat ini memang hendak diliberalkan dalam seluruh aspek kehidupan. Mulai dari keyakinan, berprilaku dan berfikir. Target utamanya adalah menye­barluas­kan ideologi sekuler kapitalis.

Akktor liberal cukup bera­gam, mulai dari kalangan itelek­tual yang belajar di dunia barat, para pejabat di birokrasi, bahkan ada dari kalangan guru agama. Gerombolan liberal juga me­nyerang ide-ide tentang pene­gakan Syariat Islam. Mereka mengambarkan kepada masya­rakat, syariat Islam itu meru­pakan peraturan yang tidak patut diterapkan, membuat opini publik dan menawarkan ide-ide plural­nya, sehingga gagasan mereka tersebut dapat diterima masyarakat.

“ Menurut saya acara ini membahas masalah yang sangat sensitif, seharusnya KEMI juga mengundang kalangan yang mem­perjuangakan Syariat Islam, sehingga ada perimbangan. “Kami dari KPSI siap jika pihak JIL mau berdialog. Saya berharap para petinggi IAIN Imam Bonjol Padang, menjaga Perguruan Tinggi Agama yang kita bangga­kan ini, tidak dicemari oleh gagasan-gagasan liberal,” tandasnya.

Acara di hadiri civitas akade­mika IAIN Imam Bonjol Padang, dan beberapa tokoh ormas sekota padang. buku yang berjudul pembaharuan pemikaran Islam Indonesia merupakan buku yang dibedah, sebagai tawaran dalam membangun kehidupan beragama dan berbangsa menjadi lebih adil, harmonis, dan bermartabat sesuai tuntutan kekinian. (h/yat)

JANGAN TAKUT DIKEMOTERAPI

Kamis, 24 November 2011 02:17

IRZA WAHID

Setelah bertahun –tahun Men­jalani profesi sebagai dok­ter penyakit dalam, mem­buat Dr Irza Wahid Sp.PD mengerti, betapa besar nik­mat sehat dalam kehidupan. Namun dia menyayangkan karena masih banyak dari kalangan Indonesia tidak terlalu peduli dengan kese­hatan.

Akibatnya, bermun­cu­lanlah berbagai macam pe­nyakit. Salah satu penyakit yang menjadi momok mena­kutkan pada pe­riode seka­rang adalah kanker. Dari tahun ketahun kasus pen­derita kan­ker terus meningkat.

Menurutnya, dalam pena­talaksanaan pengobatan kan­ker, meliputi disiplin ilmu yang kompleks, tergantung bagai­ma­nan tingkat stadium yang di­derita pasien. Ada pasien yang harus dioperasi, bahkan mem­buang sebagian dari ang­go­ta tubuhnya. Cara ini dilaku­kan bagi pasien yang memiliki jaringan sel-sel kanker yang ga­nas. Ada juga yang tidak per­lu operasi dalam pengo­ba­tannya.

Salah satu dari sekian ba­nyak prosedur pengobatan kanker adalah kemoterapi. Memang, kemoterapi banyak disalahartikan masyarakat. Ketakutan para pa­sien terhadap kemoterapi, mem­buat mereka enggan mengikuti po­rsedur tersebut. Padahal, kemoterapi merupakan bagian yang amat penting dari pengo­batan pen­derita tumor maupun kanker.Kepada Haluan Irza men­jelaskan, dalam pengertian yang paling umum, kemoterapi adalah pengobatan penyakit dengan mamasukkan bahan kimia melalui pembuluh darah, untuk mem­bunuh mikro-orga­nisme atau sel-sel kanker.

“Kemoterapi memang me­miliki efek samping, ia mem­bunuh sel yang membelah de­ngan cepat, salah satu sifat-sifat utama sel-sel kanker. Ini berarti bahwa itu juga meru­gikan sel yang membelah dengan cepat yang lain, seper­ti sel-sel di sumsum tulang, saluran pencernaan maupun sel-sel rambut, dalam pro­sesnya pasien akan mual, muntah, kehilangan selera makan, kehilangan berat ba­dan,” katanya.

Tetapi janganlah takut, kemoterapi bukanlah akhir dari segalanya. Efek-efek yang dirasakan tersebut hanya bersifat temporal tidak per­manen. Ini artinya, jika pasien sudah menyelesaikan pengo­ba­tan kemoterapi setelah be­berapa kali, pasien yang bersangkutan akan kembali kepada keadaan sediakala.

Yang sangat disyangkan adalah, para pasien penderita kanker yang tidak mengikuti kemoterapi. Ini artinya, mereka tidak mengikuti SOP pengo­batan, akibatnya, sel-sel kanker tidak habis, akibatnya bisa saja menim­bulkan sel-sel jaringan Kanker yang baru. Untuk itu, para pasien tidak­lah perlu takut dengan kemo­terapi, karena kemoterapi ha­nya salah satu dari rangkaian proses pengobatan bagi pen­derita kanker.

Saat ini, Dr Irza Wahid SpPd bertugas di RS M. Damil Padang, dan sebagai ketua Perhimpunan Hermatologi Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia Cabang Padang (PERHOMPEDIN). (h/yat)

Kamis, 17 November 2011

ANAK BUTUH PERHATIAN LEBIH

Kamis, 17 November 2011 02:39

PADANG, HALUAN — Banyak sekali anak yang tidak patuh, dan bersikap tidak hormat kepada para orang tuanya. Fenomena seperti ini mudah sekali ditemukan, tidak jarang anak melawan orang tuanya sendiri dengan alasan yang sebenarnya tidak tepat.

Menurut dr Amel Yanis SpKJ, Dokter Spesialis Kejiwaan di RS M. Djamil Padang dan Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, pada dasarnya, terben­tuknya sikap tersebut juga sangat besar dipengaruhi oleh ling­kungan.

“Sebetulnya, dalam hubungan pengaruh dan mempengaruhi, terlihat bahwa anak dalam per­kem­bangan dirinya, memperli­hatkan sifat-sifat yang tertuju pada lingkungan. Maksudnya, lingku­ngan menerima sifat tersebut dan anak memperlihatkan reaksi sifat-sifat dasarnya.

Perkembangan pesat di bidang teknologi merupakan salah satu faktor dalam mempengaruhi pribadi anak. Menjamurnya inter­net, ditambah lagi dengan tonto­nan di media eloktronik, melengkapi semua faktor eksternal yang turut mempengaruhi sikap anak,” paparnya.

Dikatakan dia, perubahan lingkungan tersebut memberikan rangsangan pada anak, yang sangat berpengaruh terhadap perkem­bangannya khususnya perkem­bangan sikap dan pembentukan kepribadiannya.

Amel menjelaskan, ada bebe­rapa hal yang harus di perhatikan, dan dilakukan para orang tua, jika anak mereka sudah mulai menam­pakkan sikap tidak hormat kepadanya.

Pertama, Memberikan perhati­an yang lebih kepada anak. Perhatian akan membuat anak merasa lebih dicintai dan dihargai. Terkadang, para orang tua meman­dang remeh sebuah pertanyaan kepada anak. Seandaikan mereka tahu, sebuah pertanyaan yang dilontarkan dengan penuh rasa kasih sayang sangat berpengaruh kepada anak.

Kedua, memberikan keperca­yaan. Jika dikategorikan, anak yang berada pada usia remaja merupakan masa yang sangat sulit diperhatikan, dan rentan dengan pengaruh lingkungan.

“Kepercayaan yang diberikan kepadanya akan membuat ia lebih hormat kepada orang tuanya, dengan catatan kepercayaan harus diiringi pengawasan dari orang tua,” katanya.

Ketiga, selalu bersikap konsis­ten dihadapan anak. Biasanya, tanpa sepengetahuan orang tuanya, mereka melakukan penilaian terhadap orang-orang disekeliling­nya, pun hal tersebut dilakukan kepada orang tuanya.

Dikatakannya, berlaku kon­sisten dan tepat janji akan mem­buat anak merasa nyaman dan bangga kepada orang tuanya. Sebaliknya, jika orang tua tidak tepat janji dan tidak konsisten dalam bersikap, hal tersebut akan menghilangkan kewibawaan orang tua kepada anak.

“Pada prinsipnya, berikanlah perhatian kepada anak sehingga ia merasa nyaman berada dekat dengan orang tuanya,” terangnya. (h/yat)

HTI SUMBAR TOLAK KEDATANGAN OBAMA

Kamis, 17 November 2011 03:26

PADANG, HALUAN — Ratusan massa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Sumatera Barat menggelar aksi tolak kedatangan Obama di Gedung DPRD Provinsi Sumatera Barat, Rabu (16/11).

Setelah dilakukan di beberapa kota besar yang ada Indonesia, aksi tersubut dilajutkan ratusan massa Hizbut Tahrir Sumbar demi menguatkan opini publik

Dengan mengangkat tema tolak Obama, tolak Kapitalisme dan Imperialisme, tegakkan Syariah Khilafah ratusan demonstran me­nyampaikan aspirasi mereka.

Ketua HTI Sumbar, Rozi Saferi berpen­dapat, Amerika Serikat jelas memiliki kepentingan di kawasan ASEAN, Indonesia yang menjadi Core State, tentu memiliki nilai penting bagi mereka. Sebagai Negara eksportir minya dan gas terbesar di asia tenggara, Amerika Serikat harus memiliki hubungan yang baik dan stabil dengan Indonesia. Bagaimanapun tingkat kebutuhan energi Amerika sangat tinggi, dan Indonesia meru­pakan salah satu sumber pemenuhan tersebut.

“Kapitalisme global telah menjerat Negara –negara berkembang masuk dalam perangkap mereka. Hingga Negara-Negara tersebut terjebak dalam lilitan hutang yang tidak akan habis–habisnya. Semua itu makin mem­perlihatkan ambisi mereka untuk mengukuhkan dominasinya di Negara-Negara tersebut,” katanya.

Sebelum mendatangi gedung DPRD Provinsi Sumatera Barat, para demontran berkumpul di Mesjid Raya Al-Azhar Air Tawar Padang, aksi dimulai dengan berjalan kaki tepat pukul 14:00 WIB menuju gedung DPRD Sumbar. (h/yat)

Rabu, 16 November 2011

BELAJAR DARI PENDIDIKAN JEPANG

Rabu, 16 November 2011 02:07

HABIBUL FUADI

Perjalan dua minggu tersebut merupakan pengalaman yang sangat berharga baginya, me­nelusuri beberapa sekolah kota di Jepang. Raut wajahnya nan cerah menyambut Haluan di kediamannya Komplek Cen­dana Lubuk Buaya.

Dia adalah salah satu dari orang enam orang Indonesia yang beruntung mengikuti pelatihan yang diselengarakan oleh Jepan International Cor­porate Agency (JICA), sebuah lembaga Internasional Jepang, yang konsen dalam pem­be­nahan pendidikan.

Habibul Fuadi dan ka­wannya berangkat tanggal 8-22 Oktober lalu untuk di training, mereka kuliah bersama para pakar pendidikan Jepang, diberikan penjelasan dan diajak berkeliling pada tujuh sekolah ternama yang ada di jepang, terkait bagaimana Jepang menerapkan sistem pendidikan.

Saat ini, Program yang dijalankan JICA sendiri sudah jalan tahun ketiga, kerjasama tersebut terjalin antara Jepang dan Negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Menurut Habibul Fuadi, program Listen Study yang di terapkan pada pendidikan Jepang, merupakan kunci yang membut pendidikan mereka dapat berkembang dengan cepat. Listen study merupakan salah satu program yang dapat disebut dengan managemen hak belajar setiap murid.

Maksudnya adalah, setiap guru wajib memberikan per­hatian khusus bagi setiap murid, dengan memantau setiap per­kembangannya. Guru di­wa­jibkan mengamati murid-muridnya, mencari tahu apa­kah murid tersebut sudah belajar sesuai dengan harapan, atau masih belum memenuhi kriteria yang diharapkan.

“Selama saya berkunjung ke beberapa sekolah Jepang, para guru memang lebih men­dorong siswa agar aktif ber­diskusi dengan siswa yang lain, cara ini lebih dikenal dengan sebutan Colaboratif Learning. Para guru hanya lebih dite­kankan memperhatikan per­kembangan siswa,” katanya.

Di SMP Ushiko Johnam Tokyo, bahkan telah me­nerapkan Community Lear­ning. Maksudnya ada­lah, pada waktu-waktu tertentu proses belajar mengajar antara guru dan murid dapat dilihat oleh para wali murid, dan siapa saja yang berkeinginan melihat. Bahkan, pihak sekolah mengun­dang secara khusus para orang tua murid pada hari itu.

Semua dikelola oleh pihak sekolah, dari mulai program pembelajaran hingga makanan yang dikomsumsi oleh para siswa ketika istirahat. “ Saya tidak menemukan di sana jajanan lepas seperti di sekolah-sekolah kita disini. yang paling mengesankan bagi saya, dan kawan-kawan selama ber­kunjung di sekolah-sekolah jepang tersebut adalah, ter­jalinnya kedekatan antara murid dan gurunya. Ungkap Habibul Fuadi.

Dalam training tersebut, dari enam orang peserta In­donesia, Ikut bersamanya Darmalis kepala sekolah SMP 1 Padang, sebagai kawan yang mewakili peserta dari wilayah Indonesia bagian barat.

Mengawali karir sebagai guru Biologi, Habibul Fuadi Kini menjabat sebagai Kabid luar sekolah pada Dinas Pen­didikan kota Padang.(h/yat)

Selasa, 15 November 2011

PULUHAN SISWA SMA ADABIAH KESURUPAN

Selasa, 15 November 2011 02:25

PADANG HALUAN—Ratusan civitas akdemik Adabiah yang sedang mengikuti proses belajar mengajar, dikejutkan dengan puluhan siswa yang mengalami kesurupan.

Esto, salah saeorang murid yang berada di tempat kejadian mengatakan, peristiwa tersebut terjadi antara pukul 09:00 WIB hingga pukul 11:00 WIB. Kejadian berawal ketika seorang siswi SMA meronta-ronta. Orang-orang dilingkungan sekolah tidak menyangka, bahwa siswi tersebut kesurupan. Setelah didekati, ternyata mata siswa tersebut menunjukkan ia dalam keadan tidak sadar.

Kemudian siswa yang lain memeberitahukan kepada majelis guru dan guru segara menghampirinya. Setelah melihat gelagat tidak normal dari siswa ini, pihak guru langsung memberikan pertolongan. “Tangannya dipegangi teman-teman, tidak beberapa lama, siswa tersebut semakin liar dan meronta-ronta lebih keras,” kata Esto.

Esto menambahkan, karena sudah tidak memperlihatkan tanda-tanda kesadarannya, dan semakin tidak bisa dikendalikan. Siswa tersebut dilarikan ke masjid Yayasan Adabiah, yang berada tidak terlalu jauh dari gedung SMA.

Peristiwa tersebut memancing para siswa SMA Adabiah yang lain histeris. Akbitnya, siswa yang ikut larut dengan kejadian dan malah ikut kesurupan. Seolah seperti virus yang menyebar, dari satu orang siswa, hingga menyebankan puluhan siswa yang lain juga kesurupan.

Karena sudah tidak bisa dikendalikan, akhirnya pihak sekolah memutuskan untuk memulangkan siswa SMA Adabiah pukul 10:00 WIB. Dari sekian banyak siswa yang kesurupan, tidak seorangpun diantara mereka yang laki-laki.

Menurut perhitungan Esto, ada sekitar 25 orang siswi perempuan yang kesurupan, “Saya tidak mengetahui apa penyebabnya. Terakhir, pukul 11:00 WIB, ada seorang yang baru sadar, semua siswa yang kesurupan di obati di masjid sekolah,” katanya.

Sementara itu, Ahong, teknisi yang sudah bekerja tahunan di Yayasan Adabiah, peristiwa kesurupan yang dialami para siswa, memang baru kali ini. Sepengetahuannya, kejadian seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Ia berharap para siswa mendekatkan diri pada Allah SWT. “Kiranya dengan men­dekatkan diri pada Allah, gangguan jin dapat dihindari,” katanya. (h/yat)

MENGENANG 10 NOVEMBER

SUTAN SOFIAN

Walaupun sudah berusia cukup lanjut H Sutan Sofian Idris masih sangat mengingat peristiwa 10 November 1945. Baginya, peris­tiwa tersebut me­rupakan contoh bagi pe­muda saat ini. Atas keberanian para pe­juang, kemerdekaan yang sudah berada ditangan bangsa Indonesia dapat di­per­tahankan.

Sebagai seorang pensiunan militer, dia sangat paham apa yang seharusnya di­lakukan bangsa ini. Baginya, bangsa yang besar adalah, bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya.

Menurut Sofian, terpilihnya Syafruddin Pra­wira Negara, dan Buya Hamka sebagai pahlawan nasional, merupakan berita yang cukup baik. tapi dia menilai, masih bayak tokoh Sumbar yang lain yang juga patut untuk diperjuangkan menjadi pahlawan na­sional.

“Kita memang sudah mulai lupa dengan sejarah, ada bayak hal tidak diketahui masya­­rakat pada saat ini . Pertama dari se­mbilan orang yang merumuskan UUD Dasar 1945, tiga orang diantarnya adalah orang Minang. Antara lain, Muhammad Hatta, Muhammad Yamin, dan H Agus Salim. Arti­nya, 33 persen tokoh sumatera barat me­nyumbang peletakan dasar negara ini.

Kedua, tiga orang penggagas Pancasila, Soharto, M Yamin, Supomo. Dari tiga orang tersebut, satu di ataranya adalah putera Minang. Ini artinya, 33 persen meletakkan dasar idiologi bangsa ini disumbangkan putera Minang. Ketiga. Coba anda katakan siapa pengagas utama teks proklamasi ke­merdekaan Indonesia? “Soekarno dan Hatta”, ini artinya 50 persen dari lahirnaya teks prokla­misi merupakan sumbangan pemuda Minang.

Ketika itu jumlah penduduk Indonesia sekitar 10 juta, dan jumlah penduduk Sumbar kurang dari 1. Dapat disimpulkan, masyarakat Minang yang hanya berjumlah yang minim mampu berkontribusi besar bagi 10 juta penduduk In­donesia.

“Harapan saya, bagi para pemuda, khusunya para pemuda Minang, mari kita kembali mem­balik-balik lagi buku sejarah. Dengan hal tersebut diharapkan mereka paham betapa strategisnya posisi pemuda minang pada zaman perjuangan bagi Indonesia. Saat ini, Sofian Idris meng­habiskan hari tuanya sebagai pengawas di SPBU Suka Indonusa Jl Khatib Sulaiman Padang. (h/yat)

Sabtu, 04 Juni 2011

kpi, hanya kenangan

Rahmat hidayat, panggilan ajo melekat buat dia. Siapa yang tidak kenal gelar ini, dari gelar ini kita bisa menebak asalnya dari mana dia berasal. Ganteng punya ambisi jadi orang sukses dunia akhirat, dan istri inginnya sholehah. ada nggak yang mau daftar,? Memangnya perlombaan.

Icol dianto, eh ini nama atau istilah. Jangan salah lho…ini nama kok, biar agak aneh namanya tapi huebat bisa tamat 3,5 tahun. Dipanggil icol asal dari Sutra, Pessel. Kalau ini orangnya gigih dan bernyali tinggi. Kalau bicara sama dia jangan heran kena bentak, maksudnya suaranya yang lantang, Lahir 10 Maret 1987.

Firdaus bin Musa, Tahu nggak ini siapa. Ini jagonya berlayar didunia maya suka facebookan. Kalau dia sih kosma abadi, doyan mie lagi. Asal muara labuh lahir tanggal 02 Maret 1988.

Jimmi nurmansyah, awas senyumnya menggoda lho. Siapa yang dekat kesambar sama dia. Biar nggak kena godaanya pakai saja kaca mata kuda, becanda kok…! Asal alahan panjang, danau kembar yang ada pariwisatanya itu lho…!

Rahma suwita syaf, kalau ini orangnya anggun, hobi merangkai kata alias nulis. Mulai dari puisi sampai cerpen, kalau ini panggilan negeri asal one. Tahukan panggilan ini biasanya orang mana yang panggil one. Ayo cari tahu, jadi in PR Rumah aja ya…?

Giska Raisya Nensi, ini negeri asal karupuak sanjai mau kirim nggak kalau dia pulang kampung, pasti pada mau , yee..enak aja, Dia wanita ayu, se ayu sabun ayu, Ah promosi nih.

Marliza, nama pendek tapi tidak sependek orangnya, berasal dari bungus, orang yang dingin-dingin adem, eh mangnya udara, nggak lah maksudnya sedikit bicara baca ketawa, he..heee….

Robbi purnama, kayaknya nyanyi wali nih, ya allah…hu ya rabbi, Cuma ditambahin purnama, ini orang sijunjung, dengarlah bahasanya bila bertanya” opo koba ciak, lai boyiak kan? Ontahlah…, khusus cewek jangan begorah dia guanteng dari pada genteng.

Ini jago boxer namun rendah hati, gombalnya bahaya lho…, Jika ingin ketemu sama dia harus siap kena gombalnya, punya jurus penangkal nggak…he…he…asal Riau, punya rasa belas kasih yang tinggi.

Syahidin, Pria punya rasa humor yang tinggi, teman Lokal sering bilang “nggak ada lo nggak rame” Orang medan “HORAS” bicara ngawurnya bikin orang suka ngeledeknya, rambut keriting, tapi dicari sama gadis-gadis, ups maksudnya gadis zaman dulu, sekarang udah jadi nenek-nenek, becanda kok…!

Muhammad paham Rambe, kalau ada kata rambe pasti kita langsung ingat danau toba, and pulau semosir, orangnya teguh pendirian dengan argumennya, biarpun orang akan bilang kamu ini egois, suka ngebut dengan motor, and becanda juiga.

Riki Chandra, kalau dengar bahasa saratuh, duo ratuh pasti kita ingat dari mana dia berasal, apalgi kalau bukan solok tepatnya diselayo, ini jago nyanyi and gitar, suka humor dan jagonya ribut dilokal, tapi bikin orang jadi heppy.

Putra susanto. Biar ada susanto bukan orang jawa lho…namun orang pessel, negeri seribu pasir, gayanya gila abiss sorot matanya yang tajam, bikin wanita kesengsem alias klepak…klepak.

Aan firtanosa, Berasal kerinci jambi, orangnya mudah senyum, tampang kayak orang korea, siapa gadis yang melihatnya rugi kiranya bila berkedip, sedikit bicara itu banyak bertanya itu gayanya bila diskusi.

Mirwan Akbar, berasal dari batam bicara lembut, tapi jangan coba2 kasar bisa kena sihir mataharinya ntar, bila melihat dia sekali pandang, kita akan ingat nama dia saat ketemu dilain waktu.

Jefrizen azizi, ustadz yang teguh pendirian dengan penampilan islaminya, pakai peci kemana pergi, biar mudah dikenal orang untuk dipanggil mengisi pengajian kale…, kalau soal cewek jangan ditanya dia juga jago, mulai bahasa bicaranya yang puitis, juga senyumnya adalah modal utamanya untuk membuat remaja mabuk kepayang.
penulis,
Firdaus bin musa
PADANG, HALUAN- Peristiwa memillukan itu masih teringat jelas dalam memorinya, saat dia menceritakan dengan amat seksama kepada Haluan. beberapa tahun yang silam, Syamsuarlisman tinggal di Propinsi Lampung. Ada Sebuah pengalam yang sangat membekas yang dia rasakan. Hingga, rasa cemas itu terbawa hingga kekota Padang ini.
Tangangannya meraba-raba sebuah aki kecil, sebagai alat pengeras suaranya yang hendak dia matikan, ketiaka ucapan salam Haluan terdengar telingannya. Dengan wajah ramah, dia menjawab salam Halaun. Walapun Haluan tau dia tidak mengetahui siapa yang datang.
Kelebihannya, mampu membaca huruf Arab Braille (Alquran timbul) yang dia dapat dari Jawa. “ Pada tahun 1972 bapak ke Jawa belajar di pusat pendidikan kegunaan tunanetra, atas bantuan biaya dari keluarga,” kata Syamsuarlisman.
Dia adalah seorang penderita tunanetra, yang tak rela menghidupi keluarganya hanya dengan meminta-minta. Suaranya yang indah, serta kemampuannya membaca Al-Qur’an dengan huruf Arab Braille, adalah kelebihan tersendiri bagi Syamsuarlisman. Dengan kemampuan itulah dia memncari rezeki dari Tuhan.
Tepatnya, dia bisanya duduk di depan toko Sari Angrek Padang. sebuah daerah perlintasan yang cukup ramai di Pasar Raya Padang. Tersirat rasa haru ketika Haluan memulai berbicang-bincang dengan Syamsuarlisman.
Namum sayang, pengalaman pahitnya ketika berada di kota Lampung, masih jelas dipelupuk matanya. Hingga rasa itu masih tetap ada ketika berada di kota Padang ini. Ketidak ramahan pemerintah kota Bandar Lampung membuatnya terus hidup berpindah-pindah selama berada disana. “saya bukan pengemis, kenapa saya terus diusik layaknya seorang pengemis jalanan. Saya hanya berusaha mencari penghidupan untuk sesuap nasi, berusaha sesuai dengan kemampuan saya,” keluhnya kepada Haluan dengan mata berkaca-kaca.
Teptnya pada tahun 1997, setelah dia tidak berapa lama tinggal di Bandar Lampung sekelompok orang datang memaksanya untuk naik kesebuah mobil. Didalam mobil itu sudah ada beberapa orang pengemis yang bisa meminta-minta di kota Bandar Lampung. “ hati saya sangat sedih sekali saat itu, seolah-olah orang seperti saya tidak patut menempati kota. Padahal saya tidak menggagu ketertiban umum,” ungkap Syamsuarlisman.
“Selama 20 hari saya ditahan di kantor Dinas Sosial Bandar Lampung. Dengan alasan, saya mengganggu kenyamanan di daerah pasar bambu kuning Bandar lampung. Memang, tempat itu adalah tempat bapak mengaji. dibawah toko-toko yang menjulang. Di emperan toko itulah bapak duduk seperti di kota Padang ini, melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an” jelanya.
Setelah dua puluh hari tahan, dia di bebaskan dan dipulangkan kembali ke sumatera barat. “ bapang merantau kesana, tentunya ada harapan, penghasilan disana lebihlah ketimbang di Sumatera Barat,” Papar Syamsuarlisman
Itulah syamsuarlisman, menjoba Mencari rezeki dengan cara yang halal, Ditengah keterbatasan bukanlah perkara yang mudah baginya. Sifatnya yang tulus, mengaji ditengah terik panas udara kota Padang. berusaha memberikan kesejukan dengan bacaan Al-Qur’nnya indah, adalah bagian dari pekerjaan Syamsuarlisman (63). Yang Haluan temui di kawasan Pasar Raya Padang.
Saat ini, Syamsuarlisman memang masih mengaji di tengah kerumunan orang di kawasan Pasar Raya Padang. dengan harapan peresistiwa yang menimpanya di Bandar Lampung tak terulang menimpa kembali, di negerinya sendiri.
Seperti itulah Syamsuarlisman, tidak seperti penyandang cacat yang lain, dia tetap berusaha berikhtiar tanpa harus memint-minta kepada orang lain. Mengaji ditengah kerumunan orang yang berbelanja di kawasan Pasar Raya Padang. dia duduk dengan sebuah meja kecil, tempat dia meletakkan Al-Qur’an. Dengan bantuan satu Aki kecil dan sebuah mikrofon yang dibawa dari rumah. Dengan itulah Syamsuarlisman melantukan ayat-ayat suci ditengah hiruk pikuk suasanan Pasar Raya Padang.
Pada tahun 1963 dia merantau ke kota Padang, dari kampunnya di Solok. Sampai dikota Padang, Syamsuarlisman tinggal ditempat saudaranya. Selama beberapa tahun dia berpindah-pindah, Dari rumah saudara kerumah saudara yang lain. Hingga, pada tahun 1972 tersebut dia berangkat ke Jawa untuk belajar membaca Al-Qur’an Braille (Al-Qur’an tulisan timbul).
Setelah tiga tahun belajar di Jawa, Syamsuarlisman pulang ke Padang. Dengan Kemampuan yang didapat dari Jawa itulah dia mencari nafkah untuk kehidupannya.dia pernah sempat mengajar orang- orang sesama tunanetra, belajar huruf Braille. Dan sekarang, dia menetap di kota Padang. Tinggal di daerah Koto Marapak, Kec Padang Barat. Di sebuah rumah sederhana yang dia beli dari hasil usaha kerasnya menabung sedikit demi sedikit.
Di usia senjanya, Syamsuarlisman tetap mengaji di kawasan pasar raya Padang. dengan harapanya, permasalahkan yang pernah menimpanya tidak terulang. Karena anggapan mengganggu kawasan pasar. “ Mudah-mudahanlah kejadian yang memilukan itu tidak terjadi kembali. Saya yakin, pemerintahan disini jauh berbeda dengan disana. Justru dikota padang ini saya mengharapkan pemerintah lebih memperhatikan orang seperti saya,” harapnya. “Saya tidak meminta – minta, saya hanya mencari nafkah. Tanpa harus mengadahkan tangan kepada orang lain,” timpalnya lagi.
Penghasilan yang Symasuarlisman tidaklah besar. “ Saya tidak bersedih dengan apa yang saya dapat. Walaupun kecil cukup untuk memenuhi kebutahan saya di hari tua ini,” katanya. Bisanya Syamsuarlisman mengaji dari Pukul 12:00 wib hingga pukul 20:00 WIB. “ Sampai saat ini, saya cukup bangga apa yang saya lakukan. Saya bersyukur dengan apa yang telah saya dapat,” tutupnya.(h/cw25)

Senin, 07 Maret 2011

Peserta Diklat Diasah Pengetahuan Politik Dan Hukum

Padang, haluan – peserta diklaht harian umum haluan dihari ketiga diberikan materi tentang politik dan hukum (26/2), pelatihan dimulai jam 09:00 dikatantor harian umum haluan komplek bandara tabing jl hamka Padang, tampil sebagai pemateri Marzul Very ketua KPU Sumbar dan Rusdi Zen seorang Advokat Sumbar, acara dihadiri 30 orang peserta didik.

Sesi pertama disi dengan materi politik yang dijelaskan oleh ketua Kpu Sumbar Marzul Very, sebagai seorang yang mengerti politik dan dunia perpolitikan beliau menjelaskan peran KPU sebagai tonggak penegak demokrasi yang ada di Indonesia, mengupas fungsi KPU sebagai salah satu elemen penting dalam demokrasi. Pelatihan berjalan lancar dan bersemangat, salah satu statmen penting yang ia lontarkan “demokrasi hendaknya berlandaskan hukum/ sesuai undang- undang” ungkapnya, hal ini disampaikan atas keprihatinan terhadap situasi perpolitikan yang semakin lama semakin terseret kearah arus yang tidak sehat, “KPU tidak bisa berbuat apa-apa karena hanya sebagai panitia penyelengra pemilu” tambahnya. Keterangan yang disampaikan ketua KPU Sumbar ini membuka mata para peserta pelatihan terhadap pentingnya politik yang sehat karena akan berpengagruh terhadap stabilitas Negara, sesi pertama berkhir menjelang zhuhur, peserta diberikan kesmpatan beristirahat untuk sholat dan makan siang.

Sesi kedua dijadwalkan jam 14:00 wib dengan mengadirikan aktif hukum Rusdi Zen, juga berprofesi sebagai advokat dan sebagai pengasuh Rubric konsultasi hukum di Harian Umum Haluan yang terbit pada hari Minggu. pelatihan dimulai tepat jam 14:30 dikarenakan pemateri terlambat hadir, hal ini tidak mengurangi semangat peserta diklat untuk menerima materi yang akan disampaikan seorang Rusdi Zen, sesuai dengan keilmuan yang beliau miliki materi yang disampaikan berhubungan dengan hukum, ia menjelaskan mulai dari fungsi pers dan resiko-resiko hukum yang dapat menjerat seorang wartawan jika melanggar norma-norma baik perdata maupun yang mempunyai unsur pidana. Pengetahun hukum sangat diperlukan seorang wartawan tanpa mengetahui hal tersebut wartawan sangat berpeluang untuk terjerat kasus hukum. Pernytaan menarikpun keluar dari seorang Rusdi Zen “kalau ingin menyembunikan sumber buktikan fakta peristiwa” ungkapnya, yang menambah khazanah pemikiran peserta pelatihan, Rudi Zen juga manyatakan bahwa dalam kasus-kasus terentu suatu peristiwa bias saja dirancang oleh sebuah media atau lembaga yang di exspos kepada public.

Profesi kewartawaannan yang menyentuh ranah umum mengaruskan wartawan kaya dengan pemahaman politik dan hukum karena itu merupakan senjata, uud pers hanya melindungi watawan yang mematuhi kode etik kewartawanan, bayaknya penumpang gelap dalam profesi kewartawaan atau wartawan gelap alias menjadi wartawan tanpa menjalankan kode etik jurnalstik membuat hukum tidak akan pandang buluh kepada siapapun, dikesempatan terakhir Rusdi Zen berpesan untuk menjadi wartawan prounden, “wartawan yang membanggakan”. Acara berakhir tepat jam lima sore ditutup dengan pengarahan yang diberikan oleh pembimbing peserta pelatihan Syamsu Rizal, sempat terjadi diolog tentang beberepa hal yang terkait masadepan peserta pelatihan setelah berakhirnya masa selama tiga bulan hal ini ditanyakan oleh salah seorang peserta yang lansung dijawab oleh syamsu rizal yang cukup membuat peserta puas.(h/dyt)